Tak Cukup Sehari Menikmati Tangse

20:24:00


Saya harus bersabar saat supir L 300 yang membawa saya dari Bireuen menuju Beureunuen sengaja berjalan lambat. Sebentar-sebentar ia berhenti, menunggu di mulut lorong jalan. Supir ini, tampaknya memang tak ingin bergerak cepat.

Saya paham, dalam angkutannya ini hanya ada dua penumpang. Tapi bagi saya kondisi seperti ini justru banyak membuang waktu. Berkali-kali saya melihat arloji. Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah 12 siang. Sebuah pesan WA masuk dari Rio, Travel Blogger asal Aceh.

“Rio udah di masjid nih,” tulisnya.

“Oke, L 300-nya too late!,” balas saya.

Pukul 12 lewat 15 menit akhirnya saya sampai di Masjid Abu Daud Beureueh. Di sanalah Rio bersama rekannya Jarnawi menunggu saya.

Hari itu kami telah sepakat untuk menghadiri kenduri Maulid Nabi di rumah Blogger Perempuan Aceh, Liza Fathia di Tangse. Undangan “perbaikan gizi” tersebut, Liza sampaikan 5 hari lalu.

Dan saya langsung antusias ketika mendengar kata Tangse. Inilah tempat yang selama ini bersemayam di benak saya. Destinasi yang belum kesampaian untuk saya jejaki.

Langit Beureunuen membiru saat kami bergegas menuju Tangse. Saya bersyukur mengingat cuaca beberapa hari ini terus hujan. Jarak antara Tangse dengan Beureuenuen sekitar 50 Km, atau membutuhkan waktu 1 jam perjalanan dengan sepeda motor.

Namun percayalah, perjalanan menuju Tangse adalah perjalanan yang menyenangkan. Ruas jalannya memang tak besar, tapi sepanjang perjalanan kita akan menyaksikan pemandangan yang menarik.

Suasana jalan menuju Tangse
Di sisi jalan, aliran air dari parit warga mengalir deras dan jernih. Semakin dekat dengan Tangse udara semakin sejuk. Kabut-kabut tipis menyelimuti rimbunan pohon di puncak bukit. Jika kita perhatikan dari peta, perjalanan menuju Tangse seperti perjalanan membelah provinsi Aceh. 

Sungai dangkal dengan aliran airnya yang jernih 
Kata Rio, dulu Belanda sulit sekali menaklukkan alam Tangse. Bukit yang terjal serta hutan yang lebat menjadi penghalangnya. Lalu, Belanda pun menggunakan gajah untuk menembus batas-batas tersebut.

Mendengar cerita Rio, saya terperangkap antara percaya ataupun tidak. Tapi, melihat medannya yang kami tempuh. Semua cerita Rio tersebut ada benarnya juga.

Setelah 40 menit perjalanan, seketika cuaca berubah. Langit yang tadinya terang benderang menjadi redup lalu hujan pun turun. Perubahan cuaca yang tiba-tiba itu, spontan membuat kami mencari tempat berteduh.

Rio menepikan kendaraannya di sebuah pondok penjual durian. Ah, tempat berteduh yang membuat saya galau. Hujan-hujan begini memang nikmat sekali makan durian. Tapi, mengingatkan kami akan makan besar di rumah Liza nantinya. Saya pun harus bersabar sejenak.

Alternatifnya, sambil menanti hujan reda, kami hanya menikmati jagung rebus. Jadilah! :D 

Rio tanya-tanya durian, beli enggak juga? 😁
Tangse adalah tentang kualitas. Durian Tangse, Beras Tangse adalah bukti bahwa kualitas telah menjadi identitas salah satu daerah di Kabupaten Pidie ini.

Hal itulah yang saya rasakan saat tiba di rumah Liza.  Saat Ibu Liza menghidangkan kami makanan kenduri Maulid. Saya yang sedari tadi telah lapar, tak kuasa melihat sajian makanan yang beragam. Mulai dari telur asin, kuah nangka, daging kari, kerupuk, gado-gado semua berkumpul dalam sebuah nampan besar.

Lalu, perhatian saya tertuju pada semangkuk nasi putih di antara sajian makanan tersebut. Ya, itulah beras tangse. Teksturnya seperti nasi biasa, namun setelah disajikan hangat begini. Rasanya  lebih pulen dan warnanya bersih. Nasi ini mengingatkan saya pada nasi yang biasa disajikan di rumah makan cepat saji.

