5 Alasan Kenapa Bus Masih Tetap Jadi Primadona untuk Pulang Kampung





sumber:bandaacehtourism.com
Sudah dapat tiket bus untuk perjalanan mudik kamu di Lebaran tahun ini? Sebagai moda angkutan jalur darat, bus masih menjadi pilihan utama bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya nggak tergusur oleh makin kerennya kereta api dan pesawat. Bahkan bus juga punya fanbase sendiri, terutama dari golongan anak muda yang gemar berkelana. Apakah kamu juga bakal memilih angkutan ini untuk mengantarmu pulang ke kampung halaman? Ketahui alasannya biar makin mantab sebelum membeli tiket bus untuk mudik kamu.

Lebih Fleksibel
Kelebihan bus dibandingkan kereta api, pesawat, atau kapal laut adalah fleksibilitasnya yang sangat tinggi. Lebih sedikit cerita orang tentang pengalaman berebut tiket bus, dibandingkan dengan ketiga moda transportasi lainnya di musim mudik. Setiap rute biasanya dilayani oleh beberapa perusahaan otobus. Jadi kalau yang satu sudah penuh, tinggal pilih yang lainnya.

Bus Jaman Now Makin Keren-Keren


sumber:mediatataruang
Nggak hanya dilengkapi dengan klakson ‘telolet’ yang fenomenal, bus-bus Indonesia juga makin mempercantik diri dengan tampilan mentereng. Sepertinya para pemilik perusahaan otobus sadar bahwa semakin menarik layanan yang diberikan, makin banyak pula pelanggan yang datang. Kursi dibikin senyaman mungkin, dilengkapi pendingin udara, colokan listrik untuk isi ulang baterai gadget, dan kebersihannya terjaga dengan baik. Mereka juga nggak sungkan-sungkan lagi menghadirkan bus buatan terbaru yang dilengkapi dengan mesin bikinan luar negeri yang dikenal tangguh di jalanan dengan harga tiket bus yang lebih bersaing.
Nggak Lagi Berdesak-Desakan Seperti Dulu
Naik bus zaman sekarang nggak lagi se-mengerikan tempo dulu. Sekitar lima sampai sepuluh tahun lalu, mudik pakai tiket bus ekonomi bakal jadi momok. Penumpang terus dijejalkan meski di dalam sudah penuh. Tapi kini bus jadi lebih nyaman dan terbagi dalam berbagai kelas. Mulai dari ekonomi, kelas bisnis, bahkan sleeper bus pun sudah ada di Indonesia.


Harga Tiket Bus Masih Lebih Murah Dibandingkan Angkutan Lainnya



Salah satu alasan utama kenapa bus masih tetap disuka adalah harga tiketnya yang lebih murah dan terjangkau dibandingkan moda transportasi lainnya. Kereta api memang lebih murah, tapi kursinya terbatas dan hampir selalu habis terbeli. Pesawat juga butuh merogoh kocek lebih dalam. Ada lagi yang memudahkan, kini memesan tiket bus tidak harus ke agen atau ke terminal. Kamu bisa memantau harga tiket bus mudik lewat layanan aplikasi Traveloka. Dapatkan informasi lengkap perjalanan dengan bus untuk ke kampung halaman di Traveloka.

Perjalanan Darat Kini Lebih Nyaman Berkat Majunya Infrastruktur
Beberapa tahun lalu, mudik lewat darat itu bikin khawatir. Takut terjebak macet panjang yang bisa bikin kamu terlambat sampai rumah misalnya. Intinya, perjalanan darat dulu kurang efektif. Namun dengan dikebutnya pembangunan infrastruktur jalan oleh pemerintah, khususnya di Pulau Jawa, masyarakat jadi punya banyak jalur alternatif untuk mereka lewati. Kemacetan pun bisa ditekan seminimal mungkin.
Semoga saja mudik di tahun 2018 ini nggak ada lagi keluhan kena macet berjam-jam.
Nggak perlu lagi ragu memesan tiket bus untuk persiapan mudik Lebaran tahun 2018 ini. Kalau terlalu ngebut jangan lupa untuk ingatkan sopirnya. Semoga pulang kampung kali ini semuanya berjalan lancar, selamat sampai tujuan.

