Fenomena Dunia Travelling

Akhir-akhir ini dunia travelling semakin banyak peminatnya. Fenomena Travelling ini bisa kita lihat dengan menjamurnya biro perjalanan, termasuk juga tumbuh suburnya akun media sosial seputar travelling. Stasiun TV juga tak mau ketinggalan, sekarang kita bisa menyaksikan begitu banyak tanyangan seputar travelling, yang dikemas semenarik mungkin. Bahkan kini, banyak juga anak muda yang mendedikasikan dirinya sebagai travel blogger.

Tak jarang, tulisan ataupun foto-foto para penikmat travelling ini selalu saja membuat kita cemburu. Mereka keluar dari rumahnya, lalu pergi ke tempat-tempat yang menarik. Menikmati keindahan alam Indonesia, yang mungkin bagi sebagian kita, adalah mimpi yang sulit dijangkau.
Menariknya “racun travelling” ini tak memandang gender maupun usia. Siapa sangka, seorang perempuan bisa sampai ke puncak gunung Rinjani, yang merupakan salah satu gunung tertinggi di Indonesia. Setapak demi setapak ia memanggul  carrier ukuran 50 liter, lalu berpose dengan sumringahnya saat matahari terbit di puncak gunung dengan ketinggian 3726 Mdpl itu.
Suatu Pagi di Kaki Gunung Rinjani

Selain itu, para pecinta dunia pendakian tentu kenal Willem Sigar Tasiam yang merupakan pendaki marathon. Ia bisa “menaklukan” 30 gunung hanya dalam waktu 40 hari. Padahal usianya sudah lebih 50 tahun. Semua ini hanyalah sedikit fakta, bahwa siapapun bisa menjadi seorang traveller.
Meskipun demikian, fenomena travelling juga tak ubahnya dua mata pisau. Di satu sisi, fenomena travelling memberikan dampak yang cukup signifikan dalam promosi potensi wisata suatu daerah. Orang-orang datang berkunjung, lalu masyarakat setempat merasakan manfaat ekonomi dari kehadiran mereka.
dunia travelling
Sunrise di Tebing Gunung Sindoro
Industri kreatif hari ini juga tak lepas dari pengaruh dunia travelling. Misalnya, sering kita lihat perusahaan yang mempromosikan produknya dengan ala traveller. Bahkan dunia literasi juga merasakan dampaknya. Seperti yang diungkapkan Benny Ramdhani,  seorang editor di sebuah penerbit mayor. “Salah satu genre buku yang tinggi peminatnya saat ini adalah travelling,” tulisnya dalam sebuah perbincangan dengan penulis via twitter.

Meskipun demikian, dunia travelling juga memberikan dampak yang negatif. Sebagai contoh, banyak objek wisata yang mulanya indah dan alami, tapi kemudian menjadi rusak karena prilaku buruk para traveller. Seperti mereka buang sampah sembarangan ataupun melakukan vandalism.
Hingga sempat beredar sebuah joke yang cukup menyentil, “kalau ada tempat keren, jangan kasih tahu anak alay. Nanti dirusak sama mereka”.
Kecerobohan mereka juga sering kali berakibat fatal. Seperti kebakaran hutan yang terjadi di gunung Slamet beberapa waktu lalu, akibat ada pendaki yang ceroboh membuang punting rokok. Bahkan ada pula yang sampai kehilangan nyawa. Di Aceh sendiri, cerita pahit seperti ini sudah beberapa kali kita dengar.
dunia travelling
Merah Putih di Plawangan, Gunung Rinjani
Hal inilah yang kerap menjadi perbincangan panas di forum-forum travelling. Banyak yang menilai, penyebab buruknya prilaku para traveller ini adalah karena mereka tidak melakukan persiapan yang matang dalam sebuah perjalanan. Termasuk di dalamnya pengetahuan terkait dunia travelling itu sendiri, seperti tindakan apa yang harus dilakukan ketika dalam kondisi kritis.

Selain itu, faktor lain yang cukup berpengaruh adalah egoisme para traveller. Hanya ingin mendapatkan sebuah foto selfie yang keren, mereka rela menantang maut dengan berpose di tempat yang berbahaya. Hanya karena ingin diakui sebagai traveller, tanpa merasa berdosa mereka melanggar peraturan.
Oleh sebab itu, fenomena dunia travelling ini harus bisa disikapi dengan cerdas bagi siapapun juga. Jika kita ingin mendedikasikan diri menjadi seorang traveller, maka sudah seharusnya kita mengedukasi diri dengan pemahaman yang baik terkait dunia travelling. Agar setiap langkah kita, meninggalkan jejak yang baik. Agar setiap perjalanan kita, menjadi cerita yang berkesan.

Jadi, mari menjadi traveller yang cerdas. Happy travelling!




Membahagiakan Istri dengan Wifi Id

#IndonesiaMakinDigital
Ketika Istri siap-siap login wifi id

Setiap akhir pekan saya dan istri selalu pergi ke warung kopi (warkop). Ini sudah menjadi agenda wajib bagi kami. Di Aceh, warkop adalah tempat yang menarik. Karena hampir setiap warkop di Aceh tersedia fasilitas wifi untuk memanjakan pelanggannya. Uniknya, meskipun fasilitas wifi ini sudah seperti kafe-kafe, tapi harga kopi di Aceh masih terjangkau. Anda mungkin tak menyangka, dengan kopi seharga Rp. 5000/gelas kita bisa menikmati wifi seharian penuh. Free!

Tapi saya dan istri, punya niat yang berbeda jika pergi ke warkop. Saya datang khusus untuk menonton bola, karena akhir pekan adalah jadwalnya Liga Inggris. Sebagai seorang Gooners, menyaksikan laga Arsenal adalah agenda wajib bagi saya. Sementara bagi istri, yang bukan pecandu bola, warkop adalah kesempatannya untuk berselancar di dunia maya.
Mulanya istri hanya memanfaatkan fasilitas wifi yang tersedia di warkop. Lalu saya melihat dia kerap mengeluh karena jaringannya sering lelet. “Kenapa Dek? Lelet ya. Makanya pake wifi id,” goda saya. Mendengar kalimat saya, ia pun menatap saya dengan tersenyum. Dan saya mengerti maksud senyumanya itu.
Semenjak hari itu, istri tak lagi menikmati fasilitas wifi di warkop. Ia sudah terampil membeli paket wifi id via sms. Hanya dengan membeli paket wifi id seharga Rp. 5000, ia bisa menikmati akses wifi yang cepat untuk durasi 24 jam.  Tak jarang jika pulsanya habis, istri menyabotase HP saya untuk membeli paket wifi id. Kalau sudah begini, saya hanya mengernyitkan kening. Istri yang sholeha, gumam saya mendamaikan hati.

