90 Saman Sebelum 10001 Saman, Pesan Konservasi dari USAID Lestari

22:25:00
 

Di bawah guyuran hujan 90 penari Saman mengehentak Taman Sari. Gerakkannya harmonis. Syairnya penuh makna. Dalam semua artikulasi itu, diam-diam tersyiarkan pesan Konservasi.

Menjelang magrib angin kencang serta langit yang mendung menggeluti langit Banda Aceh. Melihat cuaca yang tak menentu ini maka bersama istri, saya pun bergegas ke Taman Sari. Karena malam ini kami akan menyaksikan malam puncak Pra Event Tari Saman 10001 yang dilaksanakan oleh USAID Lestari. Rencananya, 90 penari Saman dari komunitas, anak sekolah serta masyarakat umum akan tampil flashmob menghentak Taman Baitussalatin ini.



Selepas Isya apa yang saya khawatirkan tiba juga. Hujan turun dengan derasnya. Para pengunjung pun berlarian mencari tempat berteduh. Saya melirik arloji, jam sudah menujukkan pukul 21:45 WIB. Artinya sudah lebih satu jam kami berteduh. Jika menurut rundown acara, inilah saatnya 90 penari saman tersebut tampil.

Tapi langit masih terus mengguyur. Namun menariknya para pengunjung di Taman Sari tetap kukuh berteduh. Seperti saya, mereka tak akan pulang sebelum menyaksikan penampilan 90 penari Saman tersebut.

Pukul 22:20 WIB, panitia tampaknya tak bisa menunda lagi. Saat hujan mulai tampak mereda, sembilan penari Saman lengkap dengan pakaian adat Gayo Lues naik ke atas panggung. Sontak, para pengunjung bertepuk tangan. Mereka pun satu persatu keluar dari tenda dan menyemut di depan panggung.
Menari di bawah guyuran hujan

Syair-syair yang penuh makna pun menggema di Taman Sari, membakar semangat pengunjung yang sedari tadi kedinginan.

La ila ilaila he wase u he inhala
E inhala meutu a eu ila lailalahe
Taja kumbang haila puteh eh inhala
Taja kumbang haina puteh he inhala
Hai jaka, tu mile le mile
Jala tu la jala, tu mile la mile hey jala tun

Saat itulah, 90 penari Saman dengan pakaian bebas keluar dari sisi panggung. Tepuk tangan kian gemuruh. Lalu hanya dalam hitungan detik, para penari yang berasal dari berbagai latar belakang itu menjadi seirama dan serentak. Mereka menari dan melafalkan syair penuh makna itu dengan semangat. Saya berdecak kagum, karena semua yang mulanya tampak tidak teratur itu tiba-tiba menjadi begitu harmonis.
90 penari Saman tampil flashmob


Jujur saya merinding saat syair berhenti diucapkan tapi mereka tetap terus bergerak dengan penuh keteraturan. Menepuk-nepuk dada,paha lalu kembali mensedekapkan tangan sambil meneriakkan “Saman Pengawal Leuser 2017”.

Suara tepuk tangan kembali gemuruh. Hanya 15 menit. Tapi penampilan tersebut sudah cukup membuat pengunjung berkesan. Penantian di bawah guyur hujan benar-benar terbayar lunas dengan penampilan memukau tersebut.

Event dengan tema Merawat Tradisi Melalui Konservasi ini memang membawa pesan penting. Seperti yang diungkapkan Ampoen Yan dalam diskusi tentang Saman pada sore harinya di tempat yang sama.

“Saman bukan sekadar sebuah artikulasi seni yang indah, tapi  juga menyimpan pesan subjektif yang penting,” ujarnya.  

Menurut Ampon Yan, setidaknya ada tiga struktur penting dalam Saman yaitu pujaan pada Tuhan yang Maha Esa, Syiar termasuk pesan menjaga alam, serta atraktif.

“Maka kita tidak cukup hanya bangga pada Saman, tapi juga harus peduli dengan kelestariannya,” tegasnya.
Ampon Yan dan Rajabahri mengisi diskusi Saman pada sore harinya

Maka wajar saja kalau Marcopolo pun terkagum-kagum dengan tarian yang diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda ini. Rajabahari yang turut menjadi pemateri pada diskusi sore itu, pun bercerita, bahwa semua keteraturan dalam tarian Saman ini kuncinya adalah karena semua penari Saman mengerti bagaimana mengharmonisasikan tarian dengan gerakan.

