Sportivitas Tanpa Doping



Lance Amstrong, juara dunia Tour de France diam-diam mengubah profil twitter-nya. Sebelumnya, ia menjelaskan dirinya di akun media sosial itu sebagai  juara tujuh kali Tour De France selama 1999 – 2005. Kini, yang tertulis di twitter-nya adalah “Membesarkan lima anak, melawan kanker, berenang, bersepeda, lari dan main golf setiap waktu kalau bisa. 

Hal tersebut dilakukannya hanya berselang beberapa jam dari keputusan otoritas balap sepeda internasional (UCI) yang mencabut gelarnya. Lance tak dapat mengelak lagi, setelah badan anti doping Amerika Serikat (USADA) dalam laporannya setebal 1000 halaman itu menyimpulkan, bahwa Lance menggunakan doping yang berlangsung secara sistematis.

Malang benar nasib Lance, karirnya yang begitu gemilang sirna begitu saja akibat zat terlarang tersebut. Padahal ia sempat diagung-agungkan sebagai sport phenomenon. Alasannya, pembalap sepeda bernama lengkap Lance Edward Gunderson ini karirnya terancam gagal, karena dirinya divonis mengidap kanker testis stadium tiga. Lalu pada tahun 1998 ia dinyatakan bersih dari kanker setelah menjalankan serangkaian kemotrapi. Lance kembali bangkit. Ia membuktikan dirinya belum habis.

Setahun kemudian, ia pun memenangkan balap sepeda paling bergengsi di dunia itu. Lance pun menjadi simbol harapan bagi semua orang. Tak hanya bagi penderita kanker, tapi bagi siapapun yang ingin mencapai kesuksesan. Kisah hidupnya pun sering dikutip dalam seminar-seminar  motivasi.

Kini, semua riwayat Lance yang mengagumkan itu pun menjadi ironi. Doping telah mengubah Lance dari Hero to Zero. Lance tak hanya terbukti menyakinkan, ia juga memprovokasi teman-teman setimnya untuk melakukan hal yang sama. Sebenarnya jauh hari USADA telah curiga dengan performa Lance. Ia yang baru terbebas kanker tapi mampu menjuarai Tour de France yang terkenal etapenya paling panjang dan berat itu.



Kasus Lance ini menjadi unik. Karena setiap kali melakukan tes doping hasilnya selalu negatif. Setelah bertahun-tahun USADA melakukan investigasi, akhirnya kasus ini terungkap juga. Ternyata Lance tak sendiri melakukannya. Ia dibantu rekan setimnya termasuk Michelle Ferarri yang merupakan dokter tim balapnya. Mereka melakukan skema doping ini dengan sangat sistematis dan canggih. Lance juga menyebarkan mata-mata untuk mengetahui di mana intelijen anti doping menginap sebelum perlombaan di mulai.

Sebelum bertanding Lance menginjeksikan saline yaitu sejenis cairan garam ke dalam tubuhnya. Hal inilah yang menyebabkan hasil tes doping Lance selalu negatif. Fakta yang ditemukan USADA ini semakin kuat lagi, dengan adanya kesaksian rekan setimnya yang menentang tindakan Lance ini.  Akibat konspirasi buruknya ini. Lance tak hanya kehilangan tujuh gelar bergengsinya, ia juga dilarang tanding balapan sepeda seumur hidup.

Lance hanyalah satu dari sekian banyak atlet yang tersandung kasus doping. Kabar serupa yang masih hangat adalah kasus Lee Chong Wei. Atlit bulu tangkis asal Malaysia itu terindikasi menggunakan doping. Setelah badan anti doping dunia melakukan uji sampel secara acak pada saat kejuaraan bulu tangkis dunia di Kopenhagen, Denmark pada Agustus lalu.

Pemain bulu tangkis peringkat satu dunia ini dinyatakan gagal dalam uji doping yang hasilnya diumumkan pada 1 Oktober lalu. Sementara waktu, pihak Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) memang belum memberikan komentar karena penyelidikan kasus ini masih bersifat rahasia. Namun bagi Lee Chong Wei kondisi ini benar-benar membuatnya terpukul, begitu pula bagi publik Malaysia. 

Padahal ia menjadi harapan Malaysia untuk memperoleh mendali emas pada Olimpiade musim panas  di Rio de Jenero tahun 2016 nanti. Kini, nasib Chong Wei ditentukan dalam sidang dengar pendapat bersama BWF yang kemungkinan awal Desember nanti. Ia terancam sanksi larangan bertanding selama dua tahun.



Begitulah, doping benar-benar menjadi madu sekaligus racun bagi atlet. Kerasnya persaingan serta gengsi yang tinggi dalam dunia olah raga merupakan salah satu penyebabnya. Sebagian atlet rela menghalalkan segala cara demi ambisinya itu. Belum lagi para pelatih yang menerapkan latihan keras demi meningkatkan performa atletnya. Akhirnya, doping pun menjadi jalan pintas untuk meningkatkan kemampuannya secara instan.

Olah raga yang semestinya menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas, menjadi rusak gara-gara perlakuan altet seperti ini. Mereka yang murni berlatih keras untuk meningkatkan kemampuannya, harus rela tersingkir dari panggung juara secara tidak adil. Sanksi tegas dari setiap induk organisasi dunia selama ini, merupakan langkah yang tepat untuk mengatasi masalah ini.

Kisah Lance dan Lee Cong Wei semoga bisa menjadi pelajaran bagi semua atlet. Menang dan kalah dalam setiap pertandingan adalah hal yang wajar dalam setiap kompetisi. Karena yang terpenting dalam dunia olah raga adalah menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas. Jika hal ini dipahami dengan baik oleh setiap atlet. Maka kita tidak akan lagi mendengar cerita atlet yang hero to zero.

No comments:

Powered by Blogger.