Nasi tangse yang hangat ditambah siraman kuah kari, lalu dinikmati pada siang yang terik. Benar-benar surga dunia. Hahaa

Tak cukup sampai di situ, sebagai pencuci mulut Liza juga menyajikan lemang. Ah, mantap sekali.  Kami kira segalanya telah usai, namun begitu hendak pulang Liza memberikan lagi kami tiga batang lemang. Benar-benar Tuan Rumah yang baik. 😂

Liza memberikan tiga batang lemang untuk kami. Mantap! 😆
Seusai makan besar itu, kami berjalan mengilingi Tangse.

“Tangse ini kecil, sehari juga habis,” ujar Rio.
Saya hanya diam. Bagi saya rasanya tak cukup sehari menikmati Tangse. Sehari terlalu singkat untuk menikmati berbagai pesona yang ditawarkan tempat  ini.


Welcome to Tangse


Namun apa boleh buat, mengingat hari mulai sore. Kami pun tak sempat mengunjungi beberapa objek wisata Tangse lainnya seperti pemandian air panas ataupun air terjun. Setelah salat Zuhur di Masjid Tangse. Kami pun berkeliling seputar Tangse. 

Setelah itu Rio membawa saya ke atas bukit.  Di sanalah saya melihat hamparan alam Tangse yang menawan. Lahan persawahan tampak menguning, dipeluk perbukitan yang hijau. Tangse berada di atas ketinggian 600-1200 mdpl. Maka wajar kalau udara di sini terasa sejuk.

Alam Tangse
Saya terdiam menyerap berupa-rupa perasaan di hati. Sebuah pemandangan yang menenangkan.
Hari itu saya telah tiba di Tangse, tanah yang sejak dulu saya idamkan. Dari sinilah beras yang saya makan setiap hari ditanam. Tangse memang dikenal sebagai penghasil beras terbaik di Aceh. Pertanian merupakan nadi kota di kaki gunung ini.

Terdiam menikmati pesona Tangse
Saya pun merasa berat saat harus meninggalkan tempat ini. Terlalu cepat untuk meninggalkan Tangse. Tapi, apa boleh buat? Saya harus bergegas kembali ke Bireuen.

Pukul 15:45 WIB, kami pun meninggalkan Tangse. Saat pulang gerimis mulai berdesis. Jujur, ada sedikit perasaan kecewa di hati saya karena harus pulang begitu cepat. Maka sebagai penawarnya, kami pun berencana untuk menikmati hal lain dari perjalanan ini.

Ya, dalam perjalanan pulang  kami berhenti sejenak di Lhok Keutapang untuk menikmati secangkir kopi di Warung Kopi ADN. Kata Rio racikan kopi di tempat ini mantap. Cuaca yang dingin begini memang saat yang tepat untuk menyeruput secangkir kopi hitam.

Kopi Hitam di saat Hujan
Selepas dari warkop di tepi jalan itu perjalanan kami lanjutkan. Lalu saat hari kian senja, kami kembali berhenti di Keumala. Mendengar nama Keumala pikiran saya langsung terbayang dengan warung mie Keumala di warung-warung kopi kota Banda Aceh.  Saya pun penasaran, seberapa nikmat mie Keumala di tanah asalnya.

Kami memesan mi goreng basah dengan taburan daging. Saat mi dihidangkan, sepintas tampilannya kurang menarik. Tekstur mienya agak gelap, kuahnya menghitam. Namun, ketika saya menyeruput kuahnya. Semua anggapan keliru tersebut langsung sirna.

Mi Keumala, Perfect!
Mi Keumala akhirnya menjadi menu penutup perjalanan kami hari itu. Sehari di Tangse memang tak cukup, tapi perjalanan menuju tempat ini telah membenamkan banyak makna dalam diri saya. 

12 comments:

  1. Melihat pemandangan nya dari foto saja, saya merasakan ketenangan.
    sepertinya saya memang butuh piknik ketempat2 yg alami dan sejuk seperti tangse ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Liburan ke temnpat yang masih alami begini memang seru. Pikiran lebih fresh hehe

      Delete
  2. Hawa juga kami makan di kenduri maulid di Aceh. Udah lama kali rasanya ga makan nasi maulid.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pulanglah Bang Ocit, sampai kapan mau makan di Warteg

      Delete
  3. Pemandangannya oke bgt. Jarang travelling aku jd baru tau ada daerah secantik tangse..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah harus mulai direncanakan tahun 2018 ini, travelling ke Tangse :D

      Delete
  4. sunaginay berwaran biru mudakah? indah artinya belum tercemar ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena dekat dengan sumber mata air kali ya :D Ya, masih alami bangett

      Delete
  5. duh, baca artikel bang Ibnu jadi kepikiran mau ke Tangse.
    rencananya kalo jadi nih bang, pertengahan Februari nanti mau melimpir ke Aceh lagi :D

    ReplyDelete

Powered by Blogger.