Melihat aktivitas istri di internet, saya kian yakin kalau #IndonesiaMakinDigital. Apalagi, istri benar-benar memanfaatkan fasilitas kecepatan akses wifi id ini untuk hal-hal yang bermanfaat. Saya perhatikan, ada tiga hal yang kerap di-browing-nya yaitu makanan, ilmu parenting dan film. Ia menyimpan info-info ini dalam file khusus di laptopnya.
#IndonesiaMakinDigital
Internet juga memberikan banyak pemahaman baru pada Istri terkait dunia parenting

Tidak hanya sekadar menyimpan, terkadang informasi tersebut menginspirasinya untuk berbuat. Misal, beberapa waktu lalu ia terinspirasi untuk membuat brownis kukus hanya karena melihat seseorang mem-posting cara membuatnya. Pernah juga sekali waktu, kami melihat seorang anak perempuan yang cerewet. Lalu istri saya mengatakan, bahwa sebenarnya dia adalah anak yang potensial. Ia bisa menjadi hebat jika orang tuanya membimbing dengan sabar. Ia menjelaskan semua itu layaknya seorang psikolog anak.
“Memang adek tahu dari mana?” Tanya saya penasaran.
“Internet,” ucapnya spontan.

Untuk itulah, saya merasa tak masalah jika harus membeli paket wifi id setiap minggunya untuk istri. Sebagai suami, saya justru merasakan begitu banyak manfaat dari aktivitas istri di internet. Karena hal-hal positif yang ia temukan di internet, diaplikasikanya dalam kehidupan rumah tangga kami.


Maka bagi saya, membeli paket wifi id adalah cara sederhana untuk membahagiakan istri. Sementara bagi dirinya, wifi id adalah jalannya untuk menjadi pribadi yang berarti. 

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Bercerita Telkom #IndonesiaMakinDigital

Aceh Tamiang dalam Kepungan Perkebunan Kelapa Sawit

Hamparan perkebunan  kelapa sawit di Aceh Tamiang.
Jika kita mengunjungi Aceh Tamiang maka kita akan menyaksikan pemandangan yang paling monoton. Begitu melewati perbatasan Sumatra Utara – Aceh, pemandangan yang tersaji hanyalah hamparan perkebunan sawit. Pemandangan seperti ini, akan terus berlanjut hingga kita sampai kembali di perbatasan Aceh Tamiang – Langsa. 

Di Aceh Tamiang, kelapa sawit memang menjadi komoditas unggulan. Saya ingat ketika salah seorang pejabat publik Aceh Tamiang pernah berkata. “Tamiang itu adalah daerah yang kaya, karena di bawahnya minyak (minyak bumi) dan di atasnya minyak (kelapa sawit),” ucapnya bangga. Orang-orang pun bertepuk tangan, sementara saya sebagai orang asli Aceh Tamiang hanya mampu tersenyum kecut.

Pasalnya, pejabat tersebut mengabaikan fakta lain terkait sektor perkebunan kelapa sawit ini, bahwa 80% wilayah Aceh Tamiang telah dikuasai oleh Hak Guna Usaha (HGU) kelapa sawit (Serambi Indonesia, 8/4/2016). Bayangkan saja, angka 80% itu sama maknanya bahwa hampir seluruh wilayah Aceh Tamiang adalah pohon sawit. Ironisnya lagi, HGU ini dimiliki oleh perusahan-perusahan swasta sehingga masyarakat kecil hanya mampu menjadi buruh pada perusahaan tersebut.

Maka wajar saja, kalau angka kemiskinan di Aceh Tamiang masih tergolong tinggi. Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS)Aceh, angka kemiskinan Aceh Tamiang per-Maret 2014 adalah 39,91 ribu jiwa. Angka ini kemudian meningkat kembali pada bulan yang sama tahun 2015 yaitu 40,38 ribu jiwa. Angka ini sekaligus menunjukkan, bahwa sektor perkebunan kelapa sawit tidak berarti banyak dalam mengurangi angka kemiskinan di Aceh Tamiang.

Di sisi lain perkebunan kelapa sawit sebenarnya bisa memicu berbagai masalah baru, yang jika tidak segera diatasi maka bisa menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja. Salah satu permasalahan yang paling genting dari dampak perkebunan kelapa sawit ini adalah, kerusakan lingkungan dan tata ruang Aceh Tamiang

Saya ingat ketika banjir besar melanda Aceh Tamiang pada penghujung tahun 2006. Saat itu kayu-kayu besar dari hulu Tamiang hanyut menuju hilir. Beberapa orang di kampung saya memberanikan diri untuk mengambil kayu besar tersebut. Tak bisa dipungkiri, kalau kayu besar ini adalah hasil perambahan hutan yang dilakukan oleh masyarakat.
Aceh Tamiang saat banjir besar tahun 2006 (Foto oleh Arief Ariadi/EPA)
Hal ini terjadi karena masyarakat terdesak, sebab lahan mereka untuk bercocok tanam kian sempit. Semua ini adalah akibat dari perluasan perkebunan kelapa sawit di Aceh Tamiang yang telah melampui batas. Pada lebaran lalu, saya menyempatkan diri berkunjung ke Tamiang Hulu. Saya ingin menyaksikan sendiri kondisi lingkungan sana. Luar biasa, seluas mata memandang yang saya saksikan hanyalah pohon-pohon sawit.

Perkebunan kelapa sawit tidak hanya mengancam perkenomian masyarakat, tapi juga kelangsungan hidup mereka untuk mendapatkan air bersih. Seperti yang terjadi tempo hari, beberapa desa di Tamiang Hulu seperti desa Wonosari, Harum Sari serta Bandar Setia mengalami krisis air. Tanah-tanah di sana menjadi kering, sehingga penduduk setempat kesulitan untuk bercocok tanam.
Bibit pohon kelapa sawit yang mulai tumbuh di Tamiang Hulu
Ekspansi perkebunan kelapa sawit yang tak wajar, juga menyebabkan kondisi tata ruang Aceh Tamiang menjadi kacau. Sehingga pemerintah kesulitan membangun fasilitas publik. Cobalah lihat kantor-kantor pemerintahan Aceh Tamiang yang ada di Karang Baru. Hampir semua bangunannya berdiri di antara pohon-pohon kelapa sawit. Masyarakat Aceh Tamiang pun bingung jika ingin berwisata, karena tak ada ruang terbuka hijau yang bisa menjadi tempat refreshing.

