Tenda Dome dan Cerita yang Akan Kita Ulang

01:44:00
Suatu pagi di tebing Gunung Sumbing

Kemarin, salah satu hal unik saat event Pra Saman Mengawal Leuser di Taman Sari adalah stand komunitasnya berbentuk tenda dome. Posisinya pun tidak teratur. Maka kesannya benar-benar serasa di alam bebas. 

Saat itu pula, untuk pertama kalinya istri masuk ke tenda dome. Selama ini ia hanya menyaksikan tenda tersebut dalam foto-foto perjalanan saya. Tak pernah tahu bagaiamana sensasinya jika kita tertidur pulas di dalamnya saat berada di lereng gunung.
Atau melamun di dalam sambil menanti hujan mereda. Semua sensasi tersebut hanya sampai sebatas imajinasinya. Maka kemarin, saya menyuruhnya untuk masuk ke salah satu tenda dome. Sementara saya menanti di luar.

Begitu keluar dari tenda istri hanya tersenyum. Tak sepatah kata pun keluar. Namun begitu sampai di rumah, barulah ia buka suara.

“Ternyata di dalam luas ya, adek suka,” ungkapnya.

Ternyata Ia sengaja menyimpan perasaan senangnya itu hingga kami tiba di rumah. Sepanjang jalan pulang ia merahasiakannya. Saya pun tersenyum mengetahuinya.

Jika bagi istri tenda dome itu terasa begitu istimewa. Begitu pula dengan saya, karena tenda tersebut mengingatkan cerita lain tentang sebuah perjalanan yang mengesankan. Ada begitu banyak cerita menarik, salah satunya adalah saat mendaki gunung Cikuray penghujung 2013 silam.
Menikmati makan siang di bawah tenda dome
Pukul lima sore saya mulai menanjak, lalu saat masuk hutan hujan mulai turun. Saya menggigil. Tapi saya harus tetap bergerak agar tubuh tetap hangat. Langit pun semakin gelap dan hujan terus mengguyur jalur tracking.

Siapapun yang pernah mendaki Cikuray pasti tahu, betapa terjalnya track menujuk puncak. Jalannya terus menanjak. Maka ketika hujan turun, jalan semakin licin. Saya memegang akar-akar pohon untuk menguatkan langkah.

Sepanjang perjalanan itu hujan terus turun dengan lebatnya. Kami sampai di pos terkahir pada pukul Sembilan malam. Tanpa basa-basi, bersama Adi teman perjalanan saya ketika itu langsung mendirikan tenda dome.

Sialnya! Tenda dome kami terlalu kecil dan bocor pula. Sementara tubuh saya sudah semakin menggigil. Tapi sudah tak ada pilihan. Begitu tenda selesai didirikan dengan segera kami membungkus diri dengan sleeping bag.  Saya berupaya untuk tidur sambil mendengarkan suara air hujan yang menghantam tenda dome kami. Saya pun sudah tak sadarkan diri saat air hujan menetes di kaki. Delapan jam perjalanan dengan diguyur hujan, sudah cukup membuat Tubuh saya mati rasa.

Tiba-tiba saja, saat memperhatikan tenda dome di Taman Sari kemarin itu, segala cerita perjalanan saat bermalam di gunung itu hadir. Belum lagi kenangan saat menikmati teh hangat  di dalam tenda sambil menikmati pagi yang dingin.

Ada banyak cerita, namun semuanya terhenti dalam sebuah kesimpulan. Bahwa saya sangat bersyukur pernah menapaki perjalanan seperti itu. Saat hidup terasa begitu menenangkan. Saat semua cerita sederhana menjadi istimewa karena kita mengabarkannya di bawah tenda.
Lagi-lagi bersama Adi di Pasar Bubrah, Gunung Merapi

Entahlah, tapi terkadang saya merindukan masa-masa itu. Jika hujan turun lebat saya teringat ketika menggigil di dalam tenda. Menikmati irama hujan yang berpadu dengan alam.

Maka saya pun bertekad, suatu saat nanti, bersama istri dan anak kami kelak. Saya akan mengulang cerita itu kembali. Membawa mereka menikmati alam bebas sambil bercerita di bawah tenda dome.
Sebuah impian, yang diam-diam terus mendengung dalam hati saya. Mudah-mudahan….

Darussalam, 7 Agustus 2017

Pukul 15:26 WIB. 

No comments:

Powered by Blogger.