Perjalanan Tak Mudah Demi (Bertemu) Rasulullah di Raudhah


Mekkah punya Hajar Aswad, Madinah punya Raudhah. Dua tempat inilah yang selalu menjadi perhatian jamaah haji atau umrah jika tiba di Tanah Suci. Orang-orang rela berhimpitan demi mencium batu hitam yang dari surga itu.

Begitu pula saat di Madinah, mereka rela berdiri berjam-jam. Dalam antrian yang sangat panjang dan ramai. Demi tiba di sana. Dalam taman surga, tempat peristirahatan terakhir Rasulullah. 




Raudhah adalah jarak terdekat kita dengan Rasulullah secara lahiriah. Muara segala rindu yang selama ini berdengung-dengung pada kekasih Allah itu.  Kita yang tak pernah tahu apakah bisa bertemu dengan Rasulullah di akhirat kelak, setidaknya telah berupaya membuktikan kerinduan kita secara lahiriah untuk bertemu dengannya di Raudhah.

“Selama di Madinah, perbanyaklah salawat,” begitulah pesan Ustad Hasan saat kami memasuki kota Madinah, pada Jumat dini hari yang dingin.

Saya yang sudah terlelap dalam perjalanan Jeddah – Madinah, tiba-tiba tersadarkan kembali saat kami memasuki kota Madinah. Menara-menara Masjid Nabawi menjulang tinggi. Indah. Tiang-tiangnya dilumuri cahaya lampu yang terang. Sekalipun malam telah larut, namun masjid ini tak pernah sepi.




Hotel saya hanya 50 meter dari Gate 54 Masjid Nabawi. Tapi malam itu, saya tidak segera masuk ke Masjid Nabawi. Harus bersabar hingga Subuh.

Selama di Madinah, saya mengunjungi Raudhah dua kali. Kunjungan pertama pada waktu Dhuha, sekitar pukul 10 pagi. Saat itu, saya sama sekali tak punya gambaran betapa beratnya perjuangan menuju Raudhah.

Saya terdiam saat menyaksikan orang-orang berdesakkan dalam antarian yang panjang. Berbaur dengan jamaah dari berbagai negara. Tak peduli apapun warna kulitnya. Semuanya berjuang dengan hajat yang sama, “bertemu” Rasulullah di Raudhah.

 Para Askar, penjaga Masjid Nabawi, membagi antrian panjang itu dalam beberapa blok. Mereka membatasinya dengan kain putih. Sekitar 45 menit sekali, pembatas itu dibuka. Jamaah yang sedari tadi tertahan, langsung berhamburan menuju blok berikutnya.

Dari tempat saya berdiri, Raudhah sama sekali tak terlihat. Pada jarak yang panjang itu, kita harus melewati sekitar enam sampai tujuh blok. Maka di sini, ketahanan fisik adalah yang utama. Sebab kita harus berdiri berjam-jam untuk tiba di Raudhah.


Secara batin sebenarnya saya belum siap untuk larut dalam antrian menyesakkan  itu. Tapi begitu melihat betapa gigihnya orang-orang, saya akhirnya pun tergoda. Sambil menenteng kantong pelastik berisi sandal, saya bergabung dalam barisan jamaah.

Tekad kita benar-benar diuji. Sudah hampir 30 menit saya berdiri, namun posisi saya hanya bergeser tak lebih 10 meter. Bahkan  blok pertama saja masih jauh.

Tubuh saya terhimpit dengan orang-orang Pakistan. Janggut mereka berwarna merah. Aroma parfumnya menyengat. Namun lisan mereka tak pernah berhenti mengucapkan salawat ke atas nabi.
Raudhah tak luas. Hanya mampu menampung sekitar puluhan jamaah. Sementara yang berhasrat menujunya tak terhitung jumlahnya.

“Tandanya Raudhah, ada karpet hijau,” itulah pesan yang saya ingat.

 Dengan bersusah payah, akhirnya saya tiba di depan mimbar Rasulullah.

Saya berdebar, sebab inilah Raudhah, tempat yang selama ini hanya saya saksikan dalam selembar foto yang biasa dilekatkan pada dinding masjid. Mata para Askar tajam, mengawasi siapapun yang coba-coba berprilaku aneh di area itu.

Namun pada kunjungan pertama itu, saya merasa hampa. Seperti ada yang hilang dalam diri saya, tak ada keharuan. Di Raudhah, saya sebentar saja. Seusai salat sunnah, dan berdoa. Saya keluar melewati makam Rasulullah.



Di luar Masjid Nabawi, saya terdiam. Lalu ber-istighfar. Mungkin ada yang salah dalam niat? Pikir saya. Untuk apa saya ke Raudhah? Apakah benar-benar merindukan Rasulullah atau hanya hasrat duniawi saja.
Setelah hari itu, saya banyak merenungi diri. Saya tak tergesa-gesa untuk mengunjungi Raudhah kembali.