Leuser, Destinasi Impian Para Pecinta Alam


Sore itu Palawangan sedang diselimuti kabut. Usai mendirikan tenda saya berkeliling sejenak, menikmati syahdunya lereng gunung Rinjani ini.  Saya mendekati para pendaki lain yang tampaknya sedang melepas lelah. Mereka baru saja tiba.

Saya menyapa mereka ramah. Mungkin, karena kami memiliki hobi yang sama maka hanya butuh waktu singkat bagi kami untuk akrab.

Wah dari Aceh Bang, udah ke Leuser dong,” ucap Bang Eric spontan, seorang pendaki bertubuh tambun asal Bekasi.

Pertanyaan Bang Eric itu membuat saya tertohok. Saya benar-benar tak menduga ia akan bertanya demikian. Ada semacam perasaan malu dalam diri saya. Sebab sebagai orang Aceh, saya bersusah payah menapaki gunung nun jauh dari tanah kelahiran saya. 

Sementara di sini, Aceh, tempat saya lahir telah Allah karuniakan gunung yang tak kalah pesonanya dengan  gunung-gunung yang ada di Indonesia. Itulah Gunung Leuser, yang merupakan destinasi impian para pecinta alam.

Menatap Leuser (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Perbincangan sederhana di lereng Gunung Rinjani hari itu tiba-tiba terngiang lagi dalam memori saya. Tepatnya saat saya mengikuti diskusi seputar ekosistem Leuser bersama para penggiat Leuser di sebuah kedai kopi Kota Banda Aceh.

 Saat itu, seorang pejabat dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh berkata dengan lantangnya.
“Kita ini lucu, kalau lihat data banyak sekali peneliti luar yang datang ke Leuser. Semestinya, kitalah orang Aceh yang lebih sering ke sana,” ujarnya.

Maka nama Leuser terus berdengung dalam diri saya. Ada semacam rasa bersalah dalam diri saya sebagai orang Aceh,  jika tak sekalipun menginjakkan kaki di sana.

Leuser di Mata Para Pecinta Alam

Di kalangan pendaki Indonesia, dikenal istilah Seven Summit yaitu tujuh gunung tertinggi di pulau-pulau besar di Indonesia, yang merupakan impian para pendaki. Ketujuh gunung itu adalah Kerinci di Pulau Sumatra, Semeru di Pulau Jawa, Rinjani di NTB, Binaiya di Maluku, Latimojong di Sulawesi, Bukit Raya di Kalimantan dan Carstenzs Pyramid di Papua.

Nah, meskipun Leuser tidak termasuk dalam katagori Seven Summit, namun para pendaki Indonesia tetap merasa belum lengkap cerita pendakiannya jika tak memasukkan Leuser. Sekalipun mereka telah “menaklukkan” ketujuh gunung tersebut.

Sajian Alam di Kawasan Ekosistem Leuser (Sumber: Leuser Lestari)


Suasana di Puncak Leuser (Sumber: Leuser Lestari)

Sebelum menuliskan Cerita Leuser ini, saya sempat mewawancarai beberapa teman pendakian. Fahmi misalnya, pendaki asal Bekasi ini telah menjajal sebagian besar gunung di Indonesia. Seven Summit-nya hampir purna. Namun Leuser tetap menjadi impian hidupnya.

“Sebenarnya Leuser lebih ke persoalan rindu hahah... Sebab Leuser lebih menantang. Binatang buasnya masih ada, airnya juga masih banyak” ungkapnya.

Begitu pula Adi, teman pendakian saya asal Jogjakarta. Adi telah berulang kali turun gunung. Namun semenjak 2016 ia sudah gantung carrier. Tapi malam itu, saat kami berbincang tentang Leuser tiba-tiba saja hasratnya untuk menjajal Leuser hadir kembali. Leuser telah lama masuk dalam list destinasi impiannya.

