Mengenang Hamka di Rumahnya

21:05:00
Di Depan Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka

Siapa tak mengenal Hamka? Bahkan namanya harum di negeri tetangga. Sebuah rumah sederhana, tempat kelahiran Hamka, menyimpan banyak kenangan tentangnya.
Maninjau adalah danau yang indah. Berada di sini serasa waktu berjalan lambat, karena semuanya tampak begitu tenang. Padi-padi yang mulai menguning di tepi Danau Maninjau, meneduhkan pandangan. Udaranya yang sejuk membuat segalanya begitu syahdu. Soekarno Sendiri pernah mengungkapkan keindahan Maninjau ini dalam sebuah pantun:

Jika Adik Memakan Pinang/Makanlah dengan Sirih yang Hijau/JIka Adik Datang ke Minang/Jangan Lupa Datang ke Maninjau”.

Tapi sebenarnya, bukan hanya karena danaunya saja Maninjau dikenal. Tapi di tanah ini pernah lahir sosok ulama sekaligus politisi yang mewarisi begitu banyak keteladanan. Ialah Haji Abdul Malik Karim Amrullah, dan bangsa ini mengenangnya dengan sebutan Hamka. Di sinilah Hamka lahir, di Kampung Molek Maninjau, Sumatera Barat.
 
Panorama Danau Maninjau, Teduh.
Untuk mengenangnya, rumah kelahiran Hamka kini telah menjadi Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka. Semua penduduk di Maninjau tentu saja akrab dengan nama Hamka. Saat saya bertanya di mana rumah kelahirannya? Seorang Ibu dengan logat minangnya yang kental, tampak begitu semangat menunjukkan arah jalannya.

Menuju ke sini, kita terlebih dahulu disuguhi jalan kecil yang melingkari perbukitan. Pohon-pohon rindang memayungi sepanjang perjalanan. 

Rumah kelahiran Hamka itu letaknya tepat berhadapan dengan Danau Maninjau. Konstruksinya khas rumah adat Minang. Lima Bagonjongnya menjulang. Untuk masuk ke dalam, Kita terlebih dahulu menaiki beberapa anak tangga. Dari luar, tampilan rumah ini tampak begitu mengesankan.

Bunga bongsai setinggi lutut, berjajar bak pagar yang mengiring kita menuju pintu rumah. Dindingnya terbuat dari kayu denga warna keemasan. Empat jendelanya yang juga berbahan kayu terbuka lebar menghadap ke depan. Seolah mengesankan, bahwa rumah ini terbuka bagi siapapun yang datang.
Pintu Masuk Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka
Rumah kelahiran Buya ini dijaga oleh Hanif Rasyid, beliau adalah keponakan dari Hamka. Dengan ramahnya, beliau menceritakan sejarah Hamka bagi setiap pengunjung yang datang. Semua barang di dalam rumah ini, memang menjelaskan tentang Hamka. Seperti sebuah koper besi yang beratnya puluhan kilogram. Dengan koper itulah, Hamka menunaikan ibadah haji ketika usianya masih 18 tahun.

Sebuah kursi rotan dan tongkat miliknya juga ada di sana. Foto-foto Hamka dengan beberapa tokoh nasional melekat di dinding. Seperti dengan Mohammad Nasir, Soekarno bahkan Soeharto. Hamka yang tersenyum di foto tersebut, seolah mengisyarakatkan tidak ada masalah apapun di antara mereka.

 Ada pula rak-rak yang menampilkan dedikasi Hamka pada negeri ini. Yaitu buku-buku karangannya serta beragam tulisannya di majalah. Piagam-piagam penghargaan Hamka juga tegak di rak buku tersebut. Sandingan yang pantas, dari sebuah karya yang berkualitas.