Kunjungan kedua saya ke Raudhah pada Bada Ashar. Dua hari setelah kunjungan pertama. Kali ini perasaan saya lebih siap. Saya datang dengan pakaian terbaik. Membawa tas kecil yang berisikan air minum, dan sandal jepit.



Sebenarnya mengunjungi Raudhah pada waktu Ashar ini cukup berisiko. Sebab waktunya sangat sempit. Para Askar akan menutup akses ke Raudhah 30 menit sebelum Magrib. Artinya, jika kita belum sampai ke Raudhah maka kita akan tertahan dalam waktu yang lebih lama.

Tapi hari itu, saya telah bertekad. Dalam himpitan jamaah saya terus bersalawat. Membuang jauh-jauh pikiran buruk. Meluruskan kembali niat. Perjalanan ini harus dimaknai sebagai perjalanan iman.
Alhamdulillah, saya merasakan banyak sekali pertolongan Allah. Jalan saya seperti dimudahkan Allah untuk menembus setiap pembatas. Belum sampai 30 menit mengantri, saya sudah kian dekat dengan mimbar Rasulullah.

Dan pertolongan Allah paling nyata itu adalah, saya tiba di Raudhah tepat para Askar menutup akses menuju Raudhah. Saya menatap wajah-wajah yang masih tertahan. Mata mereka penuh harap, sesekali mengiba kepada para Askar untuk membuka pembatas.

Saya duduk dua meter dari makam Rasulullah.

“Indonesia… Indonesia… Duduk!” Ucap seorang penjaga berjubah putih. Dari postur dan wajahnya, tampaknya ia orang Asia. Dalam hati, beruntung sekali lelaki itu yang bisa setiap hari bersama Rasulullah.



Waktu Magrib masih panjang. Semua orang yang telah berada di Raudhah terus melafadzakan zikir dan berdoa. Jika ada yang salat, para Askar langsung melarang.
“Tak ada salat setelah Ashar,” mungkin begitulah makna perintah mereka.

Kali ini, suasana di Raudhah terasa lebih khidmat. Waktu yang lapang dan suasana yang nyaman, membuat semua jamaah di Raudhah bisa beribadah dengan tenang.

Dalam lembar-lembar al quran, tanpa terasa pipi pun basah. Tidak hanya saya, para jamaah lain pun demikian. Mereka sesunggukkan menahan tangis. Ada perasaan malu yang tak tertangguhkan saat mengingat semua dosa ketika berada di sisi makam  Rasulullah. Seorang umatnya yang hina, kini mengharap curahan cintanya. Mengadu sebagai insan yang masih tertatih-tatih mengamalkan sunnahnya.

Kerinduan untuk bertemu Rasulullah, hari itu telah menemukan muaranya. Segenap doa saya munajatkan. Raudhah adalah salah satu tempat yang mustajab di Tanah Suci.
Saya bersyukur sekali karena bisa berlama-lama di Raudhah. Menumpahkan segala perasaan. Melangitkan semua doa. Saat itu kita tak perlu khawatir haus, sebab ada petugas yang datang untuk menawarkan air zam-zam pada jamaah di Raudhah.

Dalam tegukkan zam-zam, Saya membayangkan, mungkin seperti ini pula kelak di padang Mahsyar. Saat kita dahaga, dalam terik yang menyengat. Lalu Rasulullah memanggil kita dan menawarkan air minum dari telaga al Kautsar.

Pelipis saya pun menghangat kembali mengingat semua itu.


Azan Magrib tiba, saya bisa melihat dengan jelas  ketika Muazzin mengumandangkan azan. Suara iqamah, dilanjutkan lantunan merdu sang imam berpadu menjadi sebuah keharuan lain di Raudhah.

Jika dihitung, saya berada di Raudhah sekitar satu jam setengah. Ada perasaan berat saat harus meninggalkan Raudhah. Dalam sujud yang panjang, sekali lagi saya memunajatkan doa. Memohon ampun kepada Allah,  dan berharap semoga Allah pertemukan kembali pada Rasulullah di akhirat kelak.


Saya keluar melewati makam Rasulullah, yang bersamanya bersanding dua sahabat yang mulia. Abu Bakar As Siddiq dan Umar bin Khatab. Pintu keluar terlihat begitu jelas, tapi seperti jamaah yang lain, saya sengaja melambatkan langkah.

Para Askar terus berteriak agar jamaah bergegas. Tak ada yang peduli.
Hati mereka telah terpaut di Raudhah. Muara segala rindu yang paling rindu.

 Selasa, 12 Rabiul Awal 1434 H
20 November 2018
Pukul 21: 28 WIB



4 comments: