Tujuh Pengalaman Mengesankan Selama di Tanah Suci

01:29:00


Di antara banyak tempat terbaik di dunia, dua kota suci yaitu Madinah dan Mekkah al Mukaramah adalah tempat yang selalu bersamayam di dalam benak saya. Dua kota suci yang Allah karuniakan begitu banyak keberkahan.

Bagaimanapun keterbatasan yang saya miliki saat ini, hasrat untuk mengunjungi tempat tersebut tak pernah padam. Alhamdulillah, mimpi itu Allah jawab. Pada pertengahan April lalu saya berkesempatan untuk menziarahi dua kota suci tersebut.



Selama berada di Tanah Suci, semuanya terasa begitu istimewa. Debar yang saya rasakan begitu berbeda. Saya berada di sana selama 12 hari, dengan rincian lima hari di Madinah dan tujuh hari di Mekkah.

Nah, berikut tujuh pengalaman mengesankan selama di Tanah Suci.

Pertama, Bersemangat Menunaikan Salat Tepat Pada Waktunya.

Bergegas menuju Masjid
Tak pernah saya melihat orang-orang yang begitu antusias menunaikan salat tepat pada waktunya selain di Tanah Suci ini. Begitu azan tiba, orang-orang keluar dari mana saja lalu menuju Masjid Nabawi ataupun Masjidil Haram. Jalanan yang awalnya lengang, tiba-tiba ramai. Toko-toko tutup sejenak. Mereka berbondong-bondong menuju masjid. Seperti ada magnit yang menarik mereka.

 “Orang di sini pikirannya cuma ibadah saja,” kata Emak saya.

Benar saja, orang-orang begitu menjaga waktu salatnya. Bahkan, banyak yang tetap tinggal di masjid. Mereka mengaji, berdoa bahkan tidur hingga tiba waktu salat berikutnya.

Suasana selepas Jumat di Masjid Nabawi
Pemandangan seperti itu memberikan kesan tersendiri bagi saya, sekaligus menjadi termotivasi untuk mengejar keutamaan salat yaitu berjamaah di masjid.

Saat menyaksikan orang-orang begitu bersemangat menuju masjid, kita pun merasa malu sendiri jika masih menunda-nunda waktu. Apalagi jarak kita sudah begitu dekat dengan masjid yang hitungan pahalanya beribu kali lipat dari masjid biasa.

Kedua, Menziarahi Rasulullah di Raudah


Raudah, salah satu tempat mustajabnya doa
Pertemuan apalagi yang paling kita rindukan selain bisa berdampingan dengan Rasulullah. Maka Raudah adalah adalah luapan muara dari segala kerinduan itu. Jika di Mekkah tempat yang menjadi perhatian jamaah adalah Hajar Aswad, maka di Madinah adalah Raudah. Sebab di sinilah Rasulullah dimakamkan. Di tempat ini pula bersemayam dua sahabat Rasulullah Abu Bakar As Siddiq dan Umar bin Khatab.

Raudah letaknya di dalam masjid Nabawi. Maka ketika masuk ke dalam masjid Nabi ini kita sudah merasakan debar yang berbeda. Kita serasa begitu dekat dengan Baginda Rasulullah dan kedua sahabatnya itu.

Antrian Panjang Menuju Raudah
Saya sering menyaksikan foto-foto Raudah yang biasa dilekatkan pada dinding masjid. Suasananya tampak lenggang. Tak ada seorangpun di sana. Maka, saya terkejut saat tiba di masjid Nabawi lalu menyaksikan orang-orang dalam antrian panjang untuk sampai ke Raudah.

Mengunjungi Raudah memang butuh perjuangan, kaki kita harus kuat berdiri berjam-jam. Berdesakkan dengan orang-orang Arab yang berubuh besar. Petugas membagi jamaah dengan pagar pembatas. Selama mengantri kita dianjurkan untuk memperbanyak salawat.

Namun semua perjuangan itu terbayar lunas saat kita berada di Raudah. Ada keharuan saat jarak kita begitu dekat dengan jasad baginda Rasulullah. Tanpa sadar pipi saya basah menahan keharuan.

Ya Nabi, Salam Alaika...
Raudah tak begitu luas, kalau dihitung-hitung luasnya mungkin seluas lapangan basket. Namun inilah salah satu tempat yang mustajab untuk berdoa. Untuk itulah, petugas membatasi jamah untuk beribadah di sana.

Dan saya beruntung, bisa berlama-lama di Raudah. Bagaimana ceritanya, mungkin nanti saya akan menulis posting-an tersendiri untuk cerita ini hehe.