Maka wajar saja jika beberapa waktu lalu, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Peduli Lingkungan Hidup di Aceh Tamiang, merasa kecewa terhadap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Tamiang. Pasalnya, Pemkab Aceh Tamiang menunda usulan moratorium (jeda sementara) penerbitan Hak Guna Usaha (HGU) baru perkebunan kelapa sawit, sambil menunggu kebijakan nasional yang akan dikeluarkan oleh pemerintah pusat. (Harian Medan Bisnis, 11/6/2016).

Padahal moratorium ini sangat penting. Karena sejatinya ada begitu banyak hal yang harus dievaluasi, sebelum Pemkab Aceh Tamiang menerbitkan kembali HGU. Muhammad Nasir, Kepala Bidang Advokasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh pernah mengatakan, bahwa review izin kelapa sawit adalah agenda penting yang harus segera terealisasikan.

Menurut Nasir, Ekspansi kelapa sawit dalam skala besar telah banyak mengubah fungsi hutan. Selain itu, ketidakpatuhan perusahaan terhadap hukum dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit, menjadi faktor utama terjadinya bencana banjir di Aceh. (Mongabay, 18/8/2016).

Oleh sebab itu, saya berharap Pemkab Aceh Tamiang harus melihat semua masalah lingkungan dari perkebunan kelapa sawit ini lebih jernih lagi. Agar bisa mengambil langkah bijak, sehingga kerusakan lingkungan di Aceh Tamiang tidak semakin parah. 

Saya kira, langkah pertama yang harus ditempuh Pemkab Aceh Tamiang adalah, terlebih dahulu mengubah mindset pembangunannya. Aceh Tamiang bukan hanya sawit! Hal ini harus dipahami betul oleh para pengambil kebijakan. 
Karena sebenarnya ada banyak sumber pendapatan lain yang sangat potensial di Aceh Tamiang, salah satunya adalah sektor pariwisata. Di Tamiang Hulu misalnya, ada begitu banyak objek wisata yang sangat menjanjikan. Seperti Air Terjun Gunung Pandan, Kuala Paret, Air Terjun Tingkat Tujuh dan lain sebagainya. Jika potensi wisata ini dikelola dengan baik, saya yakin Aceh Tamiang tak perlu lagi bergantung pada sektor perkebunan kelapa sawit.

Secara geografis, posisi Aceh Tamiang juga sangat stretegis karena berbatasan langsung dengan Sumatra Utara. Kondisi ini sebenarnya bisa menjadi keuntungan bagi Negeri Bumi Sedia ini untuk meningkatkan sektor perdagangannya. Apalagi telah menjadi rahasia umum, kalau provinsi Aceh memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap Sumatra Utara. Baik untuk kebutuhan pokok maupun energi (listrik).
Kuala Paret, salah satu objek wisata di Tamiang Hulu
Tapi saya melihat, Pemkab Aceh Tamiang tidak memiliki kesungguhan untuk mengembangkan sektor pendapatan baru. Belum ada langkah strategis untuk memanfaatkan segala potensi yang ada. Mungkin, karena fokus pembangunan Aceh Tamiang selama ini hanya dari sektor perkebunan kelapa sawit. Sehingga Pemkab Aceh Tamiang merasa nyaman, lalu tidak memiliki inovasi apapun untuk mengembangkan potensi daerahnya.

Sekali lagi, masih ada waktu untuk mengubah Aceh Tamiang menjadi lebih baik. Mencegah segala macam kerusakan lingkungan akibat dari kepungan perkebunan kelapa sawit yang kian tak wajar ini. Semua ini bisa di mulai dengan terlebih dahulu mengubah mindset pembangunan dari Pemkab Aceh Tamiang, dan tentu saja sebuah keberanian untuk keluar dari zona nyaman.

*Tulisan ini diikutsertakan pada lomba blog "Memotret Pembangunan Indonesia"




Don't Breathe or You Will Die


Film: Don’t Breathe
Genre: Horror, Crime and Thriller
Sutradara: Fede Alvarez
Durasi: 1 Jam 28 Menit

Seperti judulnya, Don’t Breathe mampu membuat kita sulit bernafas. Film ini menyajikan cerita yang begitu menegangkan. Fede Alvarez, sang sutradara berhasil mempengaruhi psikologis kita sebagai penonton dengan alur ceritanya yang tak terduga sekaligus dramatis. Don’t Breathe menawarkan sensasi rasa takut yang berbeda.

Cerita bermula ketika tiga orang pemuda (Alex yang diperankan Dylan Minnette, Rocky oleh Jane Lavy dan Money oleh Daniel Zovato) berinisiatif untuk mencuri di sebuah rumah pensiunan tentara. Rumah tersebut berada di kawasan yang sunyi. Mereka mendapat kabar, bahwa sang pemilik rumah memiliki uang yang banyak. Uang tersebut ia dapat sebagai tebusan karena seseorang yang kaya telah membunuh anaknya.

Mulailah mereka menyelidiki rumah tersebut. Tampaknya, rencana pencurian mereka akan berjalan mudah. Pasalnya, pemilik rumah tersebut adalah seorang lelaki tua sekaligus buta. Namun justru di sinilah masalahnya. Kebutaan lelaki tersebut adalah petaka bagi ketiga pencuri ini.

Setelah berhasil masuk ke dalam rumah. Mereka mulai menggeledah seisi rumah untuk mencari di mana uang tersebut tersimpan. Malang, aksi mereka diketahui oleh sang pemilik rumah yang buta tersebut. Di sinilah cerita semakin menegangkan, karena lelaki buta ini berhasil melumpuhkan salah seorang pencuri yaitu Money. Lalu tanpa ampun menembaknya hingga mati. Sontak saja, Rocky yang berada tepat disisi Money ketakutan.

film don't breathe, resensi film don't breathe

Mungkin dari sinilah judul film ini diambil. Ketika sang pemilik rumah dan Rocky jaraknya hanya beberapa langkah saja. Ia harus menahan nafas agar kehadirannya tidak diketahui. Sementara lelaki buta itu menggenggam Barreta 9 milimeter yang siap menembak apapun.

Alex dan Rocky pun berupaya kabur dari rumah ini, namun setiap pintu telah terkunci. Hingga akhirnya mereka terjebak di ruangan bawah tanah, lalu menemukan sesuatu yang tak terduga. Sesuatu yang kemudian membuat lelaki buta ini semakin marah.