“Ini juga sama maknanya jika kita ingin buka kebun, maka harus di tempat yang benar. Jika tidak demikian ya rusaklah alam ini,” ungkap lelaki yang telah menari Saman sejak tahun 1975 ini.

Konsep Acara yang Menarik

Sebuah aspresiasi saya tehadap AK Production yang telah mengkonsep acara ini dengan baik. Saya yakin, acara yang melibatkan berbagai komunitas ini telah AK Production rencanakan secara matang. Tak seperti acara kebanyakan, pada event Saman Mengawal Leuser ini suasananya dibuat serasa di alam. Setiap stand komunitas berdiri tenda-tenda dome. Lagu-lagu yang diputar juga memiliki pesan konservasi, termasuk suara kicau burung yang merdu. Maka berada di Taman Sari hari itu, kita seolah terjebak dalam miniatur Leuser.

Acara ini sendiri telah di mulai sejak sore hari. Mulai dari dari diskusi serta lomba mewarnai untuk anak-anak. Saya kagum saat menyaksikan anak-anak ini mewarnai empat satwa kunci Leuser: Badak, Harimau, Gajah serta Orangutan. Setiap satwa tersebut mereka warnai sesuai pilihan warna catnya sendiri.

Seorang anak memperhatikan cat yang dibagikan untuknya

 Diam-diam saya pun membayangkan, beginilah mereka nanti ketika tumbuh besar. Merekalah yang berperan mewarnai ekosistem Leuser. Akan seperti apa masa depan Leuser nantinya, sangat bergantung bagaimana kita mendidik mereka saat ini.
Warnai Satwamu!

 Sementara jauh hari sebelumnya, panitia telah menggelar lomba blog, foto serta video dengan tema yang sama yaitu konservasi. Foto-foto tersebut turut ditampilkan di hadapan pengunjung. Mereka juga bisa menikmati pameran ini sambil menyeruput kopi khas Aceh  yang dibagikan secara gratis.  Kopi ini pun tergolong istemewa, karena diseduh secara manual oleh para Barista.

Sepasang Pengunjung Menanti hujan reda di depan panggung
Ya, malam itu saya pun mendapatkan semangat baru. Menyaksikan Saman telah memberikan kesadaran baru bagi saya, khususnya bagaimana pentingnya konservasi untuk kelangsungan hidup kita.  Saya pun membayangkan, jika 90 orang penari Saman seperti ini saja sudah cukup membakar emosi apalagi dengan 10001 Saman pada 13 Agustus di Gayo Lues nanti?

Maka ini bukan sekadar event untuk memecah rekor tarian Saman sebelumnya. Ini adalah kegiatan yang memiliki pesan, agar kita memiliki kesadaran kolektif tentang konservasi.






Foto-foto lainnya:
Anak-anak peserta lomba mewarnai menunjukkan kaos sebelum mereka mewarnainya
Seorang Barista Menyeduh Kopi secara Manual



Gam Inong Blogger, Salah satu komunitas yang turut berpartisipasi dalam event ini.
Seorang pengunjung menyaksikan pameran foto
Terus menari meskipun hujan
  

12 comments:

  1. Maka ini bukan sekadar event untuk memecah rekor tarian Saman sebelumnya. Ini adalah kegiatan yang memiliki pesan, agar kita memiliki kesadaran kolektif tentang konservasi. Nice.

    ReplyDelete
  2. Berawal dari Saman, kita lestarikan hutan dunia.

    ReplyDelete
  3. Suka x dengan konsep acaranya, serasa lagi camping di leuser, apalagi pas turun hujan. Tapi gak sempat nonton saman.. Hihi
    Semoga dengan acaranya ini, kita semakin mengenal hutan dan tau cara menjaganya

    ReplyDelete
  4. Liputannya luar biasa bang, udah bisa di jadikan reporter untuk media nasional ne. :D

    Konsep pra saman benar beda ya, nggak sama dengan pameran lainnya yang terlalu menoton. Ini kreatif banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha... media sosial sajalah kita
      Ya, lain dari yang lain. Keren!

      Delete
  5. Hujan tidak menghalangi jalannya acara, 90 penari seakan lupa bahwa guyuran hujan tak memudarkan penampilan mereka di atas panggung.

    ReplyDelete
  6. Mereka adalah orang-orang yang setia

    ReplyDelete

Powered by Blogger.