Diam yang Mencelakai

20:32:00


Ketika berada di puncak Rinjani, tanpa sengaja kaki saya menyenggol sebuah batu yang posisinya tepat di tepi jurang. Ukurannya sekepalan tangan. Batu itu pun terjatuh, menghantam bongkahan batu lainnya, lalu  menggelinding tak beraturan ke dasar kawah. Saya bergidik . Ada denyut kengerian yang saya rasakan. Sebab di bawah sana, pada dasar kawah yang tertutup asap itu. Siapapun yang terjatuh, segala kengerian menjadi tak terbayangkan.

Tergelincirnya batu itu, menghadirkan kesadaran baru dalam diri saya. Tentang perasaan aman yang sering kali menjebak. Perasaan tak peduli yang kemudian menjadi petaka. Batu itu, yang letaknya tepat di tepi kawah dan entah semenjak kapan berada di sana. Sekiranya kita analogikan batu itu sebagai makhluk, tentu ia tak akan pernah menduga, ia akan terjatuh hanya karena sentuhan kaki yang tak saya sadari.

Begitulah kita, yang kadang merasa sudah aman. Lalu merasa tak peduli dengan sekitar. Padahal kita sadar, bahwa kita berada begitu dekat dengan segala kerusakan. Kita berada di antara kekacauan moral yang semakin menjadi-jadi. Lihatlah kini, di televisi misalnya. Sesuatu yang tak pantas telah menjadi tontonan yang layak disaji. Lalu tanpa sadar semua akibat buruk dari tayangan itu sampai juga pada diri kita, keluarga ataupun orang-orang terdekat kita. Akibat buruk itu Menyebar deras karena mulanya tak ada yang peduli.

Tempat tergelap di neraka, dicadangkan bagi mereka yang tetap bersikap netral di saat krisis moral” Begitulah yang tertulis dalam novelnya Dan Brown, Inferno.

Ya. sikap seperti ini hanya akan menjadi bom waktu dalam kehidupan kita sendiri. Rasa aman yang menjebak, perasaan cukup yang semu. Maka menjadi peduli bukan hanya tentang cara kita memberi, cara kita melindungi, ataupun tentang menjadi orang yang turut berarti.

Peduli adalah juga tentang menjaga diri kita. Cara kita merawat masa depan dengan segenap nilai yang baik. Oleh karenanya, narasi yang selalu dilekatkan bagi mereka yang peduli adalah bahasa ketulusan. Sebab orang yang peduli sadar, bahwa ini demi rasa aman yang kolektif. Maka egoisme harus luruh di sini.

Lagi pula, menjadi peduli adalah sikap semestinya dari seorang muslim. Seperti yang diungkapkan Rasulullah; “Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada hambaNya di hari kiamat sehingga Dia berfirman: Apa yang menghalangi kamu apabila melihat kemungkaran, namun kamu tidak mencegahnya? Maka dia pun menjawab: Aku takut kepada manusia. Maka Allah berfirman: Aku lebih berhak untuk engkau takuti” (HR. Imam Ahmad)

Setelah suara batu yang jatuh itu tak lagi terdengar. Saya terduduk di tepi kawah. Terdiam dengan pandangan masih tertuju pada kawah yang curam itu. Batu itu telah berpindah tempat hanya dalam hitungan detik. Dari mulanya di atas puncak yang penuh pesona ini, sampai terjatuh ke dalam kawah yang mematikan.

Mungkin kita juga akan demikian, bila bahasa kepedulian telah meniada dalam kamus kehidupan kita. Acuh terhadap terhadap segala keburukkan yang mengusik nurani. Maka bukan tidak mungkin, nasib kita bisa menjadi seperti batu itu. Terjatuh, karena diri ini terus memilih diam terhadap kemungkaran.


8 comments:

  1. Cadas dan bernapas!
    Sayang sekali waktu di Lombok tidak sempat manjat Rinjani :(

    ReplyDelete
  2. Lagi-lagi bijak, Pakcik!

    ReplyDelete
  3. Untaian kata yang menyusun kalimat dalam tulisan ini, mantap banget bg! Izin Aku ambil satu kalimat untuk dikirimkan ke sesorang ya bg! Hehehehe :D

    ReplyDelete
  4. hiks.. kok jadi kisah renungan yang bikin menyayat hati sih kak Ibnu :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu tandanya kita harus segera taubat hiks....

      Delete

Powered by Blogger.