Banyak Cara Bersedekah di Masjidil Haram

21:32:00

Masjidil Haram berada di Tanah yang Mulia. Di tempat inilah, sebagai muslim kita melaksanakan rangkaian ibadah haji yang kemudian menyempurnakan keislaman kita. Maka Tanah Suci ini adalah tempat yang paling dirindukan oleh umat muslim seluruh penjuru dunia. Setiap harinya orang berduyun-duyun datang untuk menunaikan ibadah di tempat berdirinya kabah ini.

Setibanya di Tanah Al Haram ini mereka melakukan ibadah semaksimal mungkin. Mulai dari memperbanyak salat sunnah, membaca al quran dan bersedekah.

Nah, selama hampir sepekan di Masjidil Haram saya pun menyaksikan ada begitu banyak cara orang dalam bersedekah. Selama ini, lazimnya kita pahami orang-orang bersedekah dengan uang atau pun makanan.

Namun di Masjidil Haram, banyak orang bersedekah dengan cara yang unik. Terkadang sedekah yang mereka berikan adalah hal-hal yang sederhana tapi sangat bermanfaat bagi orang lain.


Al Haram selepas Zuhur

Seperti yang saya saksikan ketika menjelang Jumat di lokasi tawaf. Saat itu cuaca Mekkah cukup panas. Suhunya mencapai 34 °C. Saya sendiri sampai tak sadar kalau tubuh sudah basah bermandikan keringat. Dalam kondisi yang terik itulah orang-orang melakukan tawaf.

Lalu di sana ada seorang lelaki berkulit hitam yang membagikan tisu secara cuma-cuma. Ia berdiri sambil menggenggam kotak tisu. Sepintas apa yang diberikannya cukup sederhana. Hanya selembar-dua lembar tisu. Tapi bagi orang lain justru sangat bermanfaat untuk menyeka keringat mereka. Saya pun turut mengambil tisu yang diberikannya.

Selain itu, masih di depan Kabah, ada orang yang bersedekah dengan cara yang lebih unik lagi. Yaitu dengan menyemprotkan spray dari botol ke wajah orang lain. Lelaki tersebut berdiri dengan menggunakan payung di tepi lintasan tawaf.

 Jika ada orang yang melintas di hadapannya, ia pun menyemprotkan spray tersebut ke wajah orang yang melewatinya itu. Perilakunya memang terlihat ganjil di tengah kerumunan orang bertawaf. Caranya menyemprotkan spray juga seperti anak-anak yang sedang bermain. Ia tidak peduli apakah orang berkenan ataupun tidak diperlakukannya demikian.

Namun di situlah menariknya, orang-orang yang disemprotnya itu tidak ada yang marah. Mereka seolah pasrah saat wajahnya basah dipercikan air. Mereka secara sengaja menghadapkan wajahnya sambil memicingkan mata.

Mungkin karena cuaca yang cukup panas, maka mereka menikmati percikan air tersebut untuk menyejukkan wajahnya.

Sedekah tisu di Masjidil Haram

Orang-orang yang bersedekah dengan uang atau makanan juga ada. Di pelataran Masjidil Haram saya juga pernah menyaksikan seorang perempuan Turki membagi-bagikan Riyal kepada petugas Cleaning Service. Ia duduk di atas krusi lalu para petugas tersebut mengantri di belakangnya.
Jumlah yang ia berikan tak banyak, setiap orang hanya mendapatkan dua Riyal. Namun petugas tersebut tetap mengantri untuk menerima pemberiannya.

Jamaah asal Pakistan lebih menarik lagi. Mereka sengaja membawa cerek berisikan cay panas serta kurma dan roti. Selepas salat Magrib mereka membentangkan sajadah. Bak sedang piknik, mereka menuangkan cay panas ke dalam cangkir pelastik lalu membagikannya kepada jamaah lain.

