Narasi “Maknyus” Bondan Winarno

01:21:00
Bondan Winarno (Sumber foto: duniaku.net)
Bondan Winarno telah tiada. Kepergiannya cukup mengejutkan. Tak ada lagi tulisan menarik yang dituliskannya. Tak ada lagi narasi “maknyus yang selalu dinikmati pembacanya.

Saya hampir tak percaya saat mendengar kabar Bondan Winarno telah tiada. Berita duka ini pertama kali saya ketahui diakun Twitter salah seorang tokoh politik Indonesia. Mendengar kabar itu, saya pun langsung menuju akun instagram Pak Bondan, begitu ia kerap disapa. 

 Doa serta kata-kata belasungkawa ternyata telah mewarnai akun penggiat kuliner ini.

Nah, malam tadi istri saya pun mengingatkan kepada saya. Apakah saya tidak berniat untuk membuat tulisan khusus untuk Pak Bondan? Mengingat selama ini Pak Bondan adalah salah satu penulis favorit saya.

Saya pun merenung sejenak. Ah, benar juga.

Nah, tulisan ini saya dedikasikan kepada Pak Bondan untuk semua inspirasi yang telah ia berikan. Untuk semua hal baik yang telah ia tularkan kepada pembacanya.

Bagi saya, kepergian Pak Bondan adalah sebuah kehilangan. Sebab Pak Bondan adalah salah satu rujukan saya dalam menulis.  Beberapa tulisan Pak Bondan juga saya arsip di hardisk.

Bukunya yang berjudul, Jalan Sutra adalah referensi saya dalam menulis seputar traveling. Buku yang secara tak sengaja saya temukan saat mencari bahan skripsi.

Narasi Pak Bondan adalah narasi yang mengalir secara alami. Gaya menulisnya yang story telling selalu menarik untuk diikuti. Sebagai pembaca, tanpa sadar kita pun larut dalam cerita-cerita yang dituliskannya.

Membaca narasi Pak Bondan di Jalan Sutra (Sumber foto: duniku.net
Hal menarik lainnya, adalah kemampuan Pak Bondan mendiskripsikan sesuatu objek. Ia mampu menghadirkan apa yang dilihat, dirasakannya dalam imajinasi pembaca.

Padahal, dalam tulisannya sering kali tidak menyertakan foto. Tapi begitu membaca tulisannya, semua yang dinarasikan terasa begitu nyata.

Misal, saat ia mendiskripskan nikmatnya Rujak Blang Bintang di Aceh Besar. Saya, yang awalnya tak terlalu perhatian dengan rujak yang selalu ramai tersebut. Tiba-tiba saja rasanya penasaran untuk mencicipi kuliner khas Aceh ini setelah membaca reportase Pak Bondan.

Contoh narasi Pak Bondan saat menjelaskan Rujak Blang Bintang.

“Warung ini baru buka pukul tiga petang, dan langsung diantre orang. Penjualnya seorang pria yang terus-menerus mengulek bumbu. Buah-buahan yang sudah dipotong kecil-kecil tersedia di sebuah baskom besar. Sedangkan buah segar yang belum dipotong dipajang memenuhi sebuah meja. Buah-buahannya sangat lengkap: pepaya, mangga, kuini, ubi jalar, nanas, bengkuang, kedondong, ketimun,”

Pak Bondan juga jujur dalam tulisannya. Jika suatu makanan kurang enak, ia akan menilainya apa adanya. Menarasikannya secara porporsional. Begitu pula jika makanan tersebut terasa lezat, tak ada narasi bombastis dari Pak Bondan untuk mengungkapkannya.

Point penting dalam tulisan Pak Bondan sebenarnya adalah ia menguasai secara utuh karyanya sendiri. Ia punya banyak referensi untuk mendukung kualitas tulisannya. Pengetahuannya dalam dunia kuliner cukup mumpuni.

Maka kalau membaca tulisannya, kita tak sekadar mendapat hiburan tapi ada banyak hal baru bisa kita temukan.

Dalam menulis, Presenter Kuliner dengan nama lengkap Bondan Haryo Winaro ini juga menghormati latar belakang pembacanya. Contohnya saat ia menuliskan makanan yang bahan dasarnya adalah daging babi.

Ia sadar, kalau pembacanya berasal dari latar belakang yang beragam. Maka di awal tulisannya, ia terlebih dahulu mengingatkan pembacanya yang muslim. Ia minta maaf jika tulisan ini nantinya membuat mereka tidak nyaman.

Hal-hal sederhana seperti ini jarang sekali saya temukan dalam sebuah tulisan. Saya kira, inilah semangat toleransi yang coba disampaikan Pak Bondan melalui tulisannya. Sebagai seorang muslim, saya pun respect melihat sikapnya demikian.

Seperti jargon maknyus, yang dipopulerkannya. Begitulah saya menyebut tulisan-tulisan Pak Bondan yaitu dengan sebutan narasi maknyus. Narasinya yang ringan dan nikmat dibaca, tak ubahnya makanan yang selalu menggoda.


Kini, Pak Bondan telah tiada. Ia pergi meninggalkan kita semua. Sebagai pembaca dan orang yang belajar banyak dari tulisannya, tentu kepergiannya adalah sebuah kehilangan besar bagi saya.

Terima kasih Pak Bondan, untuk semua inspirasimu. Untuk semua hal baik yang telah kau bagikan. 

10 comments:

  1. Innalillahi Wainnailaihi rojiun
    semoga amal ibadah beliau di terima di sisiNYA aamiin

    ReplyDelete
  2. selamat jalan pak. anda memang benar-benar menginspirasi. jika gajah mati meninggalkan gading, maka manusia mati meninggalkan jasa. kau akan selalu dikenang pak.
    Maknyussss........ tulisannya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Gan, semoga kita bisa mengambil hal-hal baik dari Pak Bondan :)

      Delete
  3. rekam jejaknya sebagai wartawan, memang memungkinkan bagi beliau untuk punya tulisan berkualitas super ya. Tulisan ini pun sudah sangat top markotop. Tapi, untuk 'ah' kenapa dimiringkan?

    ReplyDelete
  4. Tulisan ini, juga maknyus. Sepertinya rasa mendiang Bondan Winarno, sedang kuat dirasa sang penulis. Sederhana, jujur, mudah dimengerti.

    Btw, makasih Nu. Ada satu kutipan penting dari tulisan ini yang jadi pengingat untuk saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terharu awak, tulisan ini bisa menginspirasi penulis dari dataran tinggi seperti abang :))

      Delete
  5. Tulisan Pak Bondan memang maknyuss, suka dengan gayanya bercerita..
    Sosok yang inspiratif!

    ReplyDelete

Powered by Blogger.