Perjalanan Tak Mudah Demi (Bertemu) Rasulullah di Raudhah


Mekkah punya Hajar Aswad, Madinah punya Raudhah. Dua tempat inilah yang selalu menjadi perhatian jamaah haji atau umrah jika tiba di Tanah Suci. Orang-orang rela berhimpitan demi mencium batu hitam yang dari surga itu.

Begitu pula saat di Madinah, mereka rela berdiri berjam-jam. Dalam antrian yang sangat panjang dan ramai. Demi tiba di sana. Dalam taman surga, tempat peristirahatan terakhir Rasulullah. 

Tujuh Pengalaman Mengesankan Selama di Tanah Suci



Di antara banyak tempat terbaik di dunia, dua kota suci yaitu Madinah dan Mekkah al Mukaramah adalah tempat yang selalu bersamayam di dalam benak saya. Dua kota suci yang Allah karuniakan begitu banyak keberkahan.

Inilah Kejutan Ramadan Esktra dari Tokopedia 24 – 25 Mei nanti!

Oke, mungkin hingga saat ini masih banyak yang bertanya-tanya. Kejutan Ramadan Ekstra seperti apa sih  yang akan diberikan Tokopedia pada tanggal 24 – 25 Mei nanti. Rasa penasaran seperti ini memang enggak enak kalau belum menemukan jawabannya.


 Maka di postingan kali ini saya akan menjawab rasa penasaran itu dengan mengabarkan berita gembira.

Pertama, Semarak Ramadan Esktra (24 Mei 2018)
Pada tanggal 24 Mei 2018 nanti bersiaplah dengan kejutan diskon sampai 99 %. Nyaris gratis ya hahah. Caranya gimana? Kamu cukup dengan buka aplikasi Tokopedia di jam-jam tertentu dan “Shake-Shakesmartphone untuk kesempatan dapatkan berbagai kejutan mulai dari berbagai hadiah seru, promo menarik, dan kejutan diskon 99% untuk produk-produk terbaik pilihan.



Selain itu, saksikanlah  Artist Perfomance  dan  Fashion Show by Exclusive Collaboration. Acara menarik ini akan disiarkan langsung di Net, MNC TV dan Trans TV dengan penampilan artis-artis papan atas Indonesia. Ada juga peragaan busana (fashion show). Berkolaborasi dengan brand-brand fashion ekslusif di Tokopedia semua produk fashion yang diperagakan bisa dibeli secara langsung melalui aplikasi Tokopedia.

Nah, pada acara ini nanti akan diadakan countdown menuju "Ramadan Ekstra, Kejutan Belanja Online" pada 24 Mei 2018. Jadi jangan sampai terlewatkan ya...!

Kedua, Ramadan Ekstra (25 Mei 2018)

Di hari selanjutnya yaitu 25 Mei 2018, Tokopedia kembali menyuguhkan kejutan Belanja Online yang sangat menggoda. Bayangkan saja, dengan membuka aplikasi  Tokopedia pada jam-jam tertentu, lalu “Shake-Shakesmartphone hingga 5 kali dalam sehari. Maka terbuka kesempatan menarik bagi kita untuk mendapatkan berbagai kejutan mulai dari berbagai promo menarik, hingga hadiah utama Toyota Yaris yang didiskon 99%! Amazing Gak!

Ada juga kejutan  Flash Sale. Yaitu bersiaplah untuk memiliki berbagai produk pilihan terbaik di Tokopedia dengan harga miring serba 25.000 untuk semua produk flash sale Tokopedia. Barang-barang seperti apa saja sih yang berani dibandrol Tokopedia seharga ini. Makanya, awasin terus nih! Hehe



Nah, kita juga bisa mendapatkan tambahan promo ekstra dengan cara lain. Khususnya untuk kamu yang sudah mengumpulkan kupon-kupon promo menarik di Tokopedia, saatnya gunakan “Save My Coupon” milikmu untuk tambahan promo Ekstra!

Selain itu, dapatkan juga promo lainnya dan exclusive brand  dari Tokopedia. Makanya, jangan sampai ketinggalan. Mari raih berbagai promo Ekstra Casback lainnya untuk berbagai produk di marketplace dan juga produk digital Tokopedia, serta berbagai penawaran menarik dari pilihan brand-brand ekslusif dari Tokopedia.

