Dengung Cemburu

19:13:00
Ini Subuh ke tiga, di mana aku tak lagi menemukanmu di shaf terdepan. Selepas salam kucoba memalingkan wajah ke belakang, berharap kau ada. Mungkin saja kau masbuk, melanjutkan rakaat yang belum tuntas. Sepi.
Kau adalah lelaki yang mengajarkan aku mencintai Subuh.


“Ribuan malaikat turun ke bumi, mendoakan kita,” ucapmu. Aku terkisap. Tapi kini, apa yang terjadi dengan dirimu kawan?

Semenjak kau goda aku untuk menerbitkan rindu pada Subuh. Semenjak itulah jiwaku menghangat setiap kali azan Subuh berkumandang. Aku menemukan diriku lebih sungguh untuk menyambut seruan cinta itu. Kugadaikan lelapku demi membuktikan betapa ranumnya Subuh. Dan bagiku, seolah ada lubang, bila hari ini tak kuupayakan diriku di shaf terdepan.

Sementara kau, selalu menjadi yang lebih awal. Selalu di sana.Telah duduk  di barisan shaf depan. Membaca baris-baris cinta Tuhan hingga tibanya waktu. Maka Subuh, telah mengenalkanku padamu dengan cara yang indah. Pada cemburu dengan dengungnya yang tak kumengerti. Sebab, kecemburuanku tidak menerbitkan benci. Tak pula menyulut dengki.


 Gemuruh cemburuku adalah dengungan jiwa yang membuatku rela. Membuatku malu. Yang semua rasa itu bermuara pada wilayah jiwa yang semestinya. Dan aku, selalu menikmati rutinitas kita setiap kali Subuh usai. Kita berjalan menelusuri jalanan yang masih gulita, dengan bintang yang satu-satu masih berkelip. Seolah mutiara yang Tuhan taburkan di langit sana. Lalu kau bercerita tentang rindumu, bahwa kau selalu ingin menemukan pagi yang seperti ini. Pagi yang indah.


Ini Subuh ke tiga, di mana aku masih menantimu.  Aku ingin tahu kelanjutan rindumu.  Tapi kau telah hilang tanpa jejak. Tidak menyiratkan kabar apapun bila memang pergi. Apakah jalan cinta ini tak lagi menarik bagimu? Belum. Aku belum berani menyimpulkan semua cemasku  ini ke sana. Sebab kuyakin kau ada. Mungkin saja kau tengah merangkai jalan cinta yang lebih istimewa.

Aku yakin. Sebab hingga kini, masih kurasakan dengung cemburu itu.

Jakarta, 29 Mei 2013
*ketika kota ini memulai paginya. 


No comments:

Powered by Blogger.