Kampung Berseri Astra, Bangkitkan Semangat Hidup Masyarakat Alue Naga


Perahu-Perahu Nelayan Alue Naga

Rabu pagi, 26 Desember 2018. Sebelum berangkat bekerja saya pergi ke Kuburan Massal Tsunami Aceh di Gampong Ulee Lheue. Di sana saya bergabung bersama masyarakat lainnya untuk berzikir dan berdoa, sekaligus menziarahi ratusan jasad  tanpa nama yang terkubur dalam gundukkan tanah di kuburan massal itu.


Hari itu, adalah hari yang penuh emosional bagi masyarakat Aceh. Bencana gempa dan tsunami memang telah lama berlalu. Sudah 14 tahun. Tapi bagi kami, orang-orang Aceh, semua kepedihan itu masih terasa.

Saat bencana yang maha dahsyat itu terjadi, saya kehilangan banyak saudara dan krabat. Namun yang paling memilukan adalah saya kehilangan seorang kakak kandung bersama suami dan bayinya yang masih tiga bulan. Dan hingga kini, saya tak pernah tahu di mana jasad mereka berada.


 Apa yang saya alami memang tidak sebanding dengan kepilauan yang dirasakan Hasan Basri. Lelaki paruh baya itu duduk santai saat saya mengunjungi rumahnya di Alue Naga. Rumah Hasan hanya beberapa meter saja dari garis pantai.



Sepintas Hasan seperti lelaki biasanya. Ia berupaya untuk menjadi lelaki yang tegar. Tapi hati kecilnya tak bisa berdusta. Dari guratan wajahnya terlihat bahwa ia telah mengalami kepilauan yang dalam.
Bencana alam maha dasyat di penghujung 2004 itu, telah melenyapkan 13 keluarganya. Termasuk anak dan istrinya yang hingga kini jenazahnya tak tahu bersemayam di mana.

Maka setiap tanggal 26 Desember, Hasan seperti saya, kami selalu menziarahi kuburan massal.  Meskipun ia juga tidak pernah tahu apakah di sana ada terkubur jasad anak dan istrinya.


Berzikir dan Berdoa di Kuburan Massal Tsunami Aceh

Hasan masih ingat bagaimana cerita pilu itu bermula. Kala itu, ia tengah mencari ikan di sungai dengan sampan. Ia terkejut karena gempa. Setelah gempa mereda, Hasan sempat berkata pada seorang nenek yang ingin menyelamatkan drumnya yang jatuh karena gempa tersebut.

“Sudahlah mak, pulang saja. Rasanya kita ini tak sampai lagi ke rumah” ucapnya.

Entah apa yang terlintas dari benaknya hingga mengatakan kalimat itu. Yang jelas, tak lama setelahnya air laut setinggi pohon kelapa bergulung-gulung mendekatinya. Ia terombang-ambing tak tentu arah. Sepotong kayu menghujam lengan kanannya.

“Ini lihat...!” Ucapnya sambil menunjukkan sebuah garis luka di lengannya yang masih membekas. 
Hasan terbawa air laut sampai ke Jeulingke, 3 KM dari rumahnya.

Mencoba Bangkit Menjemput Asa

Saat menceritakan kisah ini, Hasan tengah menggendong Khasiful Jannah, anak dari istri ke duanya. Umurnya masih 8 bulan. Bayi mungil itu teduh sekali dalam dekapan ayahnya. Saat ditanya apa pelajaran hidup dari Tsunami yang dialaminya itu. Hasan bangkit dari tempat duduknya, sambil menggendong Khasiful ia menatap kosong ke arah laut.
“Saya tak tahu harus berkata apa,  Allah memang Maha Besar,” ia menghela nafasnya.

Hasan adalah salah satu potret masyarakat Alue Naga yang mencoba tegar atas musibah gempa tsunami yang menimpa hidup mereka. Sudah empat belas tahun bencana tsunami itu berlalu. Rasa sedih dan kehilangan itu memang sulit lekang. Tapi bagaimanapun juga hidup harus terus berlanjut.

Semangat inilah yang saya rasakan saat duduk bersama masyarakat dan aparatur Gampong Alue Naga di Masjid Al Munawarah. Saat itu saya hadir dan menjadi saksi berdirinya Kampung Berseri Astra di Alue Naga. Saya menyaksikan sendiri bagaimana masyarakat sangat antusias menyambut program yang digagas oleh PT. Astra ini.

Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman bersama tokoh masyarakat Gampong Alue Naga saat pembukaan Kampung Berseri Astra

Bangkitkan Keceriaan Anak-Anak Alue Naga

Dra. Kasyiem berdiri di depan kelas saat saya datang.  Hari itu sebenarnya adalah hari libur, tapi karena ada tamu dari Jakarta, membuat Kepala Sekolah SD 72 itu tetap harus datang ke sekolah.

Kasyiem bercerita, bagaimana sekolah ini sangat berarti bagi anak-anak Alue Naga. Umumnya mereka adalah anak-anak korban tsunami. Awalnya, sekolah ini bernama SD Negeri 100. Tapi gempa dan tsunami telah melenyapkan sekolah tersebut. Anak-anak Alue Naga pun harus berjalan jauh ke kota untuk sekolah.

Sekolah SD 72, Tempat Anak-Anak Alue Naga Menjemput Cita-Citanya.

Sekolah yang sekarang ini dibangun oleh PGRI Pusat. Ada 50 sekolah yang dibangun PGRI di seluruh Indonesia, dan salah satunya adalah SD 72 di Alue Naga ini.
“Awalnya dibangun cuma empat lokal, tapi langsung terisi semua. Karena anak-anak Alue Naga lain pada kembali untuk sekolah kemari,” ungkap Kasyiem.

Saya bersama Ibu Kasyiem yang Gigih Mendidik Anak-Anak Alue Naga


Saat ini jumlah siswa SD 72 sebanyak 59 orang. Mereka adalah penyambung asa para orang tuanya. Oleh karena itu, Kasyiem merasa sangat bersyukur sekali karena melalui program Kampung Berseri Astra, anak-anak tersebut bisa mewujudkan impiannya.

Mereka yang awalnya terkendala masalah ekonomi, kini mendapatkan secercah harapan. Karena PT. Astra rutin memberikan beasiswa untuk mereka. Setiap anak berhak mendapatkan Rp. 400 – 500 ribu. Angka yang tak seberapa, tapi sangat berarti bagi orang tua yang harus berjuang untuk melanjutkan pendidikan anak-anaknya.
“Jelas, orang tua di sini merasa sangat terbantu sekali,” ujar Kasyiem.

Hari itu saya memang tidak sempat bertemu dengan para siswa sekolah ini. Tapi saya  bisa merasakan semangat hidup dan keceriaan mereka dari gambar-gambar yang melekat di dinding kelas.

Hasil Karya Anak-Anak Alue Naga

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Bang Jack, seorang tokoh pemuda Alue Naga. Bang Jack adalah sosok penting yang turut membantu hadirnya sekolah tersebut.
“Ini bang Jack, orang yang paling berjasa. Yang berdarah-darah cariin tanah untuk sekolah ini,” Kasyiem terang-terangan memujinya. Tapi Bang Jack hanya tersenyum simpul.

Menurut Bang Jack, kehadiran Kampung Berseri Astra ini telah membuat masyarakat Alue Naga lebih “hidup”. Anak-anak Alue Naga kembali ceria. Bahkan aktivitas kepemudaan kembali bergeliat.

“Ya, Astra juga sering bantu kita kalau ada acara-acara di kampung. Seperti acara 17-an,” ungkap Bang Jack.

Bang Jack Bercerita seputar Kampung Berseri Astra di Kampungnya

Program Berseri Astra ini memang tidak hanya menyentuh dunia pendidikan, tapi juga pembinaan masyarakat. Lalu Bang Jack membawa saya untuk bertemu Mariyati, seorang pembuat kerupuk tiram.
Kak Mar, begitu ia disapa, tampak begitu bersemangat. Kepada saya ia bercerita bagaimana tiram yang biasanya dijual mentah oleh masyarakat Alue Naga, kini diolahnya menjadi lebih bernilai. Hasilnya memang lumayan, dalam 10 Kg kerupuk tiram ia berhasil meraup keuntungan sebesarRp. 800 ribu.

Kak Mar yang Antusias Menceritakan Kerupuk Tiramnya

Karena semangat dan keterampilannya inilah, lalu PT. Astra memfasilitasi ibu-ibu di Gampong Alue Naga untuk belajar bagaimana membuat kerupuk tiram oleh Kak Mar. Ia pun dengan senang hati berbagi ilmu.
“Ada sekitar 10 orang, di sini kami belajarnya,” ucap Kak Mar sambil menunjuk teras kedainya yang menjadi tempat pelatihan tersebut.
 Ya, kerupuk tiram adalah usaha lain Kak Mar selain kedainya.

Kedai dan keripik tiram itu, kemudian menjadi lambang kemandirian Kak Mar sebagai perempuan Alue Naga. Kak Mar tak ingin berdiam diri. Ia sadar, tsunami telah mengubah wajah kampungnya. Tapi hal tersebut bukanlah alasan untuk membuatnya berhenti. Ia mengerti, bahwa hidup tidak bisa terus-menerut larut dalam kesedihan.

Kak Mar yang Tak Pernah Lelah Berjuang untuk Melanjutkan Hidupnya

Bangkit dari keterpurukan memang bukan sesuatu yang mudah. Apalagi kita telah mengalami kehilangan harta dan orang-orang tercinta. Tapi di Gampong Alue Naga, saya bisa merasakan gairah hidup itu.

Di tengah-tengah keterbatasan akan menggapai sebuah harapan, gairah hidup untuk tidak mengalah pada keadaan seperti inilah, yang coba dibangkitkan kembali PT. Astra kepada masyarakat Alue Naga.


Post a Comment

6 Comments

  1. Suka banget dengan hasil jepretan fotonya bg. Semoga kampung Berseri Astra Alu Naga semakin berseri dan bangkit dari kenangan 14 tahun silam ya.

    ReplyDelete
  2. Terbayang ya bagaimana kehidupan di sana, semoga saja mereka lebih baik sekarang!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga ya Bang, agak emosional juga kita nulisnya :D

      Delete
  3. boat warna- warninya cakep x kok bg...

    ReplyDelete