Inilah beberapa kejutan Ramadan Esktra yang akan diberikan Tokopedia pada 24 – 25 Mei nanti. Semua kejutan ini akan membuat Ramadan kita terasa istimewa. Jadi catat tanggal-tanggal penting ini hehe

Jangan sampai moment istimewa yang hanya berlangsung setahun sekali ini terlewatkan. Siapa tahu? Selama Ramadan Ekstra kali ini kita bisa mendapatkan barang-barang menarik, yang selama ini menjadi incaran tapi belum kesampaian untuk memilikinya.

Saya sendiri sengaja menunggu tanggal istimewa itu untuk memburu beberapa barang yang sudah masuk wishlist. Jadi, pastikan kita ambil bagian dari semaraknya Ramadan Esktra bersama Tokopedia ini.

Banyak Cara Bersedekah di Masjidil Haram


Masjidil Haram berada di Tanah yang Mulia. Di tempat inilah, sebagai muslim kita melaksanakan rangkaian ibadah haji yang kemudian menyempurnakan keislaman kita. Maka Tanah Suci ini adalah tempat yang paling dirindukan oleh umat muslim seluruh penjuru dunia. Setiap harinya orang berduyun-duyun datang untuk menunaikan ibadah di tempat berdirinya kabah ini.

Setibanya di Tanah Al Haram ini mereka melakukan ibadah semaksimal mungkin. Mulai dari memperbanyak salat sunnah, membaca al quran dan bersedekah.

Nah, selama hampir sepekan di Masjidil Haram saya pun menyaksikan ada begitu banyak cara orang dalam bersedekah. Selama ini, lazimnya kita pahami orang-orang bersedekah dengan uang atau pun makanan.

Namun di Masjidil Haram, banyak orang bersedekah dengan cara yang unik. Terkadang sedekah yang mereka berikan adalah hal-hal yang sederhana tapi sangat bermanfaat bagi orang lain.


Al Haram selepas Zuhur

Seperti yang saya saksikan ketika menjelang Jumat di lokasi tawaf. Saat itu cuaca Mekkah cukup panas. Suhunya mencapai 34 °C. Saya sendiri sampai tak sadar kalau tubuh sudah basah bermandikan keringat. Dalam kondisi yang terik itulah orang-orang melakukan tawaf.

Lalu di sana ada seorang lelaki berkulit hitam yang membagikan tisu secara cuma-cuma. Ia berdiri sambil menggenggam kotak tisu. Sepintas apa yang diberikannya cukup sederhana. Hanya selembar-dua lembar tisu. Tapi bagi orang lain justru sangat bermanfaat untuk menyeka keringat mereka. Saya pun turut mengambil tisu yang diberikannya.

Selain itu, masih di depan Kabah, ada orang yang bersedekah dengan cara yang lebih unik lagi. Yaitu dengan menyemprotkan spray dari botol ke wajah orang lain. Lelaki tersebut berdiri dengan menggunakan payung di tepi lintasan tawaf.

 Jika ada orang yang melintas di hadapannya, ia pun menyemprotkan spray tersebut ke wajah orang yang melewatinya itu. Perilakunya memang terlihat ganjil di tengah kerumunan orang bertawaf. Caranya menyemprotkan spray juga seperti anak-anak yang sedang bermain. Ia tidak peduli apakah orang berkenan ataupun tidak diperlakukannya demikian.

Namun di situlah menariknya, orang-orang yang disemprotnya itu tidak ada yang marah. Mereka seolah pasrah saat wajahnya basah dipercikan air. Mereka secara sengaja menghadapkan wajahnya sambil memicingkan mata.

Mungkin karena cuaca yang cukup panas, maka mereka menikmati percikan air tersebut untuk menyejukkan wajahnya.

Sedekah tisu di Masjidil Haram

Orang-orang yang bersedekah dengan uang atau makanan juga ada. Di pelataran Masjidil Haram saya juga pernah menyaksikan seorang perempuan Turki membagi-bagikan Riyal kepada petugas Cleaning Service. Ia duduk di atas krusi lalu para petugas tersebut mengantri di belakangnya.
Jumlah yang ia berikan tak banyak, setiap orang hanya mendapatkan dua Riyal. Namun petugas tersebut tetap mengantri untuk menerima pemberiannya.