“Kalau track-nya panjang biasanya hutannya lebat. Bener-bener hutan, enggak seperti gunung di sekitar sini yang track-nya cenderung gersang,” Adi mengungkapkan alasannya mengapa harus mendaki Leuser.

 
Sejumlah Pendaki di jalur pendakian Leuser (Sumber:  Superadventure)
Adi sempat terkejut saat saya katakan butuh waktu dua minggu untuk sampai ke puncak Leuser. Sejauh ini track terpanjang yang pernah ditempuhnya adalah Gunung Argopuro yaitu 4 hari perjalanan.

Lantas, apa yang menjadi daya tarik Leuser di mata para pendaki Indonesia?

Dua cerita teman saya tersebut setidaknya menunjukkan bahwa Leuser benar-benar memiliki pesonanya tersendiri. Ada daya tarik yang membuat warisan dunia ini menjadi perhatian para pecinta alam.

Kita tentu masih ingat, pada penghujung April 2016 saat Leonardo De Caprio secara diam-diam mendaratkan helikopternya di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dan akhirnya diketahui publik. Nama Leuser pun  kembali menjadi perbincangan.

Bagaimana mungkin aktor ternama Hollywood itu bela-belain menyewa helikopter, hanya untuk tiba di Taman Nasional yang nun jauh dari rumahnya. Saat Leo mem-posting fotonya bersama seekor gajah di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), ia pun mengungkapkan alasannya.

"Leonardo DiCaprio Foundation mendukung usaha perlindungan alam di Taman Nasional Gunung Leuser, tempat terakhir di mana Orangutan Sumatera, macan, badak dan gajah bisa hidup di alam liar," tulis pemeran utama  film The Revenant ini.

Leuser: Laboratorium Alam yang Sempurna

Seperti kata Adi, track yang panjang adalah tantangan tersendiri bagi para pendaki untuk menjajal Leuser. Memang benar, jika kita menarik garis lurus mulai dari Kampung Kedah di Kabupaten Gayo Lues, yang merupakan titik nol pendakian, hingga sampai ke puncak Gunung Leuser (3.119 Mdpl). Maka panjang jalur pendakian itu sekitar 51 KM. 

Track yang cukup menggoda bagi para pendaki

Seorang Ranger berpatroli di Kawasan Ekosistem Leuser (Sumber: Junaidi Hanafiah/Mongabay)

Namun percayalah, sepanjang jalur itu kita akan disuguhi pemandangan yang tak terlupakan. Sebab Leuser adalah Laboratorium alam yang sempurna.

KEL memiliki luas sekitar 2,63 juta hektar, yang merupakan penopang hidup bagi 4 juta penduduk. Sungai Alas yang mengalir deras membelah TNGL dan menjadi sumber kehidupan masyarakat sekitar.

Menyeberangi Sungai Alas (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
KEL juga menyimpan keanekaragaman hayati yang tinggi. Di dalam KEL terdapat 380 spesies burung dan 205 spesies mamalia. Belum lagi di dalamnya hidup empat satwa kunci Leuser yaitu badak, harimau, orangutan dan gajah. 

“Hutan hujan di dataran rendah Indonesia khususnya ekosistem Leuser merupakan sisa habitat terbaik di dunia untuk Gajah Sumatera yang terancam punah. Di hutan ini, gajah purba bermigrasi dan masih ada sekawanan gajah liar di Sumatera,” ujar Leonardo Dicaprio di Fanpage pribadinya.

Melihat semua kekayaan hayati yang dimiliki  Leuser, maka wajar jika para pecinta alam terikat secara emosional untuk menginjakkan kakinya di tempat ini, meskipun hanya sekali seumur hidup.

Bayi Orangutan di Kawasan Ekosistem Leuser (Sumber: Sonurai.com)

Maka bagi saya, mengunjungi Leuser bukan sekadar menuntaskan hasrat pertualangan kita. Bukan tentang sebuah pengakuan. Ada yang lebih istimewa dari itu yaitu agar kita semakin mengenal Leuser. Menumbuhkan kembali kesadaran kita sebagai manusia untuk menjaga alam. Menjadi pencegah untuk tangan-tangan jahil yang ingin merusak ekosistem yang sempurna ini.


Para pecinta alam, semestinya memahami benar semua ini. Untuk itulah, silahkan datang ke Leuser dan jadilah penyampai pesan kepada banyak orang. Bahwa di sini, di Kawasan Ekosistem Leuser, ada karunia Tuhan yang harus kita dijaga untuk kelangsungan hidup kita semua.

Selalu Ada yang Istimewa dalam Perjalanan Jakarta – Bandung dengan Kereta


Setiap orang punya caranya sendiri dalam menikmati sebuah perjalanan. Pilihan cara inilah yang membuat sebuah perjalanan menjadi berkesan. Ada cerita yang ingin selalu disimpan. Ada kenangan yang membuat kita bahagia bila mengingatnya.

Perjalanan dari Jakarta menuju Bandung adalah contoh sederhana, bagaimana dalam perjalanan yang sama setiap orang memilih caranya yang berbeda. Setiap harinya berbagai moda tranportasi yang menghubungkan dua kota ini selalu ramai penggunanya.


Dalam ragam pilihan moda transportasi itulah, kita harus menentukan pilihan. Dengan cara apa kita membuat perjalanan dari Jakarta menuju Bandung, menjadi berkesan. Meskipun perjalanan itu adalah rutinitas, tapi kita tetap tidak merasa bosan. Sebab kita telah menemukan cara yang paling ampuh untuk menghangatkan hati.

Maka, ketika tempo hari saya mengajak istri untuk jalan-jalan ke Bandung via Jakarta. Saya pun sudah mantap dengan pilihan moda transportasi yang akan kami tumpangi. Ya, pilihan itu jatuh pada kereta.

Ada banyak alasan mengapa saya mantap dengan pilihan untuk naik kereta.  Mulai dari bebas macat, on time, serta jauh lebih aman. Namun di balik semua itu, ada hal lain yang membuat perjalan dengan kereta terasa lebih istimewa, yaitu sensasi saat kita duduk dalam gerbongnya. Melihat rutinitas penumpang dan petugas kereta.


Perasaan yang sulit dijelaskan ini, tak akan saya temukan jika pergi ke Bandung naik travel.
Saat saya ceritakan hal-hal menarik lainnya seputar naik kereta dari Bandung ke Jakarta kepada istri. Dari sorot matanya terkiaskan rasa penasaran. Istri memang belum pernah naik kereta. Maka baginya cerita tersebut membuat dia kian antusias untuk mencobanya.

Jauh hari, kami pun mulai Cari Tiket Kereta yang sesuai dengan tanggal keberangkatan. Saya sengaja menunjukkan kepada istri bagaimana cara memesan tiket kereta secara online. Saya ingin ia terlibat secara emosional sejak awal dalam perjalanan ini.

Memang tak bisa dipungkiri, bahwa merencanakan sebuah perjalanan bersama orang terkasih itu sungguh menyenangkan. Perjalanan yang tampaknya sederhana saja bisa terasa istimewa. :D
Setelah membandingkan beberapa pilihan yang berdasarkan Nama Kereta, jadwal keberangkatan serta kelasnya. Maka kami pun mulai memilih Harga TiketKereta ke Bandung yang tarifnya paling ekonomis.

Kami memilih kereta Argo Prahayangan untuk kelas ekonomi. Saya katakan pada istri, meskipun kereta kita nanti hanya kelas ekonomi, namun percayalah bahwa pelayanan dan suasana keretanya sudah sangat baik.

Hari yang dinanti itupun tiba, pukul setengah 6 pagi kami telah tiba di stasiun. Kereta akan berangkat pukul 5 pagi. Saya genggam erat tangan istri saat ia masuk ke gerbong kereta.

Tepat pukul 05.05 WIB terdengar suara pluit yang menjerit. Sebuah pertanda kereta akan segera berangkat. Kereta perlahan terus melaju dengan kencang. Dari balik jendela terlihat langit masih gelap.



Lalu semakin lama gulita mulai lenyap, hingga yang terlihat jelas indahnya pemandangan sepanjang jalur kereta ini. hal yang paling saya suka adalah saat kereta melewati areal pesawahan. Saat kabut masih menyelimuti pucuk-pucuk padi yang masih hijau. Suasana yang sangat menenangkan.

