Rasa Penasaran adalah Candu

01:06:00
candu, penasaran
Orang-orang sekarang gemar sekali membuat penasaran. Membuat  orang bertanya-tanya seolah adalah sesuatu yang menyenangkan. Apalagi tentang dirinya, yang sejatinya bukan siapa-siapa. Di ranah media sosial, kita sering menemukannya. Jawaban sering kali tidak sesuai dengan apa yang ditanya. Semua itu, demi membuat orang-orang penasaran.

 Misal, seseorang mem-posting tiket perjalanan, lalu orang-orang bertanya kemana ia hendak pergi? 
Pertanyaan kemana? Yang semestinya bisa dijawab ringkas hanya dengan menyebut kota tujuan. Tapi sering kali dijawab dengan ambigu, berputar-putar.  “Enggak ada, cuma cari suasana baru saja,” atau “Ke luar kota bentar hehe,”.

Padahal jelas, pertanyaannya kemana? Bukan mengapa? Tapi begitulah, ada sensasi tersendiri saat orang-orang tidak menemukan jawaban pasti tentang kita. Padahal hal Ini juga ironi, sebab di sisi lain sejujurnya kita sendirilah yang meminta untuk diketahui, tapi secara sengaja pula kita merahasiakannya.

 Tak ada yang salah memang, sebab membuat orang penasaran tetap ada nilai positifnya. Di dunia literasi ataupun perfilman, rasa penasaran menjadi nilai. Sebab membuat orang penasaran adalah salah satu cara menarik  perhatian orang terhadap suatu karya atau produk.

Lihatlah, novel-novel menjadi best seller karena orang-orang penasaran dengan ceritanya, orang rela menonton film sampai habis karena penasaran dengan ending-nya. Rasa penasaran, akhirnya membuat orang rela menggadaikan waktunya untuk menikmati semua itu.

Hanya saja, ketika membuat orang penasaran tanpa alasan yang jelas. Apalagi tentang diri kita yang bukan siapa-siapa, tentu hal ini patut dipertimbangkan? Kita tidak bisa menjadikan sifat seperti ini terus-menerus melekat dalam cara berkomunikasi kita. Membuat orang penasaran, hanya membuat interaksi kita berjalan satu arah.

Bagi orang-orang yang mengerti, apa yang semestinya menjadi prioritas dalam hidupnya. Mungkin ia akan segera mengakhiri rasa penasaran yang demikian. Masalahnya, tidak semua orang sebijak itu.


Membuat orang penasaran semestinya tidak menjadi tradisi dalam interaksi kita. Kesenangan sesaat ini harus kita sikapi sebijakmungkin. Karena pada akhirnya, orang akan jenuh juga. Sebab setiap pertanyaannya selalu kita jawab dengan pernyataan lain yang justru menimbulkan pertanyaan baru. Jika hal ini terus terjadi, orang-orang akan bosan. Lalu kemudian menjadi tidak peduli lagi apapun tentang kita.

Membuat orang penasaran adalah juga tentang pertanggungjawaban. Sebab mulanya, kitalah yang membuka wacana, mengawali cerita. Sehingga menggoda orang untuk ingin tahu. Maka sangat tak arif, jika kemudian membiarkan orang bertanya-tanya. Sementara kita merasa bahagia melihat antusiasnya  mereka yang haus akan sebuah jawaban.

Rasa penasaran adalah sifat yang alami. Tapi membuat orang penasaran adalah candu. Apalagi membuat orang penasaran tentang kita, yang sejatinya bukan siapa-siapa. 

No comments:

Powered by Blogger.