Lalu, di dalam rumah itu terdapat sebuah ranjang yang berbalut kelambu berwarna putih. Tepat 17 Februari 1908, di ranjang inilah Hamka lahir. Untuk mengenang masa kecilnya, sebuah layang-layang besar tersangkut di langit-langit. “Itu adalah kesenangan Buya ketika kecil,” kenang Hanif Rasyid. Hanya saja ada yang kurang, yaitu katapel. Itu juga merupakan mainan kegemaran Buya saat kecil dulu.

Hanif menceritakan sedikit kenakalan Buya, katanya, dulu Buya juga sering melesatkan ketapelnya pada orang. “Yah, namanya anak-anak dulu,” Hanif memaklumi kenakalan Buya itu sambil tertawa. Tapi, mengapa setelahnya Buya menjadi orang yang berarti. Ia dikenang karena jasa-jasanya. Hanif mengungkapkan bahwa rahasianya adalah, karena Hamka membuang kata “N” pada sifat “Nakal”nya. Sehingga yang ia  gunakan adalah akalnya. Filosofi yang begitu sederhana.
 
Salah satu quote yang saya suka dari Hamka

Hanif juga bercerita, Bahwa kalau pergi ke mana pun, Hamka selalu bercerita tentang betapa indahnya Maninjau. Sampai-sampai seseorang dari Belanda bertanya, mengapa bisa demikian? Dan Hamka selalu punya jawaban atas pertanyaan itu. Katanya, ketika Adam turun dari syurga. Sejumput tanah dari kaki Adam terjatuh di Maninjau. Benar atau tidak kisah ini, tapi bila kita melihat peta danau Maninjau yang melekat di dinding rumah Buya itu, memang terlihat seperti sebuah tapak kaki.

Mengenang Hamka, kita seperti menemukan mutiara keteladanan. Sosok manusia sederhana yang menampar egoisme kita sebagai manusia. Kita mungkin masih ingat, bagaimana Hamka rela memaafkan bahkan menjadi imam shalat jenazah di hadapan jasad Soekarno. Tentu ini bukan hal yang mudah.

Padahal, dulunya tepat tahun 1946 – 1966, Hamka pernah di penjara selama dua tahun empat bulan oleh Soekarno. Alasannya, karena Hamka dituduh melanggar UU Anti Subyersif Pempres No. 11. Yaitu merencanakan pembunuhan Soekarno.

Tapi perhatikanlah jawaban Hamka, ketika banyak orang yang menilai bahwa Soekarno munafik dan menanyakan: "Apakah Buya tidak dendam pada orang yang justru menjerumuskan Buya ke dalam Penjara?"
Dengan jiwa besar Hamka menjawab, "hanya Allah yang lebih tahu orang-orang munafik. Dan saya harus berterima kasih, karena selama dalam penjara saya dapat kesempatan menulis tafsir al qurab 30 juza," ungkap Buya.

Atau bagaimana kerelaan Hamka mengajari anak Pramoediya bernama Astuti ilmu agama. Ia datang belajar, karena akan menikah dengan seorang lelaki keturuann Tionghoa. Padahal, Pram sendiri pernah memfitnah Buya sebagai seorang plagiat melalui koran berhaluan komunis yaitu Lentera yang diasuhnya. 
Tapi dengan jiwa besarnya, Hamka akhirnya membimbing menantu Pram itu mengucap syahadat dan mendalami islam.

Ya, mungkin benar kata Yusuf Kalla. Bahwa bangsa ini membutuhkan orang-orang yang berjiwa besar seperti Buya Hamka, yang lantang menyuarakan kebenaran meskipun di hadapan penguasa. Orang seperti Hamka ini, memang selalu dirindukan kehadirannya dan kepergiannya adalah suatu kehilangan besar.

Seperti sebuah foto yang saya lihat di samping pintu rumah Hamka. Tampak ribuan orang mengantar jenazah ulama sekaligus sastrawan ini ke tempat peristirahatan terakhirnya. Maka berada di rumah Hamka, kita bisa merasakan semangatnya lagi. Ia datang, dan mengetuk-ngetuk nurani kita.



No comments:

Powered by Blogger.