Sepintas, saya perhatikan istri yang hanya terdiam sepanjang perjalanan. Entah apa yang dipikirkannya? Saya merangkul tubuhnya. Mencoba untuk meresapi perasaan yang tersembunyi dalam hatinya.

Saya sudah berulang kali melakukan perjalan Jakarta – Bandung dengan kereta. Dan setiap perjalanan selalu ada yang istimewa. Sebuah perasaan bahagia yang menenangkan.


Dan  Subuh itu, untuk kesekian kalinya saya menemukan perasaan istimewa itu. Tak ubahnya gerbong kereta, segenggam perasaan bahagia melaju deras dalam tubuh saya. 

Potret Kegigihan Perempuan Gayo di Pasar Pagi Paya Ilang


Pagi telah tiba di Takengon. Dinginnya menusuk kulit.  Perlahan, saat langit mulai terang saya menyaksikan kabut-kabut tipis yang menyelimuti bukit. Pagi telah menyingkap semua pemandangan yang menawan  itu.

Saya yang belum terbiasa dengan suhu dingin di Takengon, harus mengenakan jaket kemanapun pergi. Pagi itu, saya sengaja mengujungi salah satu pasar tradisional di kota ini yaitu Pasar Pagi Paya Ilang. Saya penasaran dengan aktivitas masyarakat ini di waktu pagi.


Setibanya di sana ternyata pasar telah ramai. Para penjual buah menjajakan dagangannya di depan mulut pasar. Sementara penjual sayur, ikan dan lainnya berada di dalam pasar tradisional ini. Saya menelusuri seisi pasar. Melihat lebih dekat aktivitas antara pedagang dan pembeli di pasar ini.

Perhatian saya kemudian tertuju dengan barisan penjual makanan di Pasar Tradisional ini. Aneka kue dan menu sarapan lainnya cukup menggoda.

Saya pun mampir di meja dagangangan milik Perempuan paruh baya. Ine, begitu sapaan bagi orang Gayo untuk perempuan yang seusianya, tampak begitu cekatan menyiapkan pesanan pembeli. Ine bekerja sendiri.


Kepada Ine, saya memesan sepiring lontong sayur dengan telur bulat balado. Dalam sekejap Ine sigap menyiapkan pesanan saya. Sambil menikmati lontong sayur, saya sempatkan berbincang dengan perempuan berkerudung ini.

Ine bercerita, bahwa semua sajian ini telah ia siapkan mulai pukul 1 dini hari. Ia bekerja bersama suaminya. Sebenarnya, Ine punya pekerja lain. Hanya saja ia merasa lebih nyaman bekerja bersama suaminya.

“Jam 5 pagi harus sudah siap, susah kalau harus bangunin orang lagi,” ujar Ine.

Setelah semua masakannya selesai, barulah Ine istirahat sejenak sampai azan Subuh tiba. Waktu yang cukup bagi Ine untuk mengumpulkan tenaganya lagi. Sebab setelah ini, Ine harus bergegas menuju Pasar Pagi Paya Ilang untuk menjajakan makanannya.


Ine berdagang mulai matahari belum terbit sampai pukul 3 siang. Pagi itu, sementara Ine berjualan ternyata suaminya sedang berbelanja untuk kebutuhan esok harinya. Jika masih ada belanjaan yang kurang, barulah Ine akan mencarinya sendiri pada siang nanti.

Begitulah, setiap pagi Ine melaksanakan rutinitasnya. Bekerja untuk mencari rizki demi keluarganya. Ine adalah potret kecil dari Perempuan Gayo di Pasar Pagi Payang Ilang ini.

Perempuan yang bekerja dengan gigih atas nama cinta. Sebuah potret yang cukup menjelaskan betapa besarnya perjuangan seorang perempuan demi keluarganya. Ine menjelaskan cintanya dengan cara yang sederhana, tak perlu banyak retorika.

Kegigihan Ine adalah cerminan semua perempuan hebat di muka bumi ini.