Ketiga, Meneguk Air Zam-Zam Sepuasnya

Meneguk sepuasnya Zam-Zam
Air zam-zam adalah oleh-oleh khas yang dibawa oleh jamaah jika pulang dari Tanah Suci. Karena jumlah yang dibawa terbatas, maka para jamaah harus cermat membaginya. Wajarlah, jika kita pun hanya bisa mencicipinya sedikit. Hanya sebuah gelas kecil, yang sekali teguk sudah ludes.

Tapi di Tanah Suci, semua karunia itu seolah tanpa batas. Kita bisa meneguk air zam-zam sepuasnya. Galon-galon besar serta keran-keran air zam-zam tersedia di setiap sudut masjid, baik itu di Masjid Nabawi maupun Masjidil Haram. Petugas juga menyediakan cangkir pelastik untuk para jamaah.

Namun ada satu yang perlu diperhatikan, bahwa tidak semua keran di masjid adalah air zam-zam. Karena banyak juga keran yang isinya hanyalah air biasa. Saya perhatikan banyak jamaah yang tidak mengetahui hal tersebut, padahal sudah jelas tertulis “Mineral Water”.

Saya sempat mengingatkan seorang jamaah asal Malaysia atas kekeliruan tersebut. Alih-alih mendengar himbuan saya, dia malah semakin mantap menuangkan air keran tersebut dalam botolnya. Baiklah, keyakinan orang kan tidak bisa dipaksa hehe..

Galon-Galon Air Zam-Zam di dalam Masjid

Air zam-zam disajikan dengan dua kondisi, yaitu dingin dan biasa. Jika cuaca sedang terik, air zam-zam yang dingin memang terasa sangat segar. Saya sendiri lebih suka yang dingin, sekalipun itu meminumnya pada waktu Subuh. hehe...

Biasanya, jamaah minum air zam-zam sebelum dan sesudah salat. Kita pun diperbolehkan untuk membawanya ke penginapan, dengan mengisinya pada botol-botol air mineral.  Inilah rutinitas wajib setiap kali saya pulang dari masjid. Saya membawa 1 – 2 botol, memasukkanya dalam tas. Saya memang telah bertekad, selama di Tanah Suci saya hanya minum dari air zam-zam.

Uniknya, air zam-zam ini juga membuat kita kenyang. Kalau kita ingin berlama-lama di masjid dan tidak membawa makanan. Maka tidak usah khawatir, kita cukup meminum air zam-zam. Insya Allah, perut kenyang dan ibadah pun tenang hehe

Keempat, Salat di hadapan Kabah


Saat jarak dengan Kabah begitu dekat.

Saya sulit untuk mengungkapkannya dengan kata-kata saat pertama kali melihat Kabah. Jika selama ini saya hanya menyaksikannya di atas sajadah, maka kini semuanya tampak nyata di hadapan mata.

Kabah letaknya di lantai dasar, jadi saat kita turun dengan menggunakan eskalator. Maka kita bisa menyaksikan Kabah secara perlahan. Saat itulah perasaan haru dan syukur berpadu, ketika untuk pertama kalinya saya menyaksikan Kabah secara nyata.

Kabah berdiri kokoh di hadapan, dengan berselimut kain hitam. Benang-benang emas tersulam indah di  sisinya. Di salah satu sudutnya, tersemat Hajar Aswad, itulah batu hitam yang menjadikan setiap jamaah berhasrat untuk menciumnya. Sementara di sekitar Kabah orang-orang tak henti bertawaf sambil mengucapkan kalimat talbiyah.

Suasana Thawaf di sekitar Kabah

Saya juga berdebar saat pertama kali menyentuh Kabah. Saya memejamkan mata lalu menciumnya dengan sepenuh hati. Inilah Kabah, yang selama ini menjadi kiblat kita dalam salat. Maka rasanya istimewa sekali jika kita bisa salat dengan posisi tepat di hadapan kabah. Duduk berdizikir dan bermunajat kepada Allah sambil menatapnya.

Kelima, Salat dengan Imam yang Bersuara Merdu


Para imam di Masjidil Haramn dan Masjid Nabawi adalah orang-orang terpilih. Mereka tidak hanya memiliki bacaan yang fasih, tapi juga suara yang merdu. Sebagian suara emas mereka  mungkin sudah sangat familiar di telinga kita karena sering mendengarnya di Youtube.

Salah satu imam yang menjadi favorit saya adalah Syeikh Al Ghamidi. Maka ketika tiba di Masjidil Haram, saya berharap bisa salat dengan diimami beliau. Tapi, sampai hari terakhir di sana saya tak juga mendengarkan suara emas itu.

Namun harapan tersebut cukup terobati, karena para Imam Besar di sini memiliki suara yang menyentuh. Saya beberapa kali menemukan Imam yang tersedu-sedu saat membaca potongan ayat al quran. Jamaah pun larut dalam keharuan.