Latar belakangnya sebagai tentara, membuat insting lelaki buta yang diperankan Stephen Lang ini semakin tajam. Ia mengetahui dengan detail setiap sisi rumahnya. Ketika mengetahui dua penyusup rumahnya terjebak di ruang bawah tanah. Ia pun memutuskan aliran listrik, sehingga ruangan bawah tanah itu berubah menjadi gelap gulita. 

www.ibnusyahri.com

Rocky dan Alex nyaris tak bisa berbuat apa-apa. Tapi bagi lelaki buta itu, kondisi gelap justru menguntungkannya. Ia bisa bebas bergerak untuk mencari mereka. Saat itulah Alex hampir saja terbunuh. Meskipun berhasil keluar dari ruang bawah tanah itu, namun Rocky dan Alex masih tetap terjebak di dalam rumah ini. Mereka terus diteror rasa takut.

Cerita pemburuan inilah yang membuat kita berkali-kali harus menahan nafas saking menegangkannya. Bahkan ketika Rocky berhasil keluar dari rumah, ini bukan berarti cerita telah usai. Lelaki buta itu berhasil menangkapnya lalu menyeretnya kembali ke dalam rumah. Apakah dua pemuda ini berhasil lolos dari teror lelaki buta ini? Entahlah.

Don’t Breathe layak dinikmati bagi siapapun pecinta film ber-genre thriller. Tak salah memang,  kalau situs film IMDB memberikan rating 7,4 untuk film yang kabarnya menghabiskan dana $ 9,9 juta ini. Karena Don’t Breathe menawarkan sensasi rasa takut yang berbeda.

Seolah menantang logika, Don’t breathe or you die!  Namun begitulah pesan dari film ini.




Kau, Aku dan Rencana Petualangan Kita

laut, aceh

Saya dan istri sebenarnya memiliki banyak perbedaan. Baik itu prinsip hidup, kebiasaan, bahkan hobi. Istri gemar memasak, tapi saya doyan makan. Istri lebih nyaman di rumah, namun saya lebih senang jalan-jalan.  Selain itu, ada banyak hal lain dari kami yang tak sejalan. Meskipun demikian, semua perbedaan itu tak menjadi masalah di antara kami. Perbedaan itu justru menjadi warna sendiri dalam hari-hari yang kami jalani.

Wiraland Menginpirasi Saya Untuk Berani Memiliki Rumah

The Adamaris Residen by Wiraland Property Group

Saya dan istri baru menikah akhir Mei lalu. Untuk memulai kehidupan yang baru, kami pun mengontrak sebuah rumah sederhana di pinggiran kota Banda Aceh.  Saat itulah, terbesit dalam benak saya untuk memiliki rumah sendiri. Meskipun pendapatan saya kecil, tapi saya tetap bertekad suatu saat nanti harus memiliki rumah. Sebuah hunian yang nyaman untuk masa depan keluarga saya nantinya.

Karena kita adalah Manusia Jet Set

pesawat, travel

Orang Indonesia ini sebenarnya sudah bisa dikatakan manusia Jet Set, begitulah Pak Bondan Winarno memulai tulisannya  dalam serial buku catatan perjalanannya yang berjudul Jalan Sutra. Buku tersebut telah menjadi referensi sebagian orang yang ingin berwisata.

#RayakanKebebasanmu dengan Pulsa Online Tokopedia



Saya menyakini, salah satu penyebab kian populernya dunia travelling dewasa ini adalah karena ketersediaan informasi yang luas bagi masyarakat. Orang-orang dapat dengan mudah mengakses informasi hanya dengan sentuhan jari. Hanya dengan hitungan detik, informasi sudah dalam genggaman.

The Jungle Book: Ketika Anak Manusia Mentaati Hukum Rimba

resensi the jungle book, film

The Jungle Book- adalah film yang diangkat dari novel klasik karya Rudyard Kipling. Dalam film ini, Disney cukup berhasil membawa kita dari fantasi narasi ke fantasi visual. Semua efek yang disajikan dalam film karya Jon Favreu ini benar-benar memanjakan imajinasi kita. Semua terlihat nyata dan sangat natural. Belum lagi pengisi suara dalam film ini adalah tokoh-tokoh kawakan seperti  suara penuh wibawa Ben Kingsley pada si Macan Kumbang Bagheera ataupun aksen beratnya Bill Muray pada si beruang Baloo. Sekali lagi, semua benar-benar natural.

Meredam Rasa Takut

gunung sindoro
Suatu Pagi di Gunung Sindoro

Suatu kali Agustinus Wibowo pernah ditanya, apa yang harus dipersiapkan saat kita memasuki daerah-daerah asing? Selama ini Agustinus, memang dikenal sebagai seorang traveller yang unik. Ia melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang tak biasa. Tempat yang penuh bahaya seperti Afghanistan.
Menarik apa yang dijawab Agustinus terhadap pertanyaan itu. Ia mengatakan, bahwa hal yang paling penting saat kita memulai sebuah perjalanan adalah melepas perasaan takut dalam diri kita sendiri. Karena apa yang berkecamuk dalam diri kita, justru itu yang sebenarnya jauh lebih mengerikan. Lagi pula, terkadang hal yang menakutkan di luar sana seperti yang diucap orang, tidak selamanya benar.

Seperti Afghanistan, negeri ini memang penuh konflik. Tapi negeri ini juga memilki pesona yang tak kalah menariknya. Daerah pegunungan yang indah, penduduk yang unik dan ramah. Segenap keindahan ini  tentu saja tidak bisa kita temukan, bila kita enggan melangkah ke sini. Dan tentu saja, kita akan sulit melangkah kalau dalam diri kita masih berkecamuk perasaan takut.

Melamun di gunung :D


Saya sendiri sebenarnya orang yang penakut. Semenjak kecil saya tak pernah pergi terlalu jauh dari rumah. Maka dulu, saat pertama kali mendapatkan tawaran harus bekerja di Ibu Kota Jakarta. Batin saya berkecamuk. Bayang-bayang buruk menghantui, meredupkan niat untuk pergi merantau. Namun di sisi lain, suara hati saya berkata: Ini kesempatan hanya datang sekali. Cobalah atau kau akan menyesal selamanya?

Setelah diskusi sana-sini. Akhirnya saya membulatkan tekad. Saya akan berangkat merantau. Itulah kali pertama saya pergi jauh dari orang tua. Menuju tempat yang benar-benar asing dalam  hidup saya. Sepanjang perjalanan menuju Jakarta, batin saya masih berdebar. Mengira-ngira apa yang akan diperlakukan kota terhadap saya nanti.

Tapi begitu sampai di Jakarta. Segala pikiran buruk itu menguap. Ketakutan yang dulunya saya khawatirkan, tidak pernah terjadi. Malah, saya menemukan banyak hal baru di kota ini. Di kota Jakartalah, jiwa petualang saya lahir. Kota ini mendidik saya untuk berani berjalan. Meninggalkan zona nyaman lalu menuju tempat-tempat baru. Ada banyak pelajaran hidup yang saya temukan di sini.
Emak saya sempat terkejut, ketika saya menunjukkan foto-foto perjalanan saya selama di perantauan. Saya pun hanya tersenyum menanggapinya. Saat ini, saya mungkin akan tetap di rumah. Tak pernah tahu apa yang terjadi di luar sana. Jika ketika itu, saya lebih patuh terhadap rasa takut, dibanding keberanian untuk mencoba.
rinajani
Kabut di Plawangan, Gunung Rinjani
Rasa takut itu manusiawi. Tak ada yang salah dan tak perlu dihilangkan. Karena pada saat tertentu, rasa takut itu akan menemukan fungsinya. Membuat kita lebih terjaga dan waspada. Hanya saja, kita juga harus mengerti bagaimana memberdayakan rasa takut itu sendiri. Jangan sampai perasaan takut justru membunuh potensi yang ada dalam diri kita.

Ada banyak hal baru di luar sana. Sesuatu yang bisa membuat hidup kita lebih berasa. Tapi kita tidak akan pernah menemukannya, jika kita masih tetap di sini. Menginjak tempat yang sama sepanjang waktu. Maka kita butuh keberanian untuk melangkah, tapi sebelum itu. Kita butuh ketegasan untuk tidak terus larut dalam perasaan takut.





Bandung, Kota "Pelarian" yang Menyenangkan

bandung

Sudah tiga tahun saya meninggalkan ibu kota Jakarta. Meskipun kota ini begitu keras dan menjenuhkan, namun lama-lama saya rindu juga dengan rutinitas kota ini. Setiap pagi, saya telah terjebak dengan kesibukan kota ini dan pulang hampir larut malam.

Subuh dan Cara Kita Menemukan Pagi

subuh

Keterjagaan pertama menjelang subuh adalah tawaran cinta. Akan tetapi, bila kita segera bangkit lalu membasuh wajah dengan wudhu, itulah  namanya cinta yang bersambut. Karena subuh adalah waktu tentang pembuktian cinta. Saat-saat kenikmatan melanjutkan tidur  berada pada titik puncaknya.

Ketika Adrenalin Mengalir Deras di Kuala Paret

Seorang bapak memancing di derasnya Kuala Paret
Rencana yang mendadak memang lebih sering tunai. Dibandingkan perencanaan yang jauh-jauh hari tapi akhirnya hanya harapan kosong. Siang itu, masih pukul 10. Setelah kecewa dengan kondisi Pantai Sarung di Kampung Durian. Saya bersama partner in crime (Acai, Rendy dan Alfandi) pun sepakat untuk menuju Kuala Paret. Sebuah objek wisata di Aceh Tamiang yang ramai diperbincangkan di dunia maya akhir-akhir ini. 

Kalau mendengar cerita serta melihat fotonya, tempat ini terkesan menarik. Selain itu, ada pula cerita tempat ini cukup berbahaya. Sebab ada beberapa orang yang meninggal dunia di sana. Tapi kami, anak-anak Kampung Durian yang "liat akalnya" ini, ingin menyaksikan tempat itu secara langsung.

Narasi Sunyi di Puncak Geurutee


Ada narasi sunyi di Puncak Geurutee, yang tersimpan diam-diam dalam hati.  Tentang perasaan kagum yang sulit diungkapkan. Di Puncak Geurutee, ketika mata memandang luasnya laut Andaman, sejuknya angin yang bertiup lembut dari rimbunan pohon. Ada rasa tenang dan teduh yang tiba di dalam jiwa. Segala keletihan demi menujunya, terurai satu persatu.

Sensasi Mudik dengan Bus Aceh Double Decker

Double Decker Sempati Star mencuri perhatian pemudik di Terminal Batoh

Sebenarnya sudah lama saya ingin mencoba bus Aceh seri Double Decker. Tapi kesempatan itu belum kesampaian juga. Setiap kali pulang kampung, saya hanya bisa menyaksikan bus mewah ini dari balik kaca mini bus L 300. Selain karena harganya yang lumayan, saya juga tidak mau merepotkan orang untuk mengantar saya ke terminal bis Batoh. Tapi saya semakin penasaran, apalagi foto-foto dari bus Aceh seri terbaru ini bertebaran di media sosial.

Akhirnya, menjelang mudik lebaran kemarin impian itu terwujud juga. Saya yang baru saja menikah, dan tahun ini adalah mudik pertama bersama istri. Maka saya merasa tak ada salahnya, jika mudik kali ini harus benar-benar istimewa. Saya ingin perjalanan pertama istri ke kampung halaman saya nanti harus berkesan. Saat itulah terbesit di benak saya untuk memesan tiket Bus Aceh Double Decker.
Ada yang berbahagia, mudik pertamanya di rumah mertua :D
Kepada Costumer Service bus Sempati Star kami memesan dua tiket double decker lantai dua, untuk tujuan Banda Aceh - Kuala Simpang seharga Rp. 270 ribu perorangnya. Istri saya sempat terkejut ketika mengetahui harganya semahal itu. Sampai-sampai dia bertekad, selama perjalanan nanti ia tak mau tidur.

“Adek nanti enggak mau tidur, rugi bayar mahal-mahal tapi cuma tidur,” ucapnya. Saya pun tergelak mendengarnya.

Malam itu, kami sudah sampai di Terminal Batoh 30 menit sebelum keberangkatan. Terminal Batoh malam itu sangat ramai, ada banyak  bus yang terparkir menunggu jadwal keberangkatan. Sambil menenteng koper, saya pun mencari-cari plat bus yang tertera di tiket. Hingga akhirnya sampailah saya di hadapan dua bus Sempati Star double decker.

Dua bus ini terparkir dengan anggunnya. Dari luar, sudah terlihat kemewahan interiornya akibat diterangi lampu-lampunya yang menyala terang. Sementara di sekelilingnya, orang-orang berdiri takjub sambil memandangi bus mewah ini. Body double decker ini memang lebih tinggi dari bus biasanya, karena body-nya memiliki gardang ganda di belakang.


Menikmati kemewahan double decker dari luar
Di badan bus, tertera Mercedez Benz OC500RF 2542 yang merupakan nama seri bus mewah ini. Orang-orang pun tak kuasa untuk tidak mengabadikan kemewahan bus ini dengan smart phone-nya. Sampai-sampai ada yang sengaja masuk ke dalam, meskipun dirinya bukan penumpang bus.

Setelah memastikan barang tersimpan di bagasi, saya pun masuk ke dalam bus. Namun sebelum naik ke lantai atas, saya sempat melirik fasilitas seat lantai satu yang tak kalah menariknya. Joknya lebih luas serta dilengkapi fasilitas cafe. Saya lupa bertanya, tapi yang jelas harga seat lantai satu ini tentu jauh lebih mahal dari yang saya pesan.
Tampilan fasilitas double decker di lantai bawah

Jok yang lebih luas dan lembut benar-benar memanjakan penumpang
Kemudian kami naik ke lantai dua dan mencari seat nomor 9-10. Kemewahan interior yang tadi saya saksikan dari luar, kini benar-benar saya rasakan.  Tampaknya bus ini benar-benar masih baru, sebab pelastik yang membungkus joknya ada yang masih melekat. Pada setiap jok, juga disediakan sebuah selimbut yang begitu lembut, serta sandaran kepala yang nyaman.

Saya tidak tahu, kain jenis apa  yang membungkus jok bus ini. Coraknya menarik dan bahannya yang lembut. Selain itu coraknya juga bisa menyesuaikan dengan lampu di dalam bus, yang tampaknya secara khusus diatur lighting-nya. Jika lampu menyala, corak itu berwarna terang. Namun jika dipadamkan, maka akan timbul corak lain yang tak kalah menarik. Saking terkesannya, saya sempat merekam perubahan corak akibat lighting itu.
Jok yang masih berbungkus pelastik
Selain jok yang nyaman, bus ini juga dilengkapi video mini serta charger hp di setiap tempat duduknya. Fasilitas wifi juga tersedia, singkatnya bus ini benar-benar memanjakan penumpang selama perjalanan.

Saya melihat arloji, menurut jadwal semestinya saya berangkat pukul 20:20 WIB. Namun nyatanya, bus baru berjalan 45 menit setelah jadwal yang semestinya itu. Saya pun coba memaklumi hal ini karena kondisinya sekarang adalah musim mudik lebaran.

Dalam perjalanan, bus memang melaju dengan nyaman. Saya dan istri pun mencoba untuk menikmati perjalanan mudik ini. Setiap kali melewati tikungan, badan bus pabrikan Jerman ini bisa menyesuaikan body-nya dengan baik. Sang istri yang tadinya bertekad tidak tidur, kini malah dirinya duluan yang memejamkan mata. :D
Mari mudik.... :D
Lagu-lagu ratapan cinta Betharia Sonata yang merupakan hak prerogratif supir, mengalun syahdu di sepanjang perjalanan. Pukul empat pagi kami berhenti di Kuta Binjei untuk makan sahur, setelah itu bus kembali melanjutkan perjalanan.

Lalu tepat pukul setengah enam pagi bus berhenti kembali pada sebuah masjid di kawasan Manyak Payed, Aceh Tamiang untuk shalat Subuh. Saya tiba di Kuala Simpang tepat pukul enam pagi. Maka kalau dihitung, waktu tempuh bus ini dari Banda Aceh - Kuala Simpang sekitar 8 - 9 jam.
Berhenti sejenak untuk makan sahur di Kota Binjei, Aceh Timur
Saat itu, sempat terjadi kejadian unik yang semestinya juga menjadi perhatian kondektur ataupun supir bus ini. Pagi itu, tiba-tiba seorang perempuan paruh baya panik. Pasalnya, ia baru menyadari kalau suaminya tertinggal saat shalat subuh tadi.

Saya sendiri sempat mendengar, sebelum bus berangkat perempuan ini sempat mengatakan kalau suaminya masih shalat di masjid. Namun sang kondektur  dengan tenangnya menjawab, kalau suaminya itu sudah naik di lantai satu. Saya tidak tahu bagaimana cerita selanjutnya, tapi saya berharap ibu tersebut bertemu kembali dengan suaminya. Karena  bus juga belum terlalu jauh.
Tetap Garang meskipun berbalut embun pagi
Kejadian pagi itu, menjadi warna lain dalam perjalanan mudik saya. Sesuatu yang semestinya tak perlu terjadi. Saran saya, penting bagi kondektur untuk memastikan kembali setiap penumpang yang naik atau turun. Jangan sampai, gara-gara human error seperti ini justru menjadi kesan buruk di balik segala fasilitas wah bus Aceh double decker ini.

Saya memang bukan pengamat bus yang baik, tapi sebagai penumpang inilah kesan yang saya rasakan saat mudik kemarin. Memang tidak ada yang sempurna, tapi sebagai orang Aceh, saya tetap merasa sangat bangga karena memiliki angkutan umum semewah ini. 

Banda Aceh, 15 Juli 2016
Pukul 16:05 WIB




Hobi Tak Bisa dihakimi


Hobi adalah pilihan hidup yang sulit dimengerti. Sulit, jika tidak kita sendiri yang menjalani. Karena hobi merupakan pilihan hidup yang sangat personal. Di sana, orang melibatkan seluruh perasaannya. Sebab melalui hobi tersebutlah sesorang merasakan, “inilah diri saya”.

Meunasah Kulah Batee, Kesejukan di Tengah Kota Bireuen


Menjelang Ashar, terik masih menaungi kota Bireuen. Namun orang-orang terus menjalani rutinitasnya, kendaraan tak hentinya berlalu-lalang. Kota ini terus begeliat. Menyadari Ashar akan segera tiba, saya dan istri menepikan kendaraan di Meunasah Kulah Batee.

Saat itu, kami tidak langsung masuk tapi istirahat sejenak di halaman Meunasah ini. Ada sebuah taman kecil yang dinaungi sebatang pohon yang rindang. Di sanalah kami melepas penat sejenak sebelum waktu shalat tiba.

Sehari Bersama Agustinus Wibowo



Pesan itu masuk selepas Isya. “Haloo Bang Ibnu, saya akan ke Aceh beberapa minggu ke depan,” tulis sang pengirim. Saya terkejut, sebab pengirimnya adalah sosok yang tak asing lagi. Buku-bukunya telah menjadi referensi saya dalam menulis catatan perjalanan.

Ya, ia adalah Agustinus Wibowo, seorang traveller yang namanya sudah cukup dikenal. Perjalanannya yang tak biasa, yaitu menelusuri Asia Tengah  telah menyedot perhatian banyak orang. Bang Agus, begitu saya memanggilnya, kian dikenal publik setelah ia tampil pertama kali pada acara Kick Andy. Sejak itulah saya semakin penasaran dengan dirinya.

Malam itu saya baru saja siap makan malam bersama istri. Pada istri saya katakan, bahwa nanti saya akan bertemu bang Agus dan menemaninya jalan-jalan di seputar Banda Aceh. Istri saya hanya tersenyum, tanda restu. :D

Dari hasil perbincangan kami  via whasapp malam itu, ternyata Bang Agus ingin melakukan riset untuk buku barunya. Buku itu tentang fragmen-fragmen Indonesia. Sebelumnya, ia telah melakukan riset beberapa daerah di Indonesia. Sebelum ke Aceh, ia telah menghabiskan waktu selama tiga minggu di Toraja.

Di Aceh, ada tiga hal penting yang ingin dirisetnya yaitu pelaksanaan syariat islam, kondisi setelah konflik dan Tsunami, serta pandangan masyarakat Aceh tentang Indonesia. Saya dan Bang Agus pun telah sepakat, kami akan bertemu esok paginya.

“Kemana saja kita nanti?” Tanya Bang Agus.

Lalu saya merekomendasikan beberapa tempat yang menjadi icon wisata kota Banda Aceh seperti Masjid Raya Baiturrahaman, Museum Tsunami, Kapal Apung dan mengunjungi kawasan Ulee Lheu. Mendengar semua itu, spontan bang Agus menjawab.

 “Enggak usah banyak banget deh, satu lokasi saja. Biar saya bisa brainstorming tempatnya,” ucapnya.

Mendengar hal itu, saya pun merasakan sebuah kesadaran baru. Pernyataan Bang Agus itu mengingatkan saya pada cerita di bukunya. Bahwa baginya, tak penting seberapa banyak tempat yang ia kunjungi, namun yang paling utama adalah kearifan atau apa pesan yang bisa ditemukan pada tempat tersebut. Pemahaman seperti ini tentu tak akan diperoleh, bagi mereka yang belum memahami hakikat sepenuhnya sebuah perjalanan.
Buku dan Kamera Agustinus Wibowo 


Saat itu, Bang Agus memang tidak memiliki agenda khusus harus mengunjungi tempat apa. Bahkan menurut pengakuannya, ia masih belum tahu harus menulis apa. “Kita jalan saja dulu,” ucapnya.
Akhirnya, saya pun memutuskan untuk membawa Bang Agus bekunjung ke Museum Tsunami Aceh. Tepat jam setengah 11 siang saya dan Bang Ferhat bergerak menjemput Bang Agus di kawasan Setui. Lalu bergerak ke museum yang hasil rancangan Ridwan Kamil itu.

Di Museum Tsunami, saya memperhatikan baik-baik setiap perlakuan Bang Agus. Saya coba mempelajari bagaimana ia menilai suatu objek. Hal pertama yang ia tanyakan adalah bentuk ornamen pada dinding Museum Tsunami. Kemudian ia mengambil beberapa foto. Nah, saat itu saya dan Bang Ferhat sudah bersiap-siap untuk masuk ke dalam. Namun Bang Agus, masih jeprat-jepret foto  pada objek yang sama berulang kali. Tampaknya ia masih enggan beranjak sampai menemukan sesuatu yang  baru.

Tak hanya berfoto, Bang Agus juga berbincang ringan dengan pengunjung. Hal yang sama juga terjadi di dalam gedung, Bang Agus menghabiskan banyak waktu di setiap objek yang ia datangi. Ia melihat, diam sejenak lalu mengambil gambar. Entah apa yang berkecamuk di pikirannya?
Agustinus mengambil gambar sebuah keluarga


Saat kami masuk ke Lorong Cerobong (Space of Confuse) yang pada dindingnya tertulis nama-nama korban Tsunami. Bang Ferhat menjelaskan, bahwa nama-nama korban tsunami ini bisa ditambah lagi. Siapa yang ingin nama anggota keluarganya tertulis di cerobong ini, maka syaratnya cukup melapor ke pihak pengelola museum.

Mendengar itu, Bang Agus secara spontan menolak. Menurutnya desain cerobong ini sudah benar. “Nama-nama ini sudah pas posisinya, tidak terlalu ke bawah dan tidak terlalu dekat dengan tulisan Allah di atasnya. Inikan maknanya, kita dengan Tuhan itu kecil dan jauh sekali. Dan semua nama-nama ini suatu saat akan menuju Tuhan,” begitu penjelasannya.

Saya mengangguk sepakat, benar juga. Bagaimana Bang Agus bisa berpikir sampai sejauh itu, tentu tidak lahir dengan sendirinya. Bisa jadi, ini adalah hasil dari akumulasi pengalamannya selama menjadi seorang traveller.
Bang Ferhat dan Agustinus di Museum Tsunami Aceh


Selain itu, Bang Agus juga mengkritisi konsep video tsunami Aceh yang diputar di Museum Tsunami. Video tersebut hanya menyajikan detik-detik sebelum tsunami dan beberapa hari setelahnya. Maka yang tampak hanyalah kerusakan dan kesedihan.

 Menurutnya, video itu tidak memberikan apa-apa selain kesedihan. “Lihat, begitu kita keluar dari ruangan ini perasaannya malah jadi tak enakkan?” Ucapnya.

Maka ia menyarankan, semestinya video tsunami Aceh itu bisa memberikan semangat. Ada energi optimisme bagi yang menontonya. “Tsunami Aceh sudah 11 tahun berlalu, masa videonya masih seperti itu,” kritiknya.

Menjelang Zhuhur, saya menuju masjid Raya Baiturrahman. Saya pun mengajak Bang Agus, sementara Bang Ferhat tidak bisa ikut karena harus kembali ke kantor. Selama saya Salat, Bang Agus berkeliling Masjid untuk  mengambil gambar.


Aceh dan Agustinus Wibowo sebenarnya punya ikatan emosional. Sebab ketika Gempa dan Tsunami 2004 silam, Bang Agus sempat menjadi relawan di tanah Rencong ini. Maka ketika kami masuk ke Pasar Aceh, Bang Agus merasa tak asing dengan lokasi tersebut.

Perjalanan kami selanjutnya siang itu adalah menuju Museum Aceh. Sesampainya di sana, ternyata museum tutup sejenak karena istirahat, dan buka kembali pada pukul dua siang. Alhasil, kami menunggu di bawah Rumah Aceh sambil bercerita. Saat itulah saya menemukan banyak hal baru, salama perbincangan dengannya, saya merasakan betul betapa luasanya wawasan seorang Agustinus Wibowo.

“Bangsa kita harus terbuka, kita harus belajar banyak dengan bangsa lain. Kalau tidak, kita akan terus begini, seperti katak dalam tempurung,” ucapnya.
Agustinus memotret tiga orang Anak Aceh di Museum Aceh


Seharian berjalan bersama Agustinus Wibowo hari itu, memberikan banyak pelajaran dalam diri saya. Tentang bagaimana kita melihat sejarah dan masa depan. Tentang bagaimana kita memaknai sebuah objek, dan yang jelas tentang makna perjalanan seutuhnya.

Darussalam, 29 Juni 2016
Pukul 13:58 WIB



Selamat Datang Cinta


Siapa yang menduga lintasan takdir kita akhirnya berpadu. Sebaris kalimat yang kuucap, menjadi awal untuk melalui hidup yang paling ranum bersamamu. Mengubah kegundahan menjadi ketenangan. Melarutkan rutinitas menjadi penuh berkah.

Tugasku, membimbingmu untuk selalu taat kepada Allah. Begitulah satu dari lima nasihat ketua KUA pada kita.
Tak mudah memang, tapi bukankah kita telah buktikan. Bahwa kesungguhan akan membuka jalan. Lagi pula setelah hari ini, tak ada lagi kesendirian. Sebab setiap rindu telah berjalan beriringan.
Bismillah…
Selamat datang cinta…

Sportivitas Tanpa Doping



Lance Amstrong, juara dunia Tour de France diam-diam mengubah profil twitter-nya. Sebelumnya, ia menjelaskan dirinya di akun media sosial itu sebagai  juara tujuh kali Tour De France selama 1999 – 2005. Kini, yang tertulis di twitter-nya adalah “Membesarkan lima anak, melawan kanker, berenang, bersepeda, lari dan main golf setiap waktu kalau bisa. 

Hal tersebut dilakukannya hanya berselang beberapa jam dari keputusan otoritas balap sepeda internasional (UCI) yang mencabut gelarnya. Lance tak dapat mengelak lagi, setelah badan anti doping Amerika Serikat (USADA) dalam laporannya setebal 1000 halaman itu menyimpulkan, bahwa Lance menggunakan doping yang berlangsung secara sistematis.

Malang benar nasib Lance, karirnya yang begitu gemilang sirna begitu saja akibat zat terlarang tersebut. Padahal ia sempat diagung-agungkan sebagai sport phenomenon.

Alasannya, pembalap sepeda bernama lengkap Lance Edward Gunderson ini karirnya terancam gagal, karena dirinya divonis mengidap kanker testis stadium tiga. Lalu pada tahun 1998 ia dinyatakan bersih dari kanker setelah menjalankan serangkaian kemotrapi. Lance kembali bangkit. Ia membuktikan dirinya belum habis.

Setahun kemudian, ia pun memenangkan balap sepeda paling bergengsi di dunia itu. Lance pun menjadi simbol harapan bagi semua orang. Tak hanya bagi penderita kanker, tapi bagi siapapun yang ingin mencapai kesuksesan. Kisah hidupnya pun sering dikutip dalam seminar-seminar  motivasi.

Kini, semua riwayat Lance yang mengagumkan itu pun menjadi ironi. Doping telah mengubah Lance dari Hero to Zero. Lance tak hanya terbukti menyakinkan, ia juga memprovokasi teman-teman setimnya untuk melakukan hal yang sama. Sebenarnya jauh hari USADA telah curiga dengan performa Lance. Ia yang baru terbebas kanker tapi mampu menjuarai Tour de France yang terkenal etapenya paling panjang dan berat itu.



Kasus Lance ini menjadi unik. Karena setiap kali melakukan tes doping hasilnya selalu negatif. Setelah bertahun-tahun USADA melakukan investigasi, akhirnya kasus ini terungkap juga. Ternyata Lance tak sendiri melakukannya. Ia dibantu rekan setimnya termasuk Michelle Ferarri yang merupakan dokter tim balapnya. Mereka melakukan skema doping ini dengan sangat sistematis dan canggih. Lance juga menyebarkan mata-mata untuk mengetahui di mana intelijen anti doping menginap sebelum perlombaan di mulai.

Sebelum bertanding Lance menginjeksikan saline yaitu sejenis cairan garam ke dalam tubuhnya. Hal inilah yang menyebabkan hasil tes doping Lance selalu negatif. Fakta yang ditemukan USADA ini semakin kuat lagi, dengan adanya kesaksian rekan setimnya yang menentang tindakan Lance ini.  Akibat konspirasi buruknya ini. Lance tak hanya kehilangan tujuh gelar bergengsinya, ia juga dilarang tanding balapan sepeda seumur hidup.

Lance hanyalah satu dari sekian banyak atlet yang tersandung kasus doping. Kabar serupa yang masih hangat adalah kasus Lee Chong Wei. Atlit bulu tangkis asal Malaysia itu terindikasi menggunakan doping. Setelah badan anti doping dunia melakukan uji sampel secara acak pada saat kejuaraan bulu tangkis dunia di Kopenhagen, Denmark pada Agustus lalu.

Pemain bulu tangkis peringkat satu dunia ini dinyatakan gagal dalam uji doping yang hasilnya diumumkan pada 1 Oktober lalu. Sementara waktu, pihak Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) memang belum memberikan komentar karena penyelidikan kasus ini masih bersifat rahasia. Namun bagi Lee Chong Wei kondisi ini benar-benar membuatnya terpukul, begitu pula bagi publik Malaysia. 

Padahal ia menjadi harapan Malaysia untuk memperoleh mendali emas pada Olimpiade musim panas  di Rio de Jenero tahun 2016 nanti. Kini, nasib Chong Wei ditentukan dalam sidang dengar pendapat bersama BWF yang kemungkinan awal Desember nanti. Ia terancam sanksi larangan bertanding selama dua tahun.



Begitulah, doping benar-benar menjadi madu sekaligus racun bagi atlet. Kerasnya persaingan serta gengsi yang tinggi dalam dunia olah raga merupakan salah satu penyebabnya. Sebagian atlet rela menghalalkan segala cara demi ambisinya itu. Belum lagi para pelatih yang menerapkan latihan keras demi meningkatkan performa atletnya. Akhirnya, doping pun menjadi jalan pintas untuk meningkatkan kemampuannya secara instan.

Olah raga yang semestinya menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas, menjadi rusak gara-gara perlakuan altet seperti ini. Mereka yang murni berlatih keras untuk meningkatkan kemampuannya, harus rela tersingkir dari panggung juara secara tidak adil. Sanksi tegas dari setiap induk organisasi dunia selama ini, merupakan langkah yang tepat untuk mengatasi masalah ini.

Kisah Lance dan Lee Cong Wei semoga bisa menjadi pelajaran bagi semua atlet. Menang dan kalah dalam setiap pertandingan adalah hal yang wajar dalam setiap kompetisi. Karena yang terpenting dalam dunia olah raga adalah menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas. Jika hal ini dipahami dengan baik oleh setiap atlet. Maka kita tidak akan lagi mendengar cerita atlet yang hero to zero.