Momentum Perubahan dan Jebakan Waktu

19:34:00


Tahun baru 2017 telah tiba, sebenarnya tidak ada yang istimewa di tahun baru ini. Semua akan tetap seperti semula. Kita akan tetap menjalani ruitinitas yang sama, yang menjadi pembeda hanyalah sikap kita selanjutnya. Menariknya, perubahan sikap kita ini sebenarnya bisa kita lakukan kapan saja. Tanpa harus menunggu pergantian tahun.

Jika kita ingin menjadi pribadi yang lebih giat, kita bisa melakukannya pada tanggal 18 Desember atau tanggal berapapun. Tidak ada prasyarat harus 1 Januari 2017. Begitu pula perubahan sikap lainnya, kapan pun kita merasa ada yang keliru? Maka saat itu pula kita bisa memutuskan untuk berubah atau tidak.

Maka, pergantian tahun sejatinya tidak memiliki makna apapun. Sebab setiap detik dalam hidup kita, pada hari apapun itu  kita bisa berubah. Pola pikir seperti ini pada akhirnya hanya menjebak kita, membuat kita mengulur-ulur waktu untuk bertindak.

Karena dalam islam pun, perubahan itu tidak harus menunggu momentum. Perubahan harus sesegera mungkin. Begitu kita sadar ada jalan hidup kita yang keliru, saat itulah kita harus memutuskan untuk bergerak ke arah yang lebih baik. Begitu pula saat kita menginginkan sebuah pencapaian hidup, sedetik itu pula kita bisa bertindak.

Seperti yang diungkapkan Imam Abu Hamid Al Ghazali:

“Mencari momentum untuk berubah dengan suatu tanggal atau waktu tertentu, adalah sebuah tindakan bodoh"

Saya sendiri juga terkadang masih terjebak pada pola pikir demikian, mengulur-ulur waktu untuk berubah hingga sampai pada momentum yang tepat. Padahal, kita telah memahami bahwa waktu terus berjalan. Menggilas apapun yang ada di hadapan. Tidak peduli kita telah memutuskan ataupun belum.
Maka benarlah, pepatah Arab yang mengatakan, waktu itu laksana pedang, jika kita tidak lihai menggunakannya maka kita sendiri yang akan terluka karenanya.

Lantas, apakah salah jika di tahun baru ini kita menyiapkan serangkain resolusi? Tentu tidak. Hanya saja pertanyaan sederhananya begini? Mengapa harus menunggu tahun baru? Padahal kita bisa memulai serangkaian perubahan itu pada hari-hari sebelumnya.
Sederhananya, jika kita ingin berubah maka  kita jangan mengikat diri dengan waktu. Sebab kita tidak pernah tahu berapa jatah waktu yang Allah berikan kepada diri ini. Ada misteri Allah yang bisa datang tiba-tiba yaitu maut. Jangan sampai kita tersentak tak berdaya, begitu sampai pada ajal sementara kita belum memutuskan apa-apa untuk kehidupan ini.

Maka semua ini, adalah cerita tentang efektifitas kita memanfaatkan waktu. Bagaimana setiap detik hidup kita akhirnya memiliki nilai. Hidup kita kemudian dipenuhi oleh rangkaian ikhtiar yang berujung pencapaian. Bukan hidup yang didominasi oleh penantian tanpa berbuat.

Berubah karena memontum juga akan menjebak pola pikir kita. Misalnya, saat kita memutuskan akan berubah tepat pada 1 Januari 2017. Maka hari-hari sebelum tanggal itu, kita merasa bebas untuk berbuat apapun. Kita menjalani kehidupan seolah tanpa aturan.
Toh, ini terakhir kali karena tanggal 1 Januari nanti saya akan berubah, begitu kalimat yang bersemayam dalam pikiran kita. Kalimat yang menjadi pembenaran bahwa kita boleh berbuat apapun.

Maka pada detik ini, marilah kita evaluasi kembali tentang cara kita menilai waktu. Karena bisa saja, kita tak kunjung berubah karena selama ini telah keliru menyikapi waktu. Sementara pada waktu yang bersamaan, waktu terus berjalan. Menggilas apapun di hadapannya. Mengikis jatah usia yang Allah berikan untuk kehidupan kita.

Darussalam, 3 Januari 2017

*menjelang Dhuha

8 comments:

  1. Subhanallah.. tulisannya stimulus banget ya nu
    hahaa

    ReplyDelete
  2. Luar biasa, ibnu teduh. Memang tulisan menjelang dhuha itu beda, ada nilai kearifan, meskipun harusnya keibnuan.

    ReplyDelete
  3. Tulisan nendang. Makanya saya pribadi tak memandang perubahan atau muhasabah harus menunggu waktu yang tepat tapi kalo bisa harus cepat

    ReplyDelete

Powered by Blogger.