Tak cukup hanya itu, seorang lelaki lainnya dengan sengaja berkeliling untuk membagikannya cay panas tersebut. Ia menuangkannya dengan penuh keramahan. Seolah orang-orang yang diberikannya adalah teman karibnya. Untuk cay panas ini, saya hanya sekali mencicipinya sebab terasa lain pedasnya di lidah.

Anak-anak pun cukup antusias dalam bersedekah. Mereka menenteng pelastik kecil berisikan kurma. Lalu berkeliling sambil membagikan makanan tersebut kepada jamaah lain. Setiap orang hanya mendapat dua sampai tiga butir kurma. Karena yang membagikannya adalah anak-anak, maka orang yang menerimanya pun terasa istimewa. Tak jarang mereka mengecup kening anak tersebut sebagai wujud terima kasih.

Sementara orang tuanya terlihat mengawasi dari jauh. Tampaknya orang tua mereka sengaja mendidik  anak-anaknya ini untuk gemar berbagi.

Bersedekah di Masjidil Haram memang tak harus punya uang atau makanan terlebih dahulu. Kita juga bisa melakukan hal yang bermanfaat lainnya.

Menjelang Berbuka Puasa, ada saja yang bersedekah kurma

Misalnya, memberikan air zam-zam kepada orang lain. Pemandangan seperti ini juga lazim di Masjidil Haram. Orang-orang dengan sengaja menuangkan air zam-zam ke dalam gelas pelastik. Lalu berkeliling membagikannya kepada orang lain yang posisi agak sulit jika harus mengambil langsung ke galon-galon air zam-zam di lingkungan Masjidil Haram.

Cara bersedekah seperti ini juga memberikan efek lain. Orang-orang yang sudah mendapatkan air zam-zam, secara tak langsung termotivasi untuk membantu orang lain.

Terkadang, ada orang yang sengaja menolak pemberian air zam-zam tersebut. Ia ikhlas menyerahkan haknya itu untuk diberikan kepada teman di sebelahnya. Setelah itu terjalinlah komunikasi yang mengakrabkan dua orang yang awalnya tak saling kenal ini. Sebuah pemandangan yang cukup menyejukkan mata.

Siapa yang menduga, berawal dari segelas kecil air zam-zam akhirnya bisa mengeratkan silaturrahim dua orang muslim yang tak saling kenal.

Berbagi Air Zam-Zam

Begitulah, di Masjidil Haram saya menyaksikan ada banyak cara orang bersedekah. Dengan cara-cara yang unik dan mungkin tak pernah terlintas di benak kita. Di tempat ini, siapapun bisa melakukannya dan kita tidak harus punya uang atau makanan terlebih dahulu.

Kita bisa melakukan hal lain yang bermanfaat. Membantu orang-orang dengan cara-cara yang sederhana. Semua ini setidaknya menjelaskan, bahwa bersedekah hanyalah persoalan niat. Jika kita benar-benar berniat ingin memberi maka caranya bisa apa saja. Tidak harus hal-hal besar asalkan kita memberikannya dengan hati yang tulus. Insya Allah, sesederhana apapun yang kita berikan akan bermanfaat bagi orang lain.

Serangkaian potret cara orang bersedekah di Masjidil Haram ini, juga menyadarkan satu hal sederhana dalam diri saya. Bahwa yang kita miliki memang tak banyak, tapi sejatinya kita punya banyak alasan untuk memberi.


Ibnu Syahri Ramadhan, melaporkan dari Mekkah, Arab Saudi. 

*Tulisan ini telah dimuat di Harian Serambi Indonesia edisi Senin, 7 Mei 2018

4 comments:

  1. hal yang sederhana dapat menjadi sumber untuk bersedekah ya, tinggal niat kita saja kok

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, kalau memang udah niat, ada saja jalan hehe

      Delete
  2. Merinding bacanya.. Ini bikin aku ga sabar utk bisa ke tanah suci october ini..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga Allah lancarkan perjalanannya nanti Mbak :)

      Delete

Powered by Blogger.