Sembilan Purnama Merawat Rindu

20:13:00

Pertama kali mendengar istri hamil, saya bahagia sekali. Saat itu menjelang subuh, istri saya berbinar-binar saat mengatakan dua garis sebagai penanda itu  menyala. Saya memeluknya.  kami larut dalam kebahagiaan. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur Allah menjawab doa kami ini di usia pernikahan yang beranjak 9 bulan. Dua garis itu memberikan berlapis kebahagian bagi saya, karena  menandakan saya akan segera menjadi ayah.

Pagi itu, sebenarnya kami berencana pergi ke Bandung dan Jakarta. Saya ingin membawa istri pergi melihat suasana kota yang baru. Ini adalah impiannya yang ia simpan diam-diam. Istri memang tak pernah pergi terlalu jauh. Penantian yang panjang akan kabar hamil ini, juga menjadi perhatian saya. Maka saya pikir, tak ada salahnya saya ajak ia untuk melihat sisi indah kehidupan yang lain.

Namun, karena mendengar bahwa dirinya hamil. Saya pun menjadi suami siaga. Di Bandung kami tidak banyak jalan. Begitu pula saat di Jakarta. Istri lebih banyak menghabiskan waktunya istirahat di hotel. Kondisi kandungannya membuat ia bedrest. Apa boleh buat, rencana perjalanan pun segera direvisi.

Sesampainya di Aceh, saya segera membawa istri ke dokter. Ternyata kehamilannya sudah memasuki usia 6 minggu. Trisemester pertama inilah yang membuat saya harus lebih siaga. Pada kondisi seperti ini, istri memang tak boleh lelah. Kesehatannya harus dijaga. Begitulah pesan dokter yang kemudian mengubah rutinitas hidup kami.

Hari-hari kehamilan ini adalah hari yang penuh perjuangan bagi istri. Tubuhnya melemah, ia kerap muntah, belum lagi pusing menjelang malam dan pagi. Semua hal yang dialaminya itu membuat saya merenung. Ternyata beginilah perjuangan ibu kita dulu saat mengandung.

Pernah suatu kali, istri menangis. Sontak saya terkejut. Saya kira ia kesakitan, tapi ternyata ia teringat ibunya di rumah. Terbayang bagaimana hari-hari yang penuh berat ini dilalui ibunya saat mengandung dulu.

Meskipun demikian, kami tidak ingin terlalu larut dalam keletihan. Hari-hari kehamilan ini justru menjadi romantisme baru dalam hidup kami. Seperti saat memilih nama-nama yang memiliki makna untuk disematkan pada anak kami nanti. Atau saat harus terbangun di malam hari, karena istri merasa lapar. Belum lagi keinginan-keinginannya untuk makan sesuatu, namun begitu  tiba justru ia hanya makan sedikit. Dan saya yang menyelesaikan sisanya.

Bagi saya, hal-hal seperti ini saya jalani sepenuh hati. Karena saya menganggapnya Allah sedang melatih saya. Untuk menjadi sabar dan peduli. Agar saya menjadi pribadi yang lebih siap saat dititipkan amanah baru nantinya.

Ya, menjadi ayah adalah episode baru yang akan saya lalui. Saya tak tahu harus memulainya dari mana. Tapi membanyangkannya saja sudah menghadirkan kebahagiaan tersendiri.

Saya memahami, perjuangan ini masih panjang. Tanggal 12 bulan 12 adalah prediksi paling lambat hari kelahiran itu. Maka yang bisa saya lakukan adalah, meringankan beban istri dengan mengambil alih segala pekerjaan rumah tangga. Memastikan kondisinya tetap sehat. Dan tentu saja, terus berdoa semoga bayi dalam kandungan sehat dan istri serta bayi kami ini selamat sampai hari kelahiran itu tiba.

Setiap harinya, kami terus menimbun rindu pada Sembilan Purnama. Yaitu, hari saat Allah karuniakan amanah cinta ini untuk melengkapi keluarga kecil kami. Aamiin ya Allah...






No comments:

Powered by Blogger.