Nuansa Berbeda di Kyriad Muraya Hotel Aceh

00:56:00

Welcome to Kyriad Muraya Hotel Aceh

Dari  lantai 5 Kyriad Muraya Hotel Aceh, saya menyaksikan rutinitas kota Banda Aceh menjelang senja.  Di garis batas traffic light Simpang Lima, setiap pengemudi bersabar menanti gilirannya. Ada juga yang tergesa-gesa menerobos lampu merah. Kota ini tampak sibuk.

Beberapa tahun belakangan ini, Banda Aceh telah banyak berubah. Keberhasilan Aceh meraih dua katagori dalam World Halal Tourism Award juga cukup berpengaruh untuk menarik wisatawan asing. Sering saya lihat turis asal Malaysia wara-wiri di kota Banda Aceh.

Suasana Malam di Simpang Lima kota Banda Aceh
Sebagai warga Banda Aceh, baru kali ini saya benar-benar menikmati rutinitas kota ini. Rasanya berbeda sekali. Saya seperti melihat diri sendiri yang terjebak macet di jalan raya itu. Jika berhenti di Simpang Lima, yang saya pikirkan adalah kapan lampu hijau menyala? Mengira-ngira kapan giliran untuk melaju.

Namun dari balik jendela kaca Kyriad Muraya Hotel Aceh, Saya menemukan nuansa berbeda. 

Sore itu adalah kali pertama saya staycation di  Kyriad Muraya Hotel Aceh. Sebenarnya, rencana menginap ini sudah jauh-jauh hari. Namun, hotel bintang tiga ini selalu full padahal soft launching-nya belum genap sebulan.

Saya pun harus bersabar. Awal Desember kemarin, barulah mendapat kesempatan untuk bermalam di hotel dalam jaringan Louvre Hotel Group ini.
Mengintip Rutinitas kota Banda Aceh
Di Jantung Kota Banda Aceh

Saya menginap di kamar 521. Posisinya cukup menarik karena berada di sudut hotel sehingga saya bisa menyaksikan Kota Banda Aceh dari dua sisi.  Dari sebelah barat terlihat menara Masjid Raya Baiturrahman, sementara sebelah timur samar-samar terlihat Gunung Seulawah berselimut senja.



Puncak Seulawah tampak dari kejauhan

Menara Masjid  Raya Baiturrahman tampak menjulang tinggi
Hotel ini letaknya sangat strategis yaitu di jantungnya Kota Banda Aceh. Jika kita hanya punya waktu yang singkat di Banda Aceh, maka menginap di hotel ini adalah pilihan yang tepat.

Beberapa destinasi unggulan kota Banda Aceh cukup mudah dijangkau dari hotel ini. Misalnya, Masjid Raya Baiturrahman yang hanya berjarak 600 meter. Museum Tsunami Aceh sekitar 1 KM. Begitu pula Pusat Kuliner dan oleh-oleh di Peunayong yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki.

Seperti malam itu, saya sengaja berjalan kaki menelusuri jalanan Peunayong untuk mencari makan malam.

“Kali ini kita rasain jadi turis Dek Mat,” ujar saya pada Rahmat, Blogger Aceh yang turut Staycation dengan saya malam itu.

Interior yang Elegan dan Mewah

Kyriad Muraya Hotel Aceh memiliki 126 kamar dengan 6 katagori, yaitu Superior Room, Deluxe Room, Family Room, Business Suite Room, Honeymoon Suite Room dan President Suite Room yang letaknya di lantai paling atas.

Kamar yang nyaman dan tertata rapi

Luas dan Mewah

Kamar saya adalah kelas Deluxe Room dengan single Bed. Kesan pertama saat masuk ke kamar ini adalah interiornya yang elegan. Tata ruangnya rapi dan menarik.

Sebuah sofa empuk sengaja diletakkan manajemen hotel dekat jendela. Di sanalah saya duduk sambil melihat rutinitas kota Banda Aceh.
Karena spot-nya yang menarik ini, saya pun tak tahan untuk menyalakan laptop. Suasana begini memang saat yang asyik untuk berselencar di dunia maya ataupun menulis.


Secara kasat mata kamar ini sebenarnya tak terlalu luas. Namun karena semuanya tertata dengan baik, maka tampilannya terasa nyaman dan mewah. Sebuah TV Flat 40 Inch menggantung di dinding, berhadapan dengan kasur.

Kamar mandi hotel ini juga kesannya mewah. Ruangannya  terbagi dua bagian, yaitu closet dan shower yang terpisahkan sebuah pintu kaca.
Toiletries-nya lengkap dan tersusun rapi di samping wastafel. Sayang, hari itu saya lupa mengabadikan interior “urusan dalam negeri” ini, karena buru-buru ada panggilan alam hehe

Kamar ini juga tersedia fasilitas wifi. Setiap pengunjung mendapatkan username dan password. Tapi entah mengapa, hari itu password saya tidak terkoneksi. Saya pun langsung menghubungi manajemen hotel via telpon yang tersedia di samping kasur.

Menikmati fasilitas wifi 
Tak sampai 20 detik, persoalan wifi pun selesai. Internet yang kencang benar-benar memanjakan saya. Setelah lelah berjalan kaki saya pun merebahkan diri di kasurnya yang empuk. Bantalnya yang lembut membenamkan kepala saya. Segala penat di sekujur badan pun perlahan lenyap.

Saya pun terlelap ditemani suara merdu Ed Sheeran yang mengalun lembut saat menyanyikan Perfect via Youtube.

Daud  Terrace Cafe

Spot lain di hotel ini yang cukup menarik adalahDaud  Terrace Cafe. Posisinya ada di lantai 3 dan view-nya berhadapan dengan jalan raya. Sofa-sofa empuk dan dinding dengan desain kontemporer menjadi kombinasi yang sempurna. Suasanya asyik untuk santai atau sekadar ngobrol bersama keluarga maupun teman.


Menanti secangkir sanger panas 😃





Sstt... Ada Selebgram Aceh 😃
Paginya, saya turun ke bawah untuk sarapan di Al Hambra Resto. Sesampai di sana, saya pun bingung harus memulai dari mana hehe

Pasalnya, hotel ini menawarkan menu yang beragam. Mulai dari jajanan pasar, aneka salad, soto daging, nasi goreng, serta lauk pauk lainnya. Tiga dispenser kaca dengan berisi susu, jus dan infuse water berbaris menemani parade makanan tersebut.


Suka dengan cara penyajiannya

Baiklah, kita mulai dari mana? 
Tapi saya sadar, tak mungkin menikmati semuanya. Pilihan menu saya pagi itu adalah sepiring nasi goreng, dengan ikan asam manis dan semangkuk soto daging. Segelas infuse water melengkapinya. Sepintas, kombinasi ini sebenarnya lebih layak disebut menu makan siang daripada sarapan hehe

Dengan menu sarapan yang ramai dan lezat itu, saya pun berpikir, bagaimana lagi dengan menu makan siangnya? Malangnya, saya tak sempat menjawab rasa penasaran itu sebab harus segera masuk kantor dan baru pulang menjelang sore nanti.

Dek Mat dan secangkir kopi
Ya, akhirnya saya harus kembali menjadi warga kota Banda Aceh. Terjebak di dalam rutinitas kota ini lagi.

Namun, pengalaman bermalam di Kyriad Muraya Hotel Aceh hari itu telah memberikan nuansa yang berbeda dalam hati saya. Ada perasaan ringan saat kembali larut dalam rutinitas kota ini.


Kyriad Muraya Hotel Aceh
JL. Tengku H. Mohd. Daud Beureueh No. 5
Simpang Lima – Kuta Alam
Banda Aceh 24415 – Indonesia
Phone: (+62 651) 630 0123

www.kyriad.com

22 comments:

  1. Wah, bagus sekali.
    Banyak perkembangan bangunan di Aceh ya, bg..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, semenjak Aula hijrah. Aceh terus berkembang :D

      Delete
  2. Seru bangett ibnu..
    kamarnya mewah yaa

    ReplyDelete
  3. Cakep kamarnya ya bg.. Seakan-akan bukan di simpang lima..

    ReplyDelete
  4. Keren, seolah olah seperti berada dalam cerita itu

    ReplyDelete
  5. hotelnya nbagus sekali... semoga dengan adanya hotel-hotel yang bagus seperti ini, membuat Aceh semakin kebanjiran wisatawan...

    ReplyDelete
  6. gak enak di hotel ini, karena saya gak diajak

    ReplyDelete
  7. Replies
    1. Serulah kalau nginap sama keluarga :D

      Delete
  8. Aku pernah tinggal di banda 1.5 thn. Sebelum tsunami tp pindah. Dan baru agustus kemarin aku sempetin ke aceh lg pas mudik ke medan. Ga ngenalin sama sekali. Aceh makin cantik :) . Tp ini hotel kyknya blm ada pas agustus yaa.. Aku ga ngeliat soalnya mas. Di aplikasi booking hotel yg aju pake pun, namanya ga kluar. Msh pgn bgt balik ke aceh. Kmrn blm puas jelajah kulinernya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayoo datang lagi ke Aceh
      Ya, hotelnya baru buka saja buka. Lokasinya dekat Simpang Lima :D

      Delete
  9. Satu lagi hotel mewah di Aceh... semoga pariwisata Aceh makin jaya dengan hadirnya hotel-hotel terbaik :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mudah-mudahan, kalau Aceh aman, insya Allah pariwisata akan berkembang. Karena Aceh sangat potensial :)

      Delete
  10. Waaah, bahagiannya bang ibnu sudah nginap di Kyriad Aceh.
    reviewnya menarik dibaca tuntas dalam sekali baca. Love it.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Makmur,
      Mungkin, lain waktu Makmur bisa menginap di Kyriad dengan mengambil paket Honeymoon Suite :))

      Delete

Powered by Blogger.