Perjalanan Tanpa Membawa Kamera? Why Not?

21:28:00


Mengabadikan perjalanan dengan kamera adalah suatu hal yang menarik. Meskipun itu bukanlah jaminan agar perjalanan jadi berkesan. Karena setiap orang punya caranya sendiri,  bagaimana semestinya menikmati perjalanan


Tempo hari saya dan istri merayakan salah satu momen paling istimewa dalam hidup kami. Malamnya, saya mengusulkan untuk merayakan hari yang berkesan itu dengan jalan-jalan ke tempat wisata.

Istri sepakat, kami akhirnya memutuskan untuk mengunjungi salah satu destinasi wisata di Aceh Besar. Pagi sekali, istri sudah menyiapkan bekal karena rencananya kami akan sarapan di tepi laut.


Di momen yang sangat istimewa itu, tentu ada banyak hal yang semestinya terabadikan dalam lensa kamera.

Tapi hari itu, saya dan istri membuat kesepakatan sederhana. Kali ini, kami tidak perlu mengabadikan momen apapun dari balik lensa kamera HP. Padahal biasanya, kemanapun pergi saya selalu mengambil gambar. Selain untuk kenang-kenangan, gambar itu juga saya gunakan untuk mendukung tulisan.

HP pun saya simpan di dalam tas, begitu pula HP istri. Di sisi lain, tanpa HP kami juga tidak dilalaikan untuk mengecek media sosial ataupun sekadar update status. Kebiasaan ini, juga sebenarnya adalah musuh nyata dalam sebuah kebersamaan.

Hari itu, kami benar-benar ingin menikmati kebersamaan ini sepenuh hati. Istri  awalnya sempat tidak sepakat. Tapi lama-kelamaan ia sendiri tidak merasa ada sesuatu yang hilang. Begitu pula saya. Tak harus sibuk mengatur posisi atau mengecek hasil jepretan.

Tanpa kamera, kami benar-benar menghadirkan diri kami seutuhnya dalam momen yang istimewa itu. Saat sarapan, kami bercerita banyak hal. Lalu berjalan di tepi pasir, membiarkan ombak laut menyapu kaki kami. Semuanya berjalan begitu menyenangkan. Bahkan istri saya sempat berkata, bahwa baginya hari itu sangat spesial.

Keputusan kami untuk tidak mengambil gambar, tampaknya memang sederhana. Tapi nyatanya, tidak mudah dilakukan oleh semua orang. Godaan untuk mengambil gambar itu selalu ada.

Apalagi jika kita berkunjung ke sebuah tempat yang asing, dan bersama orang-orang yang istimewa pula dalam hidup kita. Rasanya sayang sekalikan? Jika momen spesial seperti itu terlewatkan begitu saja.

Tapi jika dipikir-pikir lagi, hal seperti ini sebenarnya bisa mengurangi esensi kebersamaan. Apalagi nanti, kalau kualitas gambar yang kita ambil tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Kita bisa sangat kecewa, atau bahkan kesal dengan orang mengambil gambar. Lalu saat dilihat foto secara keseluruhan, porsi foto yang menampakkan diri kita tak seberapa hahaha

Memang benar, semuanya tetap berpulang kepada pribadi masing-masing. Ada orang yang senang difoto dan ada pula yang cukup puas hanya dengan mengambil foto. Tapi yang harus kita sadari, bahwa ada banyak cara untuk menikmati sebuah kebersamaan. Foto-foto itu hanya sebagian kecilnya saja.

Apalagi jika kita melakukan sebuah perjalanan. Kita bisa bercengkrama dengan penduduk setempat, merasakan kebiasaan mereka. Mendengar cerita-cerita kehidupan mereka. Semuanya terasa jauh istimewa, dibandingkan jika kita hanya sibuk membidikkan lensa kamera.

Dulu, saya pernah mendengar cerita seorang teman yang  harus melakukan perjalanan dua kali jika mengunjungi suatu tempat. Perjalanan pertama, ia benar-benar menikmati perjalanannya. Sementara pada perjalanan kedua kalinya, barulah ia fokus mengambil foto.


Agustinus Wibowo, membantu sebuah keluarga yang memintanya untuk mengambil foto di Museum Tsunami Aceh
Saya juga pernah membaca, bahkan seorang travel fotografi pun tidak serta-merta mengambil gambar terhadap suatu objek. Mereka terlebih dahulu menjadi bagian dari objek itu sendiri. Artinya perhatian utama mereka terhadap suatu objek, baik itu tempat maupun orang, bukanlah lensa kamera mereka.

 Tapi suasana hati mereka sendiri, yaitu seerat apa mereka menjalin ikatan emosional dengan objek.
Ada sebuah quote bagus dari situs phinemo terkait hal ini:

“Paling penting dalam sebuah travel fotografi adalah menikmati perjalanan. Fokus memotret dan tak merasakan pertualanganmu, justru akan membuat kamu frustasi jika hasil fotomu tak kunjung sesuai harapan. Enjoy your trip!”


Yap, menikmati perjalanan tanpa kamera adalah pilihan yang tak biasa. Apalagi kita hidup di dalam kepungan media sosial, seolah segalanya harus segera dikabarkan.  Dunia harus tahu, kita sedang apa dan berada di mana? Hufff

Tak ada yang salah. karena setiap orang tentu punya alasannya sendiri mengapa harus membawa kamera atau tidak? Seperti seorang jurnalis, yang membutuhkan kamera untuk mendukung reportasenya.

Sekali lagi, kitalah yang paling mengerti, apa yang layak membersamai kita dalam perjalanan.

Berilah ruang yang nyaman dalam diri kita sendiri. Jadilah bagian yang utuh dalam setiap episode kehidupan kita. Selembar foto memang bisa memberikan banyak cerita, tapi seberkas makna di dalam diri kita terhadap sebuah perjalanan. Jelas merupakan sesuatu yang jauh sangat berharga.

Simpan kameramu, dan mari kita nikmati perjalanan……



8 comments:

  1. Asyik kali lah yang sudah punya teman travelling, kita apalah, masih sendiri, hahaha.

    Tapi, kayaknya perlu dicoba nanti tu kalau sudah punya pasangan, travelling tanpa membawa kamera. Biar lebih romantis kayak Bg Ibnu dan Istri. :D

    ReplyDelete
  2. setuju, aku pun kalau sedang pulang kampung nggak begitu open sama hape.... beda ya kalau di Banda Aceh, itu hape justru jadi hiburan hahahaha

    ReplyDelete
  3. Hana pat bantah. Memang gadget sebenarnya menyita banyak momen. Klo sekadar dokumentasi, amanlah. Tapi ketika mulai upload, tulis ini itu, baca komen, balas komen, akhirnya lalai.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Abanglah yang harus memberi teladan yang baik :))

      Delete
  4. Kadang jepretan gadget membuat orang itu palsu dalam menikmati moment, ia hanya mengabadikan bukan menikmati moment langka itu. Jadi kapan sparring FIFA? Udah ngga sabar membantai :D

    ReplyDelete

Powered by Blogger.