Benarlah, di Tanah Suci, kita benar-benar merasakan nikmatnya salat. Sebab tempat yang mulia serta imam yang bersuara merdu berpadu.

Keenam, Melihat Jejak Perjuangan Rasulullah

Di sini bersemayam Syuhada Uhud
 Selama ini sejarah perjuangan Rasulullah dalam berdakwah mungkin hanya kita dengar dalam ceramah-ceramah, ataupun buku-buku shiroh Nabawiyah. Tapi ketika tiba di Tanah Suci, kita bisa menyaksikan sendiri jejak-jejak perjuangan itu.

Ada banyak tempat yang bisa kunjungi untuk melihat bagaimana beratnya dakwah Rasulullah kala itu. Salah satunya adalah Gunung Uhud, di mana nyawa Rasulullah nyaris hilang karena terkena panah kaum kafir saat Perang Uhud.

Kaum muslimin yang ketika itu mengira mereka telah menang, ternyata kondisi berbalik arah. Para pemanah kaum kafir naik ke atas bukit yang ditinggalkan kaum muslimin. Mereka menyerang kaum Muslimin yang ketika itu sibuk mengambil ghanimah (harta rampasan perang).

Baqi, Makam 1000 Syuhada
Saya berdiri bawah kaki Gunung Uhud, mengenang semua cerita heroik tersebut. Cuaca yang terik dan gunung yang terjal adalah sedikit gambaran betapa beratnya perjuang Rasulullah dan para sahabat ketika perang Uhud. Di sana, juga bersemayam para syuhada Uhud, salah satunya adalah Paman Nabi yaitu Hamzah.

Beberapa tempat lain yang layak kita kunjungi untuk mengenang perjuangan Rasulullah adalah Gua Tsur, Gua Hira, serta Baqi yang merupakan tempat bersemayamnya 1000 syuhada. Tempat-tempat ini benar-benar menggugah iman kita, sebab kita bisa membayangkan sendiri bahwa  untuk menegakkan risalah ini tidaklah mudah. Ada banyak nyawa yang menjadi hilang, ada banyak rasa sakit yang diderita Rasulullah serta para sahabat.

Ketujuh, Menghadiri Majelis-Majelis Ilmu

Majelis Ilmu di dalam Masjid Nabawi
Pemandangan lain yang lazim kita temui selama di Tanah Suci adalah hadirnya majelis-majelis ilmu. Selepas salat, seorang Syeikh duduk bersama kitab lalu membahas suatu persoalan agama. Orang-orang khidmat mendengarnya.

 Jika kita tak bisa berbahasa Arab, tidak usah khawatir. Sebab kita bisa menghadiri majelis ilmu lain yang menggunakan bahasa melayu. Beberapa negara lain juga memiliki majelis ilmunya sendiri.

Selain itu, kita juga bisa menguji bacaan al quran kita dengan ahli tahsin di sana. Bacaan pertama yang diujinya adalah al fatihah sebab ini adalah bagian dari rukun salat. Semua orang yang hadir diuji secara bergilir.  Semua majelis ilmu ini gratis. Tinggal kemauan kita saja untuk menghadirinya.

 Saya perhatikan, orang-orang tampak begitu antusias hadir di setiap majelis ilmu ini. Baik orang tua maupun anak muda.  Mereka khidmat menyimak selagi menanti waktu salat tiba.

Saya dan Mamak, semoga Allah panggil kami kembali ke tempat yang mulia ini.

Inilah Tanah Suci, tempat yang memberikan kesan mendalam. Tempat yang mampu menguatkan kembali keimanan kita sebagai muslim. Maka mengunjungi Tanah Suci ini bukan sekadar perjalanan, tapi panggilan keimanan yang semestinya kita tunaikan.

Mudah-mudahan, Allah berikan keberkahan rizki kepada kita, badan yang sehat, sehingga Allah izinkan kita untuk menziarai Tanah Para Nabi-Nya ini. Aamiin ya Allah.




5 comments:

  1. Banyak pencerahan nih, semoga suatu saat bisa menunaikah ibadah ke Tanah Suci, Aaamiin.

    ReplyDelete
  2. Merinding bacanya mas. Insya Allah 25 okt besok aku akan umroh ksana. Ga sabar rasanya melihat tempat2 yg mas tulis diatas, juga ngerasain khusyukna solat di sana :).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah semoga Allah lancarkan hingga hari H Mbak dan bisa menjalankan Umrah dengan baik. Selamat merasakan manisnya Iman😄😄

      Delete
  3. Semoga lon jeut teuka keunan, pingin kali lah, menginspirasi bang tulisannya #cakep gambar2

    ReplyDelete

Powered by Blogger.