Jamaah asal Pakistan lebih menarik lagi. Mereka sengaja membawa cerek berisikan cay panas serta kurma dan roti. Selepas salat Magrib mereka membentangkan sajadah. Bak sedang piknik, mereka menuangkan cay panas ke dalam cangkir pelastik lalu membagikannya kepada jamaah lain.

Tak cukup hanya itu, seorang lelaki lainnya dengan sengaja berkeliling untuk membagikannya cay panas tersebut. Ia menuangkannya dengan penuh keramahan. Seolah orang-orang yang diberikannya adalah teman karibnya. Untuk cay panas ini, saya hanya sekali mencicipinya sebab terasa lain pedasnya di lidah.

Anak-anak pun cukup antusias dalam bersedekah. Mereka menenteng pelastik kecil berisikan kurma. Lalu berkeliling sambil membagikan makanan tersebut kepada jamaah lain. Setiap orang hanya mendapat dua sampai tiga butir kurma. Karena yang membagikannya adalah anak-anak, maka orang yang menerimanya pun terasa istimewa. Tak jarang mereka mengecup kening anak tersebut sebagai wujud terima kasih.

Sementara orang tuanya terlihat mengawasi dari jauh. Tampaknya orang tua mereka sengaja mendidik  anak-anaknya ini untuk gemar berbagi.

Bersedekah di Masjidil Haram memang tak harus punya uang atau makanan terlebih dahulu. Kita juga bisa melakukan hal yang bermanfaat lainnya.

Menjelang Berbuka Puasa, ada saja yang bersedekah kurma

Misalnya, memberikan air zam-zam kepada orang lain. Pemandangan seperti ini juga lazim di Masjidil Haram. Orang-orang dengan sengaja menuangkan air zam-zam ke dalam gelas pelastik. Lalu berkeliling membagikannya kepada orang lain yang posisi agak sulit jika harus mengambil langsung ke galon-galon air zam-zam di lingkungan Masjidil Haram.

Cara bersedekah seperti ini juga memberikan efek lain. Orang-orang yang sudah mendapatkan air zam-zam, secara tak langsung termotivasi untuk membantu orang lain.

Terkadang, ada orang yang sengaja menolak pemberian air zam-zam tersebut. Ia ikhlas menyerahkan haknya itu untuk diberikan kepada teman di sebelahnya. Setelah itu terjalinlah komunikasi yang mengakrabkan dua orang yang awalnya tak saling kenal ini. Sebuah pemandangan yang cukup menyejukkan mata.

Siapa yang menduga, berawal dari segelas kecil air zam-zam akhirnya bisa mengeratkan silaturrahim dua orang muslim yang tak saling kenal.

Berbagi Air Zam-Zam

Begitulah, di Masjidil Haram saya menyaksikan ada banyak cara orang bersedekah. Dengan cara-cara yang unik dan mungkin tak pernah terlintas di benak kita. Di tempat ini, siapapun bisa melakukannya dan kita tidak harus punya uang atau makanan terlebih dahulu.

Kita bisa melakukan hal lain yang bermanfaat. Membantu orang-orang dengan cara-cara yang sederhana. Semua ini setidaknya menjelaskan, bahwa bersedekah hanyalah persoalan niat. Jika kita benar-benar berniat ingin memberi maka caranya bisa apa saja. Tidak harus hal-hal besar asalkan kita memberikannya dengan hati yang tulus. Insya Allah, sesederhana apapun yang kita berikan akan bermanfaat bagi orang lain.

Serangkaian potret cara orang bersedekah di Masjidil Haram ini, juga menyadarkan satu hal sederhana dalam diri saya. Bahwa yang kita miliki memang tak banyak, tapi sejatinya kita punya banyak alasan untuk memberi.


Ibnu Syahri Ramadhan, melaporkan dari Mekkah, Arab Saudi. 

*Tulisan ini telah dimuat di Harian Serambi Indonesia edisi Senin, 7 Mei 2018

Ramadan Ekstra : Ini Tips Belanja Hemat Selama Ramadan di Tokopedia

Sumber: https://muscleevo.net

Tak terasa Ramadan tinggal hitungan hari. Sebagai muslim tentu banyak hal yang harus kita siapkan agar Ramadan kali ini benar-benar maksimal. Mulai dari persiapan ilmu, fisik dan logistik hahah.  Tapi ini serius loh, kita tentu tidak ingin Ramadan kali ini berlalu begitu saja.

5 Alasan Kenapa Bus Masih Tetap Jadi Primadona untuk Pulang Kampung





sumber:bandaacehtourism.com
Sudah dapat tiket bus untuk perjalanan mudik kamu di Lebaran tahun ini? Sebagai moda angkutan jalur darat, bus masih menjadi pilihan utama bagi masyarakat Indonesia. Kehadirannya nggak tergusur oleh makin kerennya kereta api dan pesawat. Bahkan bus juga punya fanbase sendiri, terutama dari golongan anak muda yang gemar berkelana. Apakah kamu juga bakal memilih angkutan ini untuk mengantarmu pulang ke kampung halaman? Ketahui alasannya biar makin mantab sebelum membeli tiket bus untuk mudik kamu.

Lebih Fleksibel
Kelebihan bus dibandingkan kereta api, pesawat, atau kapal laut adalah fleksibilitasnya yang sangat tinggi. Lebih sedikit cerita orang tentang pengalaman berebut tiket bus, dibandingkan dengan ketiga moda transportasi lainnya di musim mudik. Setiap rute biasanya dilayani oleh beberapa perusahaan otobus. Jadi kalau yang satu sudah penuh, tinggal pilih yang lainnya.

Bus Jaman Now Makin Keren-Keren


sumber:mediatataruang
Nggak hanya dilengkapi dengan klakson ‘telolet’ yang fenomenal, bus-bus Indonesia juga makin mempercantik diri dengan tampilan mentereng. Sepertinya para pemilik perusahaan otobus sadar bahwa semakin menarik layanan yang diberikan, makin banyak pula pelanggan yang datang. Kursi dibikin senyaman mungkin, dilengkapi pendingin udara, colokan listrik untuk isi ulang baterai gadget, dan kebersihannya terjaga dengan baik. Mereka juga nggak sungkan-sungkan lagi menghadirkan bus buatan terbaru yang dilengkapi dengan mesin bikinan luar negeri yang dikenal tangguh di jalanan dengan harga tiket bus yang lebih bersaing.
Nggak Lagi Berdesak-Desakan Seperti Dulu
Naik bus zaman sekarang nggak lagi se-mengerikan tempo dulu. Sekitar lima sampai sepuluh tahun lalu, mudik pakai tiket bus ekonomi bakal jadi momok. Penumpang terus dijejalkan meski di dalam sudah penuh. Tapi kini bus jadi lebih nyaman dan terbagi dalam berbagai kelas. Mulai dari ekonomi, kelas bisnis, bahkan sleeper bus pun sudah ada di Indonesia.


Harga Tiket Bus Masih Lebih Murah Dibandingkan Angkutan Lainnya



Salah satu alasan utama kenapa bus masih tetap disuka adalah harga tiketnya yang lebih murah dan terjangkau dibandingkan moda transportasi lainnya. Kereta api memang lebih murah, tapi kursinya terbatas dan hampir selalu habis terbeli. Pesawat juga butuh merogoh kocek lebih dalam. Ada lagi yang memudahkan, kini memesan tiket bus tidak harus ke agen atau ke terminal. Kamu bisa memantau harga tiket bus mudik lewat layanan aplikasi Traveloka. Dapatkan informasi lengkap perjalanan dengan bus untuk ke kampung halaman di Traveloka.

Perjalanan Darat Kini Lebih Nyaman Berkat Majunya Infrastruktur
Beberapa tahun lalu, mudik lewat darat itu bikin khawatir. Takut terjebak macet panjang yang bisa bikin kamu terlambat sampai rumah misalnya. Intinya, perjalanan darat dulu kurang efektif. Namun dengan dikebutnya pembangunan infrastruktur jalan oleh pemerintah, khususnya di Pulau Jawa, masyarakat jadi punya banyak jalur alternatif untuk mereka lewati. Kemacetan pun bisa ditekan seminimal mungkin.
Semoga saja mudik di tahun 2018 ini nggak ada lagi keluhan kena macet berjam-jam.
Nggak perlu lagi ragu memesan tiket bus untuk persiapan mudik Lebaran tahun 2018 ini. Kalau terlalu ngebut jangan lupa untuk ingatkan sopirnya. Semoga pulang kampung kali ini semuanya berjalan lancar, selamat sampai tujuan.

Leuser, Destinasi Impian Para Pecinta Alam


Sore itu Palawangan sedang diselimuti kabut. Usai mendirikan tenda saya berkeliling sejenak, menikmati syahdunya lereng gunung Rinjani ini.  Saya mendekati para pendaki lain yang tampaknya sedang melepas lelah. Mereka baru saja tiba.

Saya menyapa mereka ramah. Mungkin, karena kami memiliki hobi yang sama maka hanya butuh waktu singkat bagi kami untuk akrab.

Wah dari Aceh Bang, udah ke Leuser dong,” ucap Bang Eric spontan, seorang pendaki bertubuh tambun asal Bekasi.

Pertanyaan Bang Eric itu membuat saya tertohok. Saya benar-benar tak menduga ia akan bertanya demikian. Ada semacam perasaan malu dalam diri saya. Sebab sebagai orang Aceh, saya bersusah payah menapaki gunung nun jauh dari tanah kelahiran saya. 

Sementara di sini, Aceh, tempat saya lahir telah Allah karuniakan gunung yang tak kalah pesonanya dengan  gunung-gunung yang ada di Indonesia. Itulah Gunung Leuser, yang merupakan destinasi impian para pecinta alam.

Menatap Leuser (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Perbincangan sederhana di lereng Gunung Rinjani hari itu tiba-tiba terngiang lagi dalam memori saya. Tepatnya saat saya mengikuti diskusi seputar ekosistem Leuser bersama para penggiat Leuser di sebuah kedai kopi Kota Banda Aceh.

 Saat itu, seorang pejabat dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh berkata dengan lantangnya.
“Kita ini lucu, kalau lihat data banyak sekali peneliti luar yang datang ke Leuser. Semestinya, kitalah orang Aceh yang lebih sering ke sana,” ujarnya.

Maka nama Leuser terus berdengung dalam diri saya. Ada semacam rasa bersalah dalam diri saya sebagai orang Aceh,  jika tak sekalipun menginjakkan kaki di sana.

Leuser di Mata Para Pecinta Alam

Di kalangan pendaki Indonesia, dikenal istilah Seven Summit yaitu tujuh gunung tertinggi di pulau-pulau besar di Indonesia, yang merupakan impian para pendaki. Ketujuh gunung itu adalah Kerinci di Pulau Sumatra, Semeru di Pulau Jawa, Rinjani di NTB, Binaiya di Maluku, Latimojong di Sulawesi, Bukit Raya di Kalimantan dan Carstenzs Pyramid di Papua.

Nah, meskipun Leuser tidak termasuk dalam katagori Seven Summit, namun para pendaki Indonesia tetap merasa belum lengkap cerita pendakiannya jika tak memasukkan Leuser. Sekalipun mereka telah “menaklukkan” ketujuh gunung tersebut.

Sajian Alam di Kawasan Ekosistem Leuser (Sumber: Leuser Lestari)


Suasana di Puncak Leuser (Sumber: Leuser Lestari)

Sebelum menuliskan Cerita Leuser ini, saya sempat mewawancarai beberapa teman pendakian. Fahmi misalnya, pendaki asal Bekasi ini telah menjajal sebagian besar gunung di Indonesia. Seven Summit-nya hampir purna. Namun Leuser tetap menjadi impian hidupnya.

“Sebenarnya Leuser lebih ke persoalan rindu hahah... Sebab Leuser lebih menantang. Binatang buasnya masih ada, airnya juga masih banyak” ungkapnya.

Begitu pula Adi, teman pendakian saya asal Jogjakarta. Adi telah berulang kali turun gunung. Namun semenjak 2016 ia sudah gantung carrier. Tapi malam itu, saat kami berbincang tentang Leuser tiba-tiba saja hasratnya untuk menjajal Leuser hadir kembali. Leuser telah lama masuk dalam list destinasi impiannya.

“Kalau track-nya panjang biasanya hutannya lebat. Bener-bener hutan, enggak seperti gunung di sekitar sini yang track-nya cenderung gersang,” Adi mengungkapkan alasannya mengapa harus mendaki Leuser.

 
Sejumlah Pendaki di jalur pendakian Leuser (Sumber:  Superadventure)
Adi sempat terkejut saat saya katakan butuh waktu dua minggu untuk sampai ke puncak Leuser. Sejauh ini track terpanjang yang pernah ditempuhnya adalah Gunung Argopuro yaitu 4 hari perjalanan.

Lantas, apa yang menjadi daya tarik Leuser di mata para pendaki Indonesia?

Dua cerita teman saya tersebut setidaknya menunjukkan bahwa Leuser benar-benar memiliki pesonanya tersendiri. Ada daya tarik yang membuat warisan dunia ini menjadi perhatian para pecinta alam.

Kita tentu masih ingat, pada penghujung April 2016 saat Leonardo De Caprio secara diam-diam mendaratkan helikopternya di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dan akhirnya diketahui publik. Nama Leuser pun  kembali menjadi perbincangan.

Bagaimana mungkin aktor ternama Hollywood itu bela-belain menyewa helikopter, hanya untuk tiba di Taman Nasional yang nun jauh dari rumahnya. Saat Leo mem-posting fotonya bersama seekor gajah di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), ia pun mengungkapkan alasannya.

"Leonardo DiCaprio Foundation mendukung usaha perlindungan alam di Taman Nasional Gunung Leuser, tempat terakhir di mana Orangutan Sumatera, macan, badak dan gajah bisa hidup di alam liar," tulis pemeran utama  film The Revenant ini.

Leuser: Laboratorium Alam yang Sempurna

Seperti kata Adi, track yang panjang adalah tantangan tersendiri bagi para pendaki untuk menjajal Leuser. Memang benar, jika kita menarik garis lurus mulai dari Kampung Kedah di Kabupaten Gayo Lues, yang merupakan titik nol pendakian, hingga sampai ke puncak Gunung Leuser (3.119 Mdpl). Maka panjang jalur pendakian itu sekitar 51 KM. 

Track yang cukup menggoda bagi para pendaki

Seorang Ranger berpatroli di Kawasan Ekosistem Leuser (Sumber: Junaidi Hanafiah/Mongabay)

Namun percayalah, sepanjang jalur itu kita akan disuguhi pemandangan yang tak terlupakan. Sebab Leuser adalah Laboratorium alam yang sempurna.

KEL memiliki luas sekitar 2,63 juta hektar, yang merupakan penopang hidup bagi 4 juta penduduk. Sungai Alas yang mengalir deras membelah TNGL dan menjadi sumber kehidupan masyarakat sekitar.

Menyeberangi Sungai Alas (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
KEL juga menyimpan keanekaragaman hayati yang tinggi. Di dalam KEL terdapat 380 spesies burung dan 205 spesies mamalia. Belum lagi di dalamnya hidup empat satwa kunci Leuser yaitu badak, harimau, orangutan dan gajah. 

“Hutan hujan di dataran rendah Indonesia khususnya ekosistem Leuser merupakan sisa habitat terbaik di dunia untuk Gajah Sumatera yang terancam punah. Di hutan ini, gajah purba bermigrasi dan masih ada sekawanan gajah liar di Sumatera,” ujar Leonardo Dicaprio di Fanpage pribadinya.

Melihat semua kekayaan hayati yang dimiliki  Leuser, maka wajar jika para pecinta alam terikat secara emosional untuk menginjakkan kakinya di tempat ini, meskipun hanya sekali seumur hidup.

Bayi Orangutan di Kawasan Ekosistem Leuser (Sumber: Sonurai.com)

Maka bagi saya, mengunjungi Leuser bukan sekadar menuntaskan hasrat pertualangan kita. Bukan tentang sebuah pengakuan. Ada yang lebih istimewa dari itu yaitu agar kita semakin mengenal Leuser. Menumbuhkan kembali kesadaran kita sebagai manusia untuk menjaga alam. Menjadi pencegah untuk tangan-tangan jahil yang ingin merusak ekosistem yang sempurna ini.


Para pecinta alam, semestinya memahami benar semua ini. Untuk itulah, silahkan datang ke Leuser dan jadilah penyampai pesan kepada banyak orang. Bahwa di sini, di Kawasan Ekosistem Leuser, ada karunia Tuhan yang harus kita dijaga untuk kelangsungan hidup kita semua.