Meunasah Kulah Batee, Kesejukan di Tengah Kota Bireuen


Menjelang Ashar, terik masih menaungi kota Bireuen. Namun orang-orang terus menjalani rutinitasnya, kendaraan tak hentinya berlalu-lalang. Kota ini terus begeliat. Menyadari Ashar akan segera tiba, saya dan istri menepikan kendaraan di Meunasah Kulah Batee.

Saat itu, kami tidak langsung masuk tapi istirahat sejenak di halaman Meunasah ini. Ada sebuah taman kecil yang dinaungi sebatang pohon yang rindang. Di sanalah kami melepas penat sejenak sebelum waktu shalat tiba.

Di tengah riuhnya rutinitas kota Bireuen, kehadiran Meunasah Kulah Batee bak oase. Energi spiritualitas mengalir lembut dari tempat ini. Begitu azan tiba, satu-persatu orang keluar dari pasar lalu menuju Meunasah ini. Para pengendara kendaraan bermotor berdatangan untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Meunasah yang tadinya sepi, satu persatu mulai terisi.
Suasana Meunasah Kulah Batee sebelum waktu shalat tiba
Meunasah Kulah Batee letaknya memang sangat strategis yaitu di sekitar Pasar. Meskipun kecil, Meunasah ini tampak bersih dan nyaman. Bahkan di dalam perkaranganya tumbuh beberapa pohon. Menjadikan tempat ibadah ini kian asri.

Salah satu keunikan lain dari Meunasah Kulah Batee adalah, tidak tersedianya toilet. Jadi, kalau kita ingin membuang hajat maka kita harus keluar perkarangan Meunasah. Tampaknya hal tersebut telah menjadi kebijakan pengurus agar meunasah ini tetap terjaga kebersihannya. 

Memang telah menjadi rahasia umum, kalau tempat-tempat ibadah yang berada di pusat pasar cenderung tidak bersih. Tampaknya, hal inilah yang kemudian menjadi pertimbangan pengurus Meunasah untuk tidak menyediakan toilet.


Tengku Sofyan, yang kerap menjadi Imam di Meunasah ini bercerita kepada saya, bahwa asal mula meunasah ini diberi nama Kulah Batee, karena tempat wudhunya yang berasal dari batu gunung. Saya memperhatikan baik-baik wadah besar berbahan batu itu. Ukuranya memang cukup besar, yaitu sekitar 1 X 2 Meter. Lapisannya juga cukup tebal. Batu besar itu diambil khusus dari kaki gunung Gereudong di Bener Meriah. Batu ini kemudian dipahat menjadi wadah besar untuk menampung air wudhu.

Namun menurut Tengku Sofyan, tidak semua bagian batu dipahat. Ada sisi batu yang secara sengaja dibiarkan sebagaimana bentuk aslinya. “Lihat sudut ini,” tunjuk Tengku Sofyan pada sisi batu yang kasar, bentuknya tidak simetris dengan sisi lainnya. “Ini sengaja, biar tampak keaslian batu gunungnya,” jelasnya.

Hari itu, merupakan kali ketiga saya mengunjungi Meunasah Kulah Batee. Setiap kali berada di sini, selalu menghadirkan kesan tersendiri dalam diri saya. Air wudhu dalam kulah bate ini pun terasa sangat sejuk. Setiap kali membasuh wajah, rasanya segunduk penat sirna.
Seorang jamaah duduk di tangga Meunasah Kulah Batee seusai shalat
Selesai shalat, sebagian jamaah tidak langsung pulang. Mereka duduk di dalam meunasah ataupun di perkarangan masjid. Masyarakat benar-benar menikmati suasana tenang dan damai di Meunasah Kulah Batee ini. Meunasah ini telah menjadi penawar baik secara lahir maupun batin dari setiap jamaah yang datang. Bagi siapapun yang ingin me-recharge kembali energi spiritulitasnya.

Di tengah riuhnya rutinitas kota Bireuen, Meunasah Kulah Batee hadir memberikan kesejukan. Berdiri teduh menyambut jamaah yang datang. Untuk mereka yang hatinya kering, untuk jiwa yang merindukan ketenangan.

Darussalam, 12 Juli 2016
Pukul 10:10 WIB





Share this:

ABOUT THE AUTHOR

Hello We are OddThemes, Our name came from the fact that we are UNIQUE. We specialize in designing premium looking fully customizable highly responsive blogger templates. We at OddThemes do carry a philosophy that: Nothing Is Impossible

0 comments